Menuju konten utama

Kumpulan Materi Kajian Ramadhan 2025 Berbagai Tema

Kumpulan materi kajian Ramadhan 2025 berbagai tema bisa menjadi panduan dalam menyelenggarakan acara selama Ramadhan. 

Kumpulan Materi Kajian Ramadhan 2025 Berbagai Tema
Ilustrasi berdoa. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Kumpulan materi kajian Ramadhan 2025 berbagai tema mencakup cara menjalin solidaritas antar sesama hingga jalan menuju keberkahan.

Ramadhan termasuk bulan penuh berkah. Bulan suci tak hanya diisi dengan ibadah puasa saja, melainkan shalat tarawih, membaca al-Qur'an, hingga memperbanyak sedekah.

Selain itu, Ramadhan juga menjadi momen refleksi diri, memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia, serta memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu tradisi yang kerap dilakukan selama Ramadhan adalah mengikuti kajian keislaman. Kajian menjadi sarana umat Muslim dalam menambah wawasan dan memperdalam pemahaman agama. Berbagai tema menarik bisa menjadi bahan kajian selama Ramadhan 2025.

Kumpulan Materi Kajian Ramadhan 2025 Berbagai Tema

Kumpulan materi kajian Ramadhan 2025 berbagai tema bisa menjadi pilihan menarik dalam rangka mengisi kegiatan selama bulan suci.

Berikut ini rangkaian kumpulan materi kajian Ramadhan 2025 berbagai tema dilengkapi dengan penjelasannya:

1. Menjalin Solidaritas Antar Sesama di Bulan Ramadhan

Ibadah yang baik adalah selain memiliki dampak positif bagi diri pribadi, juga mempunyai pengaruh bagi lingkungan sekitar. Apalagi selama bulan puasa Ramadhan yang memiliki dampak sosial tinggi jika betul-betul dipahami.

Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda:“Siapa yang memberi makanan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang puasa tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala orang puasa tersebut,” (HR at-Tirmidzi).

Hadits tersebut memacu semangat untuk saling berbagai terhadap sesama tanpa memandang kelas sosial masing-masing. Selama ini, umat bisa jadi lebih sering merasa senang ketika mendapat undangan buka puasa bersama di rumah teman atau keluarga.

Namun, sudah saatnya mengubah cara berpikir agar tidak hanya menjadi penerima undangan, tetapi juga berperan sebagai tuan rumah yang mengundang orang lain untuk berbuka bersama.

Jika belum mampu memberikan dalam jumlah besar, setidaknya bisa berbagi takjil sederhana kepada sahabat. Lebih dari itu, puasa mendidik untuk memiliki empati kepada sesama Muslim serta semua manusia tanpa memandang latar belakang agama.

Jika umat benar-benar mengamalkan hadis Nabi, bukan tidak mungkin angka kemiskinan perlahan akan menurun. Semakin luas manfaat ibadah bagi orang lain, semakin besar pula pahala yang bakal diperoleh umat.

Ilustrasi Ramadhan 2025

Ilustrasi Ramadhan 2025. FOTO/iStockphoto

2. Definisi Jahiliyah: Menolak Berpikir Kritis

Dalam konteks kehidupan modern, surah Saba' ayat 46 mengandung pesan penting tentang pentingnya berpikir kritis dan tidak menerima sesuatu hanya karena warisan budaya atau tekanan sosial.

Orang jahiliyah menolak untuk mempertimbangkan ajaran Rasulullah karena bertentangan dengan kebiasaan nenek moyang. Saat ini, banyak yang cenderung hanya mengikuti tren, opini mayoritas, dan informasi yang belum terverifikasi tanpa analisis mendalam.

Fenomena terlihat dalam penyebaran berita hoaks, propaganda, dan ajakan-ajakan yang dikemas seolah sebagai kebenaran. Islam menekankan pentingnya untuk selalu menggunakan akal dalam menimbang perkara yang benar dan yang salah. Bukan hanya sekedar mengikuti arus atau menerima sesuatu karena banyak yang melakukan.

Prinsip "Al-Ightirar bil Aktsar" atau "tertipu oleh kebanyakan" masih relevan hingga kini. Banyak orang menilai kebenaran berdasarkan jumlah pengikut atau popularitas suatu gagasan. Padahal, kebenaran dalam Islam tidak selalu berada di pihak mayoritas.

3. Refleksi Diri melalui Tadabbur Al-Qur’an

Sejarah mencatat generasi awal Islam berhasil menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan kehidupan serta membangun peradaban yang berkeadilan dan berilmu. Namun, generasi berikutnya menghadapi tantangan dalam mempertahankan esensi interaksi yang benar.

Dalam konteks saat ini, tantangan tersebut semakin nyata. Umat banyak yang menghormati Al-Qur’an secara simbolik. Mereka belum mampu menerapkan nilai-nilai dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Kebangkitan umat Islam hanya dapat terjadi jika Al-Qur’an menjadi sumber petunjuk utama. Tidak hanya aspek ibadah, tetapi juga membangun masyarakat yang berkeadilan, inklusif, dan beradab.

Al-Qur’an sebagai landasan berpikir dan bertindak niscaya dapat membuat umat Islam keluar dari berbagai masalah. Sebagaimana firman Allah Swt. melalui surah Al-An’aam ayat 155 yang menegaskan bahwa keberkahan hanya dapat diraih dengan mengikuti dan mengamalkan ajaran-Nya.

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ ۝١٥٥

wa hâdzâ kitâbun anzalnâhu mubârakun fattabi‘ûhu wattaqû la‘allakum tur-ḫamûn

Artinya:"(Al-Qur’an) ini adalah Kitab yang Kami turunkan lagi diberkahi. Maka, ikutilah dan bertakwalah agar kamu dirahmati,".

4. Jalan Menuju Keberkahan

Dua hal utama yang menjadi kunci keberkahan adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Semakin kuat iman dan takwa, semakin besar pula keberkahan yang dilimpahkan Allah Swt. kepada umat-Nya.

Keimanan bukan hanya tampak dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Baik dalam kondisi lapang maupun sempit serta kesendirian dan di tengah keramaian.

Dalam dunia yang semakin dinamis, menjaga ketakwaan berarti tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Islam meskipun arus globalisasi dan perubahan sosial terus menggempur.

Allah Swt. telah menegaskan dalam Al-Qur’an surah Ali 'Imran ayat 102 bahwa orang-orang beriman harus bertaqwa dengan sebenar-benarnya dan tetap dalam Islam hingga akhir hayat.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢

yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha ḫaqqa tuqâtihî wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn

Artinya:"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim,".

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2025 atau tulisan lainnya dari Satrio Dwi Haryono

tirto.id - Edusains
Kontributor: Satrio Dwi Haryono
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Beni Jo & Fitra Firdaus