Menuju konten utama

Kumpulan Kabar Perang Iran Hari ke-70: Ada Insiden Saling Serang

Kabar perang Iran hari ini menunjukkan Iran dan Amerika Serikat unjuk gigi dengan saling melakukan perlawanan. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

Kumpulan Kabar Perang Iran Hari ke-70: Ada Insiden Saling Serang
Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Sepanews, pada 17 Februari 2026 ini menunjukkan sebuah roket yang ditembakkan selama latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut di Selat Hormuz.AFP/ SEPAH NEWS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel telah memasuki hari ke-70 pada Jumat (8/5/2026). Eskalasi konflik memanas setelah militer kedua pihak terlibat insiden saling serang di dekat Selat Hormuz. Berikut kumpulan peristiwa terkait Perang Iran-AS selama 24 jam terakhir.

Insiden saling serang antara militer AS dengan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) terjadi pada Kamis (7/5) malam hingga Jumat (8/5) di sekitar Selat Hormuz. Hal ini telah memicu kekhawatiran akan melemahnya kesepakatan gencatan senjata.

Bentrokan tersebut juga dilaporkan telah meluas ke Uni Emirat Arab (UEA). Menukil Anadolu, Kementerian Pertahanan UEA menyebut bahwa sistem pertahanan udara mereka telah “terlibat secara aktif” untuk mencegat serangan rudal dan drone pada Jumat.

Serangan ke UEA ini telah membuat Presiden Prancis Emmanuel Macron berkontak dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk mengutuk serangan. Macron menyebut serangan terhadap infrastruktur sipil dan kapal UEA di Selat Hormuz “tidak dapat dibenarkan”.

Sementara itu, dalam keterangan pada Kamis, Pusat Komando AS (CENTCOM) menyebut bahwa mereka telah menyerang fasilitas militer Iran di pesisir pada Kamis. Mereka mengeklaim serangan itu sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal tempur mereka sebelumnya.

“Pasukan Iran meluncurkan beberapa rudal, drone, dan kapal kecil ketika USS Truxtun (DDG 103), USS Rafael Peralta (DDG 115), dan USS Mason (DDG 87) melintasi jalur laut internasional,” bunyi keterangan CENTCOM.

Militer AS kemudian menyebut telah menyerang fasilitas militer Iran “yang bertanggung jawab” atas penargetan kapal tempur AS. Serangan itu disebut menargetkan “lokasi peluncuran rudal dan drone”, “lokasi komando dan kendali”, dan “simpul intelijen, pengawasan, dan pengintaian”.

Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, menuliskan sejumlah lokasi yang belum teridentifikasi di dekat Kota Bandar Abbas mengalami “beberapa ledakan”. “Baku tembak” juga dilaporkan terjadi selama periode waktu tersebut.

Sementara itu, media Tasnim melaporkan adanya ledakan di dekat Pulau Qeshm dan Bandar Abbas. Media milik Pemerintah Iran ini menyebut ledakan itu terkait dengan operasi Angkatan Laut IRGC untuk menghalau kapal yang melakukan “pelayaran tidak sah melalui Selat Hormuz”.

Meskipun AS mengklaim serangan mereka sebagai “serangan untuk membela diri”, namun Pemerintah Iran mengklaim bahwa AS telah melakukan pelanggaran gencatan senjata. Teheran juga menyebut bahwa mereka telah melancarkan serangan balasan dan menyatakan situasi kini telah terkendali.

Seturut Al Jazeera, pelanggaran yang diklaim Iran telah dilakukan AS itu merupakan tuduhan bahwa AS telah menyerang dua kapal Iran di dekat Selat Hormuz. AS juga dituduh Iran telah melakukan serangan terhadap wilayah sipil di sepanjang pantai selatan negara tersebut.

Eskalasi ini terjadi hanya selang sehari setelah Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa pembicaraan dengan Teheran tentang kesepakatan penghentian perang berjalan “sangat baik”. Pernyataan itu dikeluarkan Trump bersamaan dengan ancaman terbaru untuk membom Iran jika Teheran menolak usulan kesepakatan damai dari AS.

Meskipun pertukaran serangan berlangsung di Hormuz, Trump kemudian menyebut bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran masih berlaku. Bentrokan di Hormuz itu disebutnya tidak berpengaruh terhadap status gencatan senjata.

Bentrokan antara IRGC dan militer AS itu juga berlangsung tak lama setelah Iran membantah bahwa mereka telah merusak kapal Korea Selatan di selat tersebut pada pekan ini. Kedutaan Teheran di Seoul menyatakan pada Kamis bahwa mereka “menolak dan secara kategoris membantah tuduhan apa pun” mengenai keterlibatan Iran dalam insiden tersebut.

Presiden Iran Bertemu Pemimpin Tertinggi

Seiring bantahan tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dilaporkan baru saja melakukan pertemuan dengan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei. Hal ini merupakan pertemuan langka semenjak Mojtaba tak kunjung menampilkan diri kepada publik sejak menjabat pada 8 April.

Pezeshkian menyebut bahwa pertemuannya dengan Mojtaba itu berlangsung dalam suasana saling percaya dan jujur. AS sebelumnya telah mengungkapkan kekhawatiran tentang perpecahan di antara pejabat senior Iran.

Sementara ketegangan kembali menguat, upaya diplomatik untuk menghentikan perang masih belum menunjukkan sinyal positif yang konkret. Belum ada perkembangan positif mengenai pertukaran proposal perdamaian terbaru antara Iran dan AS yang telah berlangsung sejak pekan lalu.

Analis Negar Mortazavi menyebut bahwa Iran tampaknya menggunakan waktu sebagai salah satu cara untuk bernegosiasi dengan Trump. Walaupun begitu, ia menyebut bahwa ada potensi Iran akan lebih melunak terhadap tuntutan AS terkait program nuklir pascaperang berlangsung.

Upaya diplomatik untuk meredakan konflik terkait Perang Iran juga tampak berlangsung di luar negara yang bermusuhan.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan telah bertemu dengan Paus Leo pada Kamis. Pertemuan ini dilakukan di tengah ketegangan antara Gedung Putih dan Vatikan.

Trump dan Paus Leo sebelumnya terlibat ketegangan setelah Trump mengkritik dan mencemooh pemimpin umat Katolik sedunia itu atas komentarnya tentang Perang Iran.

PM Netanyahu Bertekad Lanjutkan Serangan ke Lebanon

Di sisi lain, upaya penghentian serangan tak tampak terjadi di Lebanon selatan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu baru-baru ini menyatakan bahwa pihaknya akan terus melanjutkan serangan terhadap organisasi bersenjata Hizbullah di Lebanon.

Netanyahu juga menyatakan dalam keterangannya bahwa Israel bertanggung jawab atas pembunuhan komandan senior Hizbullah di baru-baru ini. Ia menyebut “tidak ada teroris yang kebal” dari serangan Israel.

Pernyataan itu dikeluarkan Netanyahu setelah serangan Israel di Kota Doueir, Haroud, Habboush di Distrik Nabatieh, Lebanon yang telah membunuh 11 orang, termasuk dua anak-anak. Selain 11 orang yang terbunuh, ada 36 orang lain yang terluka karena serangan itu.

Meningkatnya eskalasi konflik di Hormuz juga tergambar dalam pasar minyak dunia. Harga minyak mentah Brent naik hingga 7,5 persen selama perdagangan Kamis ketika bentrokan Iran-AS terjadi. Harga tersebut kemudian terkoreksi menjadi USD101 per barel pada Jumat pagi.

Tak hanya berdampak pada harga minyak dunia, ketegangan di Selat Hormuz juga telah meningkatkan kekhawatiran atas nasib awak kapal yang kini terdampak di Teluk Persia. Ketua Organisasi Maritim Internasional PBB baru-baru ini menyebut ada 1.500 kapal dan awaknya yang masih terdampar karena penutupan selat tersebut.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar