Menuju konten utama

Kontribusi AI Terhadap PDB RI Bisa Capai US$366 Miliar di 2030

Secara pasar, pertumbuhan AI di Indonesia juga menunjukkan tren yang kuat.

Kontribusi AI Terhadap PDB RI Bisa Capai US$366 Miliar di 2030
Ilustrasi Kecerdasan Buatan Isometrik, Pengetahuan Keahlian Kecerdasan belajar. FOTO/iStokphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) diprediksi akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan potensi kontribusi mencapai 366 miliar dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2030.

Hal ini diungkapkan oleh Research and Partnership Coordinator MMA Global Indonesia, Fika Novia Rahma Putri, dalam laporan tahunan mereka bertajuk Brand Safety & MarTech 2025 Industry Report, yang diluncurkan di Jakarta, Kamis, (5/6/2025).

Fika menjelaskan, optimisme terhadap peran AI dalam mendorong daya saing industri terlihat dari temuan bahwa 92 persen pimpinan perusahaan di Indonesia menganggap AI sebagai faktor krusial untuk mempertahankan daya saing bisnis mereka.

Namun, tingkat adopsi masih beragam: sebanyak 43 persen perusahaan masih dalam tahap eksplorasi, 22 persen sudah menjadi early adopters, dan 10 persen mulai memperluas penggunaan AI dalam operasional mereka.

“AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan kebutuhan strategis hari ini. Penting bagi para pemimpin industri untuk memahami cara mengintegrasikan AI secara efektif,” ujar Fika.

Secara pasar, pertumbuhan AI di Indonesia juga menunjukkan tren yang kuat. Nilai pasar AI nasional diproyeksikan naik dari 2,2 miliar dolar AS pada 2022 menjadi 9,1 miliar dolar AS pada 2031, atau tumbuh sebesar 306,4 persen dalam kurun waktu kurang dari satu dekade.

Di sisi lain, revolusi AI ini turut ditopang oleh ekosistem digital yang semakin matang. Dengan lebih dari 143 juta pengguna aktif media sosial, Indonesia kini menjadi negara dengan basis pengguna media sosial terbesar di Asia Tenggara dan ketiga di Asia-Pasifik.

“Tak kurang dari 48,8 persen masyarakat Indonesia menggunakan media sosial untuk mengikuti tren terbaru, menjadikan platform ini sebagai ladang subur untuk aktivasi merek,” katanya.

Untuk merespons lanskap ini, jenama-jenama terdepan mulai mengadopsi kerangka kerja “3C” dalam pemasaran sosial: Activating Conversations, Connecting Conversations to Commerce, dan Building Community. Namun demikian, perubahan strategi ini menuntut perubahan paradigma dalam pengelolaan data.

“Data harus diperlakukan sebagai aset yang mudah basi,” sambungnya.

“Merek perlu mengutamakan sistem dibanding sekadar penyimpanan data, memastikan kepatuhan pada prinsip consent, dan yang terpenting, fokus pada aktivasi data daripada hanya mengumpulkannya.”

Dengan kombinasi potensi pasar, kesiapan teknologi, dan pemahaman strategis yang semakin kuat, AI dipandang sebagai tulang punggung transformasi digital yang dapat mendorong pertumbuhan inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.

Baca juga artikel terkait ARTIFICIAL INTELLIGENCE atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra