Menuju konten utama

Korban Dugaan Pelecehan Syekh Al-Misry Bertambah Jadi 13 Anak

Seluruh korban anak di bawah umur yang tersebar di berbagai wilayah dengan modus ajak mengaji dan beasiswa ke Mesir.

Korban Dugaan Pelecehan Syekh Al-Misry Bertambah Jadi 13 Anak
Syekh Ahmad Al-Misry. instagram/ahmad_almisry2
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jumlah korban dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Syekh Al-Misry bertambah jadi 13 orang. Seluruh korban merupakan anak di bawah umur yang tersebar di berbagai wilayah mulai dari Tangerang hingga Gorontalo dengan modus iming-iming belajar mengaji dan beasiswa pendidikan ke Mesir.

Pelapor dugaan pelecehan yang dilakukan Syekh Al-Misry

(Tengah) Pelapor dugaan pelecehan yang dilakukan Syekh Al-Misry, Mahdi Al Attas, saat mendatangi Bareskrim Polri untuk bertemu penyidik Direktorat PPA dan PPO Bareskrim, Senin (11/5/2026). tirto.id/Ayu Mumpuni

Pelapor dan perwakilan korban, Mahdi Al Attas, mengatakan dirinya menerima laporan dari korban yang mulai berani mengungkap pelecehan yang dilakukan Syekh Al-Misry. Meskipun, belum berani melaporkan secara resmi kepada pihak kepolisian.

"Saya terakhir itu 13 [korban]. Ke saya terakhir 13. Cuma yang kita naikin [menjadi laporan resmi ke kepolisian] memang baru lima," tutur Mahdi di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (11/5/2026).

Mahdi bilang, seluruh korban adalah anak di bawah umur. Mereka awalnya diajak belajar mengaji oleh tersangka Syekh Al-Misry, lalu kemudian dibawa ke kamar dan mengalami pelecehan seksual.

"Jakarta enggak ada. Tangerang, Bogor, Sukabumi, Purbalingga, Palembang, Jambi, dan Gorontalo [asal korbannya]. [Pelecehan] terjadinya di Jakarta, Masjid MTQ. Lalu ada juga terjadi di Purwokerto, ada terjadi di Purbalingga, ada terjadi di Bogor, terjadi di Sukabumi," sebut Mahdi.

Mahdi juga mengatakan, Ahmad Al-Misry juga melakukan dugaan tindak pidana lain dengan modus memberikan beasiswa kepada para korban ke Mesir. Kendati demikian, mulai dari tiket keberangkatan, izin tinggal, hingga biaya hidup, semua ditanggung korban sendiri saat sudah sampai di negara tersebut.

Menurut Mahdi, banyak korban yang terlantar dan hidup terkatung-katung selama 1-1,5 tahun di Mesir. Padahal, di Mesir, Ahmad Al-Misry dipastikan bukan pemuka agama, melainkan hanya warga biasa.

"Orang biasa, enggak ada. Inilah kita jangan mudah kaget, jangan mudah terharu melihat ada orang sedikit bisa bahasa Arab langsung dianggap sebagai dewa. Ketika ada kesempatan, ketika kita mengkultuskan seseorang, ya akhirnya ada pelecehan," ungkap Mahdi.

Baca juga artikel terkait PELECEHAN ANAK atau tulisan lainnya dari Ayu Mumpuni

tirto.id - Flash News
Reporter: Ayu Mumpuni
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Siti Fatimah