tirto.id -
“Pasar AI di Indonesia tumbuh signifikan, dan pertumbuhan itu diproyeksikan berlangsung dalam sembilan hingga sepuluh tahun ke depan,” katanya dalam laporan tahunan mereka bertajuk Brand Safety & MarTech 2025 Industry Report, yang diluncurkan di Jakarta, Kamis, (5/6/2025).
Shanti menjelaskan, penetrasi AI yang luas di Tanah Air memaksa semua brand, baik global maupun lokal, mengubah pola pikir tradisional mereka dan melihat bagaimana bisa memanfaatkan AI untuk berbagai cakupan dalam proses produksi mereka.
Dengan AI, brand atau perusahaan mencoba melakukan transformasi di sisi brand mereka, tim mereka, organisasi mereka, dan terutama untuk solusi yang mereka bangun.
“Skopnya besar dan Indonesia tidak jauh tertinggal dibanding pasar lain,” ujarnya.
Shanti pun meyakini bahwa dengan penetrasi AI yang semakin besar dan terkoneksi dengan berbagai lini dalam sebuah brand, akan dapat mendorong pertumbuhan market ritel di tanah air.
Meskipun saat ini pasar ritel mengalami tekanan akibat dampak ekonomi global, namun dia percaya bahwa pasar ritel di dalam negeri akan terus tumbuh. Ia memperkirakan bahwa pasar ritel Indonesia akan tumbuh 49,9 miliar dolar AS antara 2025 hingga 2029.
“Saat ini pasar sangat fluktuatif, kelas menengah mengecil, dan banyak tantangan lokal maupun global. Tapi kita semua tahu, Indonesia selalu bisa keluar dari situasi sulit, cepat atau lambat,” ucapnya.
Terlebih, penetrasi internet yang semakin besar yaitu 77 persen, dan perilaku mobile first yang luas di Indonesia, Shani menilai hal ini sebagai poin penting. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia.
“Artinya, industri ini punya skop luar biasa, landscape-nya luas, dan penting untuk ada kolaborasi antara semua pihak. Kita perlu pola pikir kolektif, kolaborasi lintas ekosistem,” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id







































