tirto.id - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, Banten, menyebut kondisi kebakaran area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, tinggal tersisa sekitar 30 persen dari total area yang sebelumnya terbakar mencapai 15 hektare.
"Untuk hari kesembilan, hasil sampai dengan hari kesembilan ini tinggal kurang lebih sekitar 30 persen lagi dari 15 hektare yang terbakar," kata Kepala BPBD Kabupaten Tangerang, Achmad Taufik di Tangerang, mengutip Antara, Rabu (08/7/2026).
Ia menjelaskan titik api yang tersisa di area kebakaran TPA Jatiwaringin saat ini terus menujukan progres yang positif. Area yang sebelumnya terbakar sekitar 15 hektare dari total luasan tempat pembuangan sampah mencapai 33 hektare.
"Petugas hingga saat ini masih berupaya memadamkan sisa titik api sekaligus mengantisipasi kemunculan api baru di dalam timbunan sampah," terangnya.
Taufik mengungkapkan kebakaran di TPA memiliki karakteristik berbeda dengan kebakaran lahan gambut. Pasalnya, kata dia, timbunan sampah di TPA Jatiwaringin telah menggunung selama bertahun-tahun.
Kondisi itulah yang membuat kandungan gas metana muncul. Saat cuaca panas, gas tersebut dapat memicu munculnya api secara tiba-tiba dari dalam timbunan sampah.
Oleh sebab itu, dalam proses pemadamannya, para petugas harus mengurai gunungan sampah tersebut dengan alat berat agar lebih mudah memadamkannya.
"Di bagian dalamnya itu mengandung gas metana. Kalau cuaca panas, api bisa muncul sendiri," kata dia.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan tahapan pemadaman kebakaran di area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Selasa (7/7) telah mencapai 50 persen.
Direktur Koordinasi Pengendalian Operasi Darurat BNPB, Brigjen TNI Djohan Darmawan, mengatakan dari angka 50 persen pengendalian titik api kebakaran di TPA Jatiwaringin ini juga diiringi dengan tingkat kebersihan area terdampak yang mencapai 70 persen.
Dimana, lanjut dia, hasil pengendalian tersebut merupakan dari optimalisasi kerja keras seluruh unsur dari BNPB, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, hingga sektor swasta hingga hari ke delapan pemadaman.
"Mencari solusi itu pasti step by step. Saat ini perkembangannya sudah sangat signifikan. Titik api sudah hampir tidak ada, namun jika terkena angin kencang memang asap masih bisa muncul. Tapi alhamdulillah, pergerakan kita maju pesat," terangnya.
Djohan mengungkapkan, selama operasi kebencanaan kebakaran di area tempat pembuangan sampah yang dinilai memiliki karakteristik dengan menyerupai lahan gambut ini turut menjadi kendala dalam pemadaman petugas gabungan.
Menurutnya, kesulitan petugas dalam mencapai titik api dipenuhi material kompleks seperti plastik dan beling, sehingga pihaknya menerapkan strategi khusus dengan menyemprotkan air dari permukaan, melainkan berkolaborasi dengan alat berat.
Selain itu, metode pendinginan dalam seperti pengangkatan material yang menyimpan panas (geothermal) di bagian dalam terangkat ke permukaan, petugas darat langsung melakukan penyiraman dan pembasahan (coolingdown).
Kemudian, untuk mempercepat mobilitas, petugas Damkar di sektor utara, selatan, dan tengah disokong oleh puluhan mobil tangki air berkapasitas 4.000 hingga 5.000 liter. Mobil-mobil tangki ini terus keluar masuk menyuplai air secara langsung di titik pemadaman, sehingga armada mobil pemadam utama tidak perlu meninggalkan lokasi untuk melakukan pengisian ulang.
"Sebanyak 500 personel gabungan kini difokuskan untuk menggempur area sektor barat mengikuti arah embusan angin. Selain jalur darat, operasi udara juga terus dioptimalkan," pungkasnya.
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































