tirto.id - Selepas fase grup, persaingan di Piala Dunia 2026 makin alot. Setidaknya ada tiga kesebelasan yang harus melalui adu penalti untuk menyisihkan sampai ke babak 16 besar. Paraguay sukses menyingkirkan Jerman. Maroko berhasil memulangkan Belanda. Mesir sukses memupus harapan Australia.
Selama puluhan tahun, adu penalti dianggap sebagai murni undian. Sejumlah pelatih top seperti Luiz Felipe Scolari dan Fabio Capello bahkan pernah menyebutnya sebagai "lotere", seolah hasil akhirnya lebih ditentukan keberuntungan ketimbang kemampuan. Tapi anggapan itu kini makin sulit dipertahankan.
Riset ilmiah selama satu dekade terakhir, dan yang paling anyar terbit tepat ketika Piala Dunia 2026 berlangsung, menunjukkan bahwa kemenangan dan kekalahan di adu penalti bisa dijelaskan lewat data, bukan sekadar suratan nasib.
Menguji Tuah Penendang Pertama
Perdebatan terlama adalah soal ada atau tidaknya keuntungan ketika sebuah tim menendang lebih dulu. Studi dari American Economic Review, yang kemudian diulas oleh Wired, menyimpulkan bahwa tim yang menendang pertama memenangi hampir 60 persen dari seluruh adu penalti yang dianalisis para peneliti.
Kesimpulan itu sempat dianggap final. Akan tetapi, seiring bertambahnya data dan makin banyaknya peneliti yang menggali ulang, keunggulan tersebut terus menyusut.
Riset lain yang membantah anggapan soal keunggulan tim penendang pertama dilakukan oleh Silvan Vollmer, David Schoch, dan Ulrik Brandes. Setelah menganalisis hampir 50.000 penalti dari 11 musim kompetisi Eropa, persentase kemenangan tim penendang pertama justru kurang dari 50 persen, (48,83 persen), dari total analisis terhadap 1.759 adu penalti.
Data khusus Piala Dunia dari BBC dan Optajuga menunjukkan hal serupa. Dari 35 adu penalti sejak Piala Dunia 1982 hingga 2022, tim yang menendang lebih dulu “hanya” menang 17 kali.
Bahkan, di Piala Dunia 2026 (hingga selesainya babak 32 besar), dari tiga adu penalti yang sudah terjadi, tim yang menendang lebih dululah yang akhirnya tersisih (Australia, Jerman, dan Belanda).
Dalam lingkup sempit, yang terjadi di Piala Dunia 2026 memang unik karena tingkat keberhasilan tim yang menendang belakangan mencapai seratus persen. Namun, dalam lingkup yang lebih besar, perbandingannya tetap relatif seimbang.
Lantas, kalau urutan menendang bukanlah faktor penentu, apa sebetulnya kunci sukses adu penalti?
Semuanya Bergantung pada Keahlian dan Kontrol Tekanan
Studi terbitan Psychology of Sport and Exercise, yang menganalisis sebanyak 1.711 penalti selama periode 15 tahun di turnamen internasional besar, menemukan bahwa tekanan situasional tinggi meningkatkan peluang tendangan melenceng hingga sekitar 6 persen. Penelitian tersebut juga menemukan, peluang kiper menggagalkan penalti menurun sekitar 4 persen ketika penendangnya adalah pemain berkemampuan tinggi. Itu mengindikasikan bahwa kemampuan teknis bisa membantu mengatasi tekanan situasi.
Penelitian Vollmer menambahkan detail pendukung soal tekanan. Dalam pertandingan waktu normal, persentase konversi penalti bisa mencapai 82 persen. Namun, ketika adu penalti, persentase keberhasilannya menurun drastis jadi 75 persen. Itu menunjukkan bahwa kondisi adu penalti itu menambah beban psikologis dibanding penalti biasa.
Di sinilah studi terbaru, yang terbit persis ketika Piala Dunia 2026 berlangsung, mengubah cara kita memahami seluruh persoalan tersebut. Tim peneliti dari University of Queensland pimpinan Robbie Wilson, melalui jurnal Football Studies, mengusulkan konsep yang disebut psychological leverage, semacam ukuran dampak satu tendangan terhadap peluang menang atau kalah keseluruhan tim.
Dari analisis terhadap 576 tendangan penalti dari total 60 agenda adu penalti Piala Dunia dan Piala Eropa, mereka menemukan tingkat konversi keseluruhan mencapai 72,4 persen. Namun, ketika penalti tersebut berada dalam kondisi "avoid-loss" (tendangan yang jika gagal langsung mengeliminasi tim), tingkat keberhasilannya turun menjadi hanya 60,4 persen. Sebaliknya, dalam kondisi "score-to-win" (tendangan yang jika berhasil langsung memenangkan pertandingan), tingkat keberhasilannya justru melonjak ke 89,1 persen.
Temuan itulah yang sebenarnya jadi penjelasan di balik penjelasan soal urutan menendang. Wilson menjelaskan dengan sederhana bahwa menendang lebih dulu tidak membuat pemain tiba-tiba jadi lebih jago, tapi memaksa tim lawan lebih sering menghadapi momen "satu kesalahan berarti tersingkir".
Dengan kata lain, urutan menendang bukan penyebab langsung menang atau kalah, melainkan penentu seberapa sering seorang pemain harus menghadapi jenis tekanan psikologis terberat.
Namun, tim yang menendang kedua justru lebih sering mengalami dua sisi ekstrem sekaligus: momen mengerikan berupa "miss-to-lose" serta momen yang berpotensi membanggakan berupa "score-to-win". Itu tak terhindarkan dari sistem adu penalti yang bergantian.
Maka itu, Wilson menyarankan strategi berbeda bergantung pada situasi. Jika mendapat giliran menendang pertama, susunan penendang diurutkan dari yang terbaik hingga yang terburuk. Begitu pula sebaliknya.
Biasanya, pelatih menempatkan dua penendang terbaik di urutan 1 dan 5 untuk membuka peluang sekaligus mengatasi tekanan pada saat-saat tersulit. Hipotesis tersebut dibuktikan melalui data BBC dan Opta. Penendang pertama dan kedua di setiap tim punya tingkat keberhasilan sekitar 71-73 persen, tapi angka itu anjlok ke 64,2 persen untuk penendang keempat, sebelum sedikit naik lagi ke 66,7 persen di penendang kelima. Secara keseluruhan, penendang terburuk adalah penendang nomor empat, dengan tingkat keberhasilan 59,4 persen.
Tekanan Psikologis Memengaruhi ke Gerak Tubuh
Sebuah studi dari University of Twente, Belanda, merekam aktivitas otak terhadap 22 pemain sepak bola menggunakan teknik functional near-infrared spectroscopy, semacam pemindaian yang mendeteksi aliran darah di otak lewat sensor di kepala, saat mereka menendang penalti dalam tiga kondisi tekanan berbeda.
Hasilnya, pemain yang berhasil tampil baik di bawah tekanan menunjukkan aktivasi lebih tinggi di motor cortex, bagian otak yang mengatur gerakan otot. Sebaliknya, pemain yang cemas dan gagal mencetak gol menunjukkan aktivitas lebih tinggi di prefrontal cortex, bagian otak yang berkaitan dengan pemikiran jangka panjang (mereka terlalu memikirkan konsekuensi kalau sampai gagal alias overthinking)
Temuan-temuan semacam itu sudah mulai diterapkan langsung oleh tim-tim di Piala Dunia 2026. Timnas Amerika Serikat (AS), misalnya, menggunakan teknologi pemantau gelombang otak buatan perusahaan Jerman bernama Neuro11 sejak Januari 2025, di setiap pemusatan latihan. Itu bertujuan mengukur fokus dan konsentrasi pemain saat berlatih penalti. Pelatih Mauricio Pochettino mengakui teknologi tersebut membantu, meski menolak membeberkan detail lengkapnya.
Selain sisi biologis, ada sisi perilaku yang dipelajari dengan sangat detail oleh psikolog olahraga dari Norwegian School of Sport Sciences, Geir Jordet. Untuk bukunya berjudul Pressure, Jordet mengumpulkan rekaman video dari 718 tendangan penalti dalam setiap adu penalti Piala Dunia, Piala Eropa, dan Liga Champions, sejak adu penalti pertama kali diberlakukan pada 1970 hingga 2023.
Jordet menemukan, 53 persen pemain yang gagal menunjukkan perilaku serupa setelahnya, seperti membuat tubuh mereka terlihat lebih kecil, terjatuh ke tanah, atau menyembunyikan wajahnya di balik tangan. Artinya, ada pola khusus yang sebenarnya bisa “diretas” dalam adu penalti. Itulah alasan tim-tim sepak bola modern secara khusus mempersiapkan penalti lewat latihan khusus serta analisis data.

Data Opta dari seluruh sejarah Piala Dunia menunjukkan, tendangan ke tengah gawang punya tingkat keberhasilan terendah, hanya 61,6 persen, dibanding 72,4 persen untuk tendangan ke kanan dan 71,1 persen ke kiri. Tapi uniknya, tendangan ke tengah juga merupakan tendangan paling jarang digagalkan kiper (kebanyakan melambung).
Posisi pemain di lapangan juga berpengaruh, penyerang mencatat tingkat keberhasilan penalti tertinggi (75 persen), diikuti gelandang (67,9 persen) dan bek (65 persen).
Dari berbagai proses itu lahirlah para spesialis. Tak cuma spesialis untuk mengeksekusi penalti, tetapi juga kiper spesialis. Kiper Maroko, Yassine Bounou (Bono), adalah salah satunya. Piala Dunia 2026 merupakan kali kedua Bono membawa Maroko menang adu penalti. Empat tahun lalu, korbannya adalah Spanyol; kali ini Belanda yang harus menghadapi ketangguhan pria kelahiran Kanada tersebut.
Dalam adu penalti kontra Belanda, Bono melancarkan trik tipuan ganda. Hal itu membuatnya bisa bergerak secara lateral pada momen tepat untuk mengelabui penendang yang menunggu kiper bergerak lebih dulu. Hal ini paling kentara hasilnya saat ia menggagalkan eksekusi Crysencio Summerville dalam posisi berdiri. Menurut Jordet, sosok seperti Bono itu sudah menjadikan penalti layaknya seni.
Di sisi penendang, mereka yang menjadi spesialis biasanya memilih menendang ke arah acak, tanpa kecenderungan tertentu. Sebagai misal, bek timnas wanita Inggris di Euro 2025, Lucy Bronze, menjelaskan bahwa ia mengamati pola kiper Swedia yang selalu meloncat terlalu awal sehingga ia memilih menendang lurus ke tengah. Itu merupakan keputusan berbasis observasi statistik sederhana yang ia sebut sebagai bukti cintanya pada matematika.
Di Piala Dunia 2026, semua tim punya akses terhadap data. Mereka juga sudah melakukan persiapan khusus, termasuk lewat penggunaan teknologi mutakhir. Artinya, adu penalti sudah dianggap sebagai aspek yang bukan lagi soal keberuntungan atau takdir.
Namun, seperti kata Jordet, pada akhirnya tetap akan ada satu pemain muda yang berjalan sendirian menuju titik putih, memikul harapan jutaan orang di pundaknya, dan pada momen itu, ilmu pengetahuan takkan lagi bisa berbicara banyak. Semuanya kembali ke cara seseorang mengalahkan dirinya sendiri sebelum menaklukkan pemain lawan yang berdiri di hadapannya.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id




































