Menuju konten utama

BPS Catat 58,4 Persen Pekerja Ekonomi Kreatif Adalah Perempuan

Amalia turut menyampaikan bahwa sektor ekraf tumbuh sebesar 6,86 persen pada 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.

BPS Catat 58,4 Persen Pekerja Ekonomi Kreatif Adalah Perempuan
Acara Sensus Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan oleh Kemenkraf bersama BPS, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026). FOTO/Khaila Adinda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menyatakan sektor ekonomi kreatif (ekraf) telah menyerap sebanyak 27,47 juta pekerja atau 18,7 persen penduduk Indonesia pada 2025. Kemudian, lebih dari 50 persen penduduk yang bekerja di sektor ekraf adalah perempuan.

“Kalau kita lihat tadi juga disampaikan oleh kami mayoritas memang pekerja ekonomi kreatif adalah perempuan. Lebih dari 50 persen atau kalau itu sekitar 58,4 persen dari penduduk bekerja di sektor ekonomi kreatif adalah perempuan,” ungkap Amalia dalam konferensi pers seusai acara Sensus Ekonomi Kreatif yang diselenggarakan oleh Kemenkraf bersama BPS, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2026).

Amalia turut menyampaikan bahwa sektor ekraf tumbuh sebesar 6,86 persen pada 2025, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen. Secara nominal, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) ekraf berada di besaran Rp1.757,87 triliun.

“Nilai PDB ekonomi kreatif terus mengalami peningkatan hingga pada tahun 2025 mencapai 1.757,87 triliun rupiah. Dan kontribusi ekonomi kreatif terhadap ekonomi Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Di tahun 2025 pertumbuhan ekonomi dari ekonomi kreatif mencapai 6,86 persen,” kata Amalia.

Di kesempatan yang sama, Menteri Ekonomi Kreatif (Menkraf), Teuku Riefky Harsya, memperkuat ungkapan tersebut. Menurut politikus Partai Demokrat ini, inklusivitas ekraf berbeda dengan sektor ekstraktif seperti pertambangan yang dampak ekonominya dinilai hanya mengalir ke perusahaan.

“Ini inklusif, artinya begini, kalau ini mohon maaf kalau pertambangan biasanya mungkin dampak ekonominya hanya ke perusahaannya saja, ke masyarakat sekitarnya kurang. Kalau ini padat karya keterlibatan dari jumlah tenaga kerjanya sangat besar. Yang kedua inklusif, mayoritas (pekerja) adalah perempuan,” jabar Menkraf.

Lebih lanjut, dalam paparan tersebut dapat dilihat bahwa dari sisi sebaran, 75 persen pekerja ekraf berada di perkotaan dan 25 persen di pedesaan.

Secara provinsi, Jawa Barat menjadi penyerap tenaga kerja ekraf terbesar, diikuti Jawa Tengah dan Jawa Timur ketiganya menyumbang 57,81 persen dari total pekerja ekraf nasional.

Jika dilihat berdasarkan generasi, sebanyak 36,63 persen pekerja ekraf adalah generasi milenial, disusul Gen X 27,94 persen dan Gen Z dengan besaran 26,40 persen. Dengan persebaran subsektor aplikasi dan game developer serta arsitektur dan desain, lebih dari 70 hingga 80 persen pekerjanya adalah Gen Z serta milenial.

Data-data tersebut menjadi latar belakang mengapa BPS bersama Kemenkraf melibatkan sektor ekraf dalam agenda Sensus Ekonomi 2026.

“Data tentang ekonomi kreatif Indonesia semakin jelas sehingga kolaborasi antara pemerintah, asosiasi, akademisi, pegiatnya, kemudian mungkin untuk akses pendanaan termasuk untuk mendapatkan kredit subsektor mana yang lagi sedang berkembang, subsektor mana yang musti diselamatkan, subsektor mana yang stagnan itu juga kita bisa lihat sama-sama,” harap Menkraf.

Baca juga artikel terkait BPS atau tulisan lainnya dari Khaila Adinda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khaila Adinda
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Andrian Pratama Taher