Menuju konten utama

Urutan Fase Perang Iran-AS dari Epic Fury sampai Project Freedom

Selama perang Iran vs Amerika Serikat, setidaknya sudah ditemukan empat fase dalam perjalanannya. Simak penjelasan selengkapnya di sini.

Urutan Fase Perang Iran-AS dari Epic Fury sampai Project Freedom
Konfilk Iran dan Amerika . FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perkembangan situasi seputar Perang Iran-Amerika Serikat (AS) belum menunjukkan sinyal positif yang konkret. Sejak pecah peperangan pada 28 Februari 2026 lalu, berikut ringkasan fase Perang Iran-AS dari apa yang disebut AS sebagai Epic Fury, Project Freedom, hingga ketegangan yang masih melanda Selat Hormuz.

Perang Iran-AS telah memasuki hari ke-70 pada Jumat (8/5). Upaya diplomatik untuk menghentikan perang sedang berlangsung. Namun, eskalasi konflik di lapangan masih silih berganti terjadi.

Pertempuran antara dua negara yang bermusuhan itu telah menyebabkan tekanan pada perekonomian dunia. Produk energi dan petrokimia mengalami kenaikan harga secara global, termasuk di Indonesia.

Gencatan senjata yang pertama kali disepakati Iran dan AS pada 8 April lalu telah membuat pemboman dan serangan berkurang drastis. Meski begitu, serangan militer masih silih berganti terjadi di kawasan Teluk. Ketegangan juga kini beralih ke Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi produk energi dunia.

Daftar Fase-fase Perang Iran vs AS

Selama 70 hari masa perang, terdapat sejumlah fase yang telah terjadi. Fase-fase ini meliputi bagaimana perang pecah, pemboman yang telah merenggut ribuan nyawa manusia, hingga upaya diplomatik untuk menghentikan kekacauan yang terjadi.

Jika dirangkum, setidaknya ada empat fase yang dapat ditengarai dari perkembangan situasi Perang Iran vs AS. Menukil ABC News, berikut daftarnya.

1. Serangan Gabungan AS-Israel Memulai Perang

Pada 28 Februari 2026, Teheran tiba-tiba diserang oleh pasukan gabungan AS dan Israel. Serangan udara tersebut membom berbagai lokasi di Iran, AS menyebut ada ratusan target yang dibom pada hari itu.

Titik utama serangan ini adalah kompleks Kantor Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Ketika pemboman terjadi, lokasi itu menjadi tempat rapat para pemimpin senior Iran.

Khamenei dan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Panglima Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), dinyatakan terbunuh karena serangan. Keluarga Khamenei juga ikut terbunuh, termasuk istri, anak, dan cucunya.

Serangan berskala besar itu lalu memecah perang. Iran membalas serangan dengan menembakkan rudal dan drone kamikaze ke tujuh negara Teluk.

Dalam waktu 24 jam, lebih dari 200 orang mati terbunuh akibat serangan. Jumlah korban itu termasuk ratusan siswi usia sekolah dasar di Iran.

Sekolah dasar putri Shajareh Tayyebeh di Minab ikut hancur dalam hari serangan AS-Israel terjadi. Ratusan siswi di dalamnya tewas.

Serangan ke sekolah putri di Minab itu kemudian diduga sebagai kejahatan perang AS-Israel. Investigasi internal AS hingga kini masih berlangsung, namun belakangan duta besar AS untuk PBB menyebut peristiwa itu sebagai “kesalahan tragis”.

Tak lama setelah serangan gabungan AS dan Israel menerjang Iran, Presiden AS Donald Trump membuat keterangan resmi, menyebut serangan berskala besar itu sebagai bagian dari operasi “Epic Fury” oleh militer AS dan Israel.

Trump menjelaskan bahwa serangan itu dilakukan setelah pihaknya mendapatkan informasi bahwa Iran tinggal selangkah lagi memiliki senjata nuklir. Hal ini sebelumnya dibantah Iran.

2. Serangan Berlanjut, Titik Fokus Bergeser ke Hormuz

Setelah pecah peperangan pada 28 Februari, AS dan Iran saling berbalas serangan. AS dan Israel berulang kali membom Iran melalui serangan udara, sementara Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke negara Teluk dan Israel.

Baik kubu Iran maupun AS-Israel, kedua pihak telah membom berbagai fasilitas militer dan infrastruktur sipil.

Infrastruktur pendidikan, kelistrikan, dan sistem air di Iran dibom AS. Israel juga membom fasilitas penyimpanan minyak Teheran, menyebabkan asap tebal membumbung di langit.

Dua negara bersekutu itu juga telah membom infrastruktur pemukiman Iran. Rumah sakit, bandara hingga pabrik petrokimia juga ikut terdampak serangan bom udara selain fasilitas militer dan program nuklir milik Teheran.

Sementara itu, Iran menembakkan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan Teluk. Iran mengeklaim menargetkan fasilitas militer AS di kawasan itu, namun infrastruktur sipil seperti unit pemukiman dan bandara komersial ikut terdampak serangan.

Selama saling balas serangan berlangsung, Teheran menutup Selat Hormuz secara de facto melalui IRGC. Selat itu merupakan jalur penting perdagangan dunia, dengan seperlima pasokan energi dunia melalui jalur air tersebut sebelum perang.

Penutupan tersebut terus berlangsung hingga menghambat arus perdagangan energi dunia, menciptakan kenaikan harga energi dan produk petrokimia. Sejumlah negara bahkan sempat mengeluarkan status darurat energi.

Jumlah manusia yang tewas terbunuh terus meningkat. Dari ratusan orang pada hari pertama, menjadi ribuan dalam kurun waktu sekitar satu bulan. Diperkirakan 6.000 hingga 8.000 orang mati terbunuh karena serangan selama perang dalam kurun waktu satu bulan.

Sementara situasi itu terjadi, Iran mengangkat putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru pada 8 Maret. Mojtaba disebut dalam keadaan terluka akibat serangan 28 Februari. Hingga kini, ia belum tampil secara publik, meski beberapa kali menyampaikan pernyataan tertulis.

Selama bulan Maret, Iran kemudian mengalihkan perhatian mereka ke selat tersebut. Pada 12 Maret, tiga kapal komersial diserang militer Iran di dekat Selat Hormuz. Hal ini menciptakan ketegangan dan membuat kapal dagang di sana menghentikan rencana perjalanan melalui Selat Hormuz.

Trump kemudian melayangkan ancaman demi ancaman bagi Iran untuk membuka selat itu. Pada 21 Maret, Trump memberi ultimatum untuk membuka Hormuz dalam 24 jam atau AS “akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik” milik Iran.

Ancaman tersebut tak benar-benar diindahkan Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membuat pernyataan pada 25 Maret bahwa “kekuatan Iran adalah Selat Hormuz”.

3. Gencatan Senjata & Blokade

Pada akhir Maret, Iran dan AS mulai melakukan upaya diplomatik untuk menghentikan perang. Pembicaraan itu mulai terjadi pada 26 Maret.

Dalam upaya negosiasi itu, AS dan Iran terlibat pembicaraan tentang kesepakatan penghentian perang. Negosiasi itu dilaporkan berlangsung alot dengan kedua belah pihak sama-sama memiliki tuntutan yang tak bisa dikompromikan pihak lain.

Pada 7 April, Trump memberikan ancaman yang berbahaya ke Iran. Ia menyebut akan melakukan serangan yang membuat “seluruh peradaban akan mati malam ini”. Pernyataan ini sempat mengkhawatirkan banyak pihak tentang potensi penggunaan senjata nuklir dalam perang.

Kemudian, pada hari yang sama dengan ancaman berbahaya Trump itu, AS dan Iran menyepakati pemberlakuan masa gencatan senjata selama dua pekan. Gencatan senjata ini disebut berhasil dicapai melalui Pakistan sebagai mediatornya.

Kesepakatan itu berisi kemauan Iran untuk membuka Selat Hormuz secara terbatas untuk jalur perdagangan energi dunia sembari proses perundingan berlangsung di Islamabad, Pakistan.

Pada 11-12 April, perundingan Iran-AS berlangsung di Islamabad. Iran diwakili Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, sementara AS diwakili Wakil Presiden JD Vance. Perundingan berlangsung, namun gagal menghasilkan kesepakatan.

Gencatan senjata itu dijadwalkan berakhir pada 22 April. Islamabad dijadwalkan kembali menggelar perundingan tahap kedua. Namun, eskalasi konflik kembali memanas dan agenda perundingan dibatalkan.

Tepat sebelum masa gencatan senjata akan berakhir, Trump mengumumkan perpanjangan masa gencatan senjata tanpa menyebut batas waktu. Trump menyebut menunda rencana pemboman lebih lanjut, namun memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran untuk menekan ekonomi Teheran yang hancur.

Di sisi lain, Iran dilaporkan kembali menguatkan cengkraman mereka di Selat Hormuz. Situasi di Selat Hormuz kembali tak menentu.

4. “Project Freedom” dan Sinyal Samar Perdamaian

Memasuki bulan Mei, Trump mengumumkan bahwa ia akan memberlakukan “Project Freedom” di Selat Hormuz. Itu adalah operasi militer untuk membuka selat memastikan kapal komersial dapat melewati Selat Hormuz di tengah penutupan de facto Iran.

Operasi itu kemudian diterapkan pada 3 Mei dan kembali meningkatkan ketegangan di selat itu dengan Iran menyatakan intervensi AS di Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata.

Pada 5 Mei, sehari setelah “Project Freedom” dilakukan, operasi itu dihentikan oleh Trump. Ia mengklaim keputusan itu dipilih karena permintaan Pakistan.

Apa yang terjadi di Selat Hormuz kini menjadi sumber ketegangan utama dalam Perang Iran-AS. Pada Jumat (8/5), IRGC dan militer AS terlibat pertempuran di selat tersebut. Serangan ini disebut IRGC sebagai respons atas serangan AS yang menggempur kapal tanker dan area sipil Iran sebelumnya.

Sementara ketegangan berlanjut itu, Iran dan AS disebut tengah bernegosiasi mengenai poin-poin usulan kesepakatan damai. Baik Teheran maupun Washington disebut saling berkirim proposal terkait kesepakatan damai.

Trump menyebut negosiasi seputar proposal terbaru itu berlangsung baik. Namun, belum jelas apa saja poin-poin yang kini tengah dinegosiasikan, juga apakah kedua belah pihak akan merealisasikan kesepakatan itu dalam waktu dekat.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar