Menuju konten utama

Update Perang Iran vs AS: Trump Umumkan Setop Operasi di Hormuz

Trump menyatakan akan menghentikan sementara operasi di Selat Hormuz. AS juga mengusulkan resolusi PBB untuk menekan Iran.

Update Perang Iran vs AS: Trump Umumkan Setop Operasi di Hormuz
Kapal dan perahu di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, 20 April 2026. REUTERS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa operasi militer untuk memandu kapal komersial melewati Selat Hormuz yang ditutup Iran akan ditunda dalam “jangka waktu singkat”. Hal ini jadi update terbaru Perang Iran-AS yang pecah sejak 28 Februari lalu.

Pengumuman untuk menunda operasi militer di Selat Hormuz tersebut diungkap Trump melalui media sosialnya pada Selasa (5/5) waktu setempat. Trump menyebut bahwa penundaan ini tidak akan memengaruhi blokade AS terhadap pelabuhan Iran yang ia sebut akan tetap berlaku.

Dalam pernyataannya itu, Trump menyebut bahwa penundaan dilakukan demi memberi ruang bagi upaya penyelesaian kesepakatan penghentian perang antara AS dan Iran. Menurutnya, upaya diplomatik tersebut telah menunjukkan “kemajuan besar” dan kini telah berada di jalur menuju “kesepakatan lengkap dan final”.

Akan tetapi, seturut The Guardian, Iran sejauh ini belum memberikan keterangan resmi terkait pernyataan Trump, baik mengenai penundaan operasi di Selat Hormuz maupun klaim kemajuan upaya diplomatik.

Terkait penundaan operasi AS di Selat Hormuz, Trump menyebut bahwa hal ini ia putuskan setelah menerima “permintaan Pakistan dan negara-negara lain”. Sebelumnya, operasi ini dinyatakan efektif berlaku pada Senin (4/5), sehari sebelum ditunda.

Pengumuman penundaan operasi militer itu juga diungkap Trump tak lama setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengklaim keberhasilan operasi. Sebelum pengumuman Trump, kedua menteri tersebut baru saja membuat pernyataan publik tentang keberhasilan militer AS membuka Hormuz.

“Kita tahu Iran malu dengan fakta ini. Mereka mengatakan mereka mengendalikan selat itu. Mereka tidak,” kata Hegseth dalam konferensi pers pada Selasa.

Sementara Rubio menyebut bahwa AS sedang berupaya membuka jalur perairan Hormuz pada Selasa, menyebut bahwa hal itu dilakukan AS sebagai “bantuan kepada dunia” sembari menyebut “hanya kami yang mampu melakukannya”.

Tak sampai sehari pernyataan itu dilontarkan Rubio dan Hegseth, Trump mengumumkan penundaan operasi yang baru saja dibanggakan dua menterinya.

AS Usulkan Resolusi PBB untuk Tekan Iran

Dalam keterangannya pada Selasa, Marco Rubio menyebut bahwa pihaknya telah mengusulkan draf resolusi PBB berisi tuntutan penghentian serangan dan pemasangan ranjau di Selat Hormuz kepada Iran. Draf resolusi itu disebut tengah dibahas anggota Dewan Keamanan PBB.

Menukil The Straits Times, draf berisi tuntutan terhadap Iran itu dibuat AS bersama Bahrain, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar. Jika disahkan, penolakan Iran atas resolusi itu dapat menyebabkan sanksi terhadap Iran dan berpotensi mengizinkan penggunaan kekuatan militer negara anggota PBB.

Reuters melaporkan bahwa draf tersebut berisi pernyataan mengutuk dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Iran dan “tindakan dan ancaman berkelanjutan yang bertujuan untuk menutup, menghalangi, dan membatasi” kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz. Draf tersebut juga berisi tuntutan agar Iran segera menghentikan serangan, mengungkap lokasi ranjau apa pun, dan tidak menghalangi operasi pembersihan.

Upaya serupa sebenarnya telah diinisiasi oleh Bahrain sebulan lalu. Negara Teluk tersebut telah mengajukan usulan resolusi PBB untuk menekan Iran selama pertempuran dengan AS dan Israel berlangsung. Namun, usulan tersebut gagal disepakati setelah Rusia dan Cina memvetonya.

Kala itu, Rusia dan Cina berpendapat bahwa usulan resolusi yang dibawa Bahrain gagal melihat inti masalah dalam konflik yang pecah sejak AS dan Israel menyerang Teheran pada 28 Februari. Selain itu, draf resolusi yang diajukan juga dinilai rentan terhadap salah tafsir dan penyalahgunaan.

Kini, dengan draf terbaru yang diusulkan AS, misi Cina di PBB menyebut bahwa mereka masih dalam tahap memeriksa usulan dan belum menentukan sikap.

“Draf tersebut diedarkan kemarin sore. kami masih melakukan penilaian,” kata perwakilan misi Cina di PBB.

Sementara itu, Rubio mendesak Cina dan Rusia untuk tidak lagi menggunakan hak veto mereka dalam pembahasan usulan resolusi kali ini. Menteri Luar Negeri AS itu menyebut bahwa Beijing juga punya kepentingan agar Selat Hormuz dapat kembali dibuka.

"Semua orang tidak ingin melihat ini diveto lagi, dan kami telah melakukan beberapa penyesuaian kecil pada bahasanya," kata Rubio. “Saya tidak tahu apakah ini akan menghindari veto atau tidak.”

Negara-negara Barat macam Jerman sebelumnya telah mengungkapkan kesediaannya untuk terlibat dalam operasi militer di Selat Hormuz jika ada mandat resmi dari PBB untuk melakukannya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra