tirto.id - Lebih dari 300 siswa sekolah mengalami keracunan massal akibat hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat pada Senin (22/9/2025).
Akibat insiden yang berdampak pada ratusan siswa sekolah itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat menghentikan sementara distribusi MBG.
"Sudah ada instruksi dari pusat agar dihentikan dulu sambil menunggu hasil uji laboratorium. Informasinya bisa dua minggu, mudah-mudahan lebih cepat," tutur Wakil Bupati Bandung Barat, Asep Ismail, pada Senin.
Keracunan ini terjadi tak hanya di satu sekolah, melainkan di beberapa tempat, termasuk SMK Pembangunan Bandung Barat, MTs Darul Fiqri, hingga SD Negeri Cipari.
Dalam waktu yang berdekatan, para siswa tersebut melaporkan mengalami keracunan setelah makan hidangan MBG.
Sebelumya, proses evakuasi keracunan massal siswa sekolah di Bandung Barat ini terus dilakukan sejak Senin sore hingga malam.
Kronologi Keracunan Massal MBG di Bandung Barat & Apa Penyebabnya?
Kronologi insiden keracunan massal MBG di Bandung Barat bermula dari pelaksanaan makan siang pada Senin. Bermula dari laporan kasus secara terbatas, jumlah korban terus meningkat seiring waktu.
Dilansir dari Antara, insiden ini bermula dari laporan dugaan keracunan pada Senin siang, setelah waktu makan siang di sekolah.
Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung Barat, Nurul Rasihan, pihaknya menerima laporan pertama dugaan keracunan massal pada sekitar pukul 13.00 WIB.
Dalam laporan tersebut, Nurul menjelaskan bahwa sekolah pertama yang melaporkan adanya keracunan adalah sekolah jenjang SMA/SMK.
Sejumlah siswa disebut mengalami mual dan muntah setelah menyantap makanan MBG yang dibagikan di sekolah mereka.
Berdasarkan informasi sementara, laporan awal keracunan massal tersebut terpusat pada paket MBG yang diproduksi dari salah satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Berawal dari puluhan siswa, korban keracunan pasca-makan santapan MBG terus bertambah seiring waktu. Bahkan hingga Selasa pagi, korban keracunan terus bertambah menjadi lebih dari 300 siswa.
Kelompok siswa yang terdampak keracunan juga meluas, dari siswa SMA/SMK, kemudian meluas hingga SMP, SD, dan TK/PAUD.
Pemkab Bandung Barat kemudian membawa para korban keracunan untuk mendapatkan perawatan medis di sejumlah fasilitas kesehatan berbeda, seperti Puskesmas Cipongkor, Bidan Desa Sirnagalih, RSUD Cililin, Posko Kecamatan Cipongkor, dan RSIA Anugrah.
Insiden ini kemudian membuat Dinkes Kabupaten Bandung Barat menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) setelah berhasil mengumpulkan sampel untuk diuji di laboratorium.
Hingga kini, penyebab dari keracunan massal akibat program MBG ini belum terkonfirmasi.
Pihak Pemkab Bandung Barat, bersama Polda Jawa Barat kini masih melakukan penyelidikan penyebab insiden ini bisa terjadi.
Namun, berdasarkan kesaksian para siswa yang mengalami keracunan, paket MBG yang mereka terima pada Senin siang diduga mengandung makanan basi.
"Dari keterangan anak-anak, pas dibuka kayanya ayamnya yang basi, asam, warnanya juga agak beda," kata Ketua Yayasan SMK Pembangunan Bandung Barat, Erik Zainudin.
Penjelasan BGN terkait Keracunan Massal MBG di Bandung Barat
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengklarifikasi kasus keracunan massal MBG di Bandung Barat pada Selasa.
Menurutnya, insiden keracunan yang berdampak pada lebih dari 300 siswa di berbagai jenjang sekolah tersebut terjadi akibat keteledoran SPPG.
"Saya sudah meninjau SPPG-nya. Kondisinya sebenarnya bagus, hanya mungkin ada keteledoran. Itu yang harus jadi perbaikan menyeluruh," katanya.
Insiden tersebut juga membuat BGN kini menghentikan sementara produksi dan distribusi MBG di SPPG tersebut.
Dalam keterangannya, Dadan menjelaskan bahwa SPPG di Cipongkor tersebut tidak menjalankan SOP sesuai panduan.
SPPG tersebut diketahui memasak dalam jumlah besar sehingga menimbulkan kendala teknis. Padahal, lantaran tergolong baru, SPPG ini harusnya mendistribusikan makanannya secara bertahap dimulai dari beberapa sekolah sebelum diperluas.
"Tapi SPPG kali ini langsung dalam jumlah besar, itu yang menyebabkan kesalahan teknis," tuturnya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id




























