tirto.id - Aktivitas warga mulai berjalan normal kembali hari ini, enam hari setelah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, terbakar. Sebagian besar warga mulai terlihat kembali di sekitar lokasi itu, meski pemadaman api yang menyala di TPA Jatiwaringin belum sepenuhnya tuntas.
Warung kopi mulai buka dan didatangi pembelinya. Pedagang bakso, mie ayam, pempek, mulai berkeliling menjajakan dagangannya.
Dua hari lalu setidaknya aktivitas ekonomi warga itu mulai seperti sebelum kebakaran terjadi. Namun, tidak dengan pendapatan mereka.
Edi Ubaidillah, seorang warga yang membuka warung es dan seblak prasmanan berujar, pendapatannya masih menurun drastis. Jarak rumahnya yang hanya 200 meter dari mulut api, merasakan betul dampaknya.
"Omzet saja biasa ya maaf ya gitu, kita biasa sehari kadang-kadang 600-500 (Rp500 ribu s.d Rp600 ribu, sekarang boro-boro paling 200 (Rp200 ribu). Anak-anak saja biasa ngumpul gitu kan, asap begini kan sekalipun anak-anak ngumpul gitu kan pakai masker enggak bisa berlama-lama gitu kan, pengap, terasa banget sih," ujar Edi saat ditemui reporter Tirto di rumahnya, Senin (6/7/2026).
Menurut Edi kebakaran TPA Jatiwaringin kali ini yang terparah sejak dirinya tinggal selama 38 tahun di sana. Tak dipungkiri Edi, pembakaran kerap terjadi, namun api dan asapnya tidak pernah besar seperti peristiwa kali ini.
"Memang sering ada asap gini tapi enggak lama gitu. Paling lama misalnya sehari juga besoknya sudah hilang," ucap Edi.
Menurut Edi, asap yang timbul pada kebakaran kali ini benar-benar berdampak bagi warga hingga mengurung diri di rumah. Meskipun, asap itu juga masuk ke dalam rumah.
Diakui Edi, anaknya sempat batuk-batuk dan mendapatkan pertolongan medis dari Dinas Kesehatan setempat dengan diberikan obat dan masker. Namun, tidak hanya itu saja dampaknya, karena kenyamanan di rumah menjadi hilang dengan suara helikopter yang terus berputar dari pagi sampai sore hari untuk melakukan water bombing.
Jauh sebelum kejadian kebakaran ini, kata Edi, dampak dari keberadaan TPA Jatiwaringin sudah dirasakannya. Kala hujan, bau menyengat selalu datang.
Di sisi lain, air tanah yang digunakan untuk aktivitas sehari-hari warga juga sudah tercemar. Padahal, anaknya memiliki tingkat sensitivitas tinggi.
"Kalau yang dampak lain sebelum ini sih seperti air ya, mandi karena saya punya anak kecil, sempat juga anak saya jadi merah-merah kulitnya sampai saya mandiin anak tuh pakai galon gitu. Jadi ya pengeluaran juga harus ekstra kan gitu, sedangkan pendapatan di masyarakat seperti kayak saya waduh sangat lelah gitu," ungkap Edi.

Tak jauh berbeda, warga di perumahan Pondok Permata Rajeg Mulya juga merasakan dampak asap dari kebakaran TPA Jatiwaringin. Meski jarak TPA ke perumahan ini sekitar 1 km, namun angin tetap membawa asap sisa bakaran dengan pekat.
Terlihat pintu-pintu rumah warga yang mayoritas ditutup, meski sejumlah anak masih asik bermain di luar dengan menggunakan masker. Sigit Triyawan selaku Ketua RT 04 Perumahan Pondok Permata, Rajeg Mulya, menyebut bahwa warganya sudah mulai terbiasa dengan asap ini, meski pembatasan aktivitas masih terjadi.

Sigit yang juga pedagang mie ayam menyebut bahwa dirinya juga tetap beraktivitas menjajakan dagangannya di jarak 500 meter dari lokasi. Pembeli pun tetap banyak dan membuatnya kewalahan karena juga harus membagi waktu mengurus warganya.
Bagi warganya, dampak yang sangat terasa adalah kepada lansia. Dia beberapa kali harus membawa warga untuk mendapat penanganan medis karena sesak nafas.
Meski demikian, sebagian besar warga memilih bertahan di rumah. Ketidaknyamanan berada di pengungsian karena terlalu ramai, membuat sebagian warga lebih memilih ke rumah sanak saudara.
"Iya, sampai sekarang masih ada yang ngungsi. Tadi didata masih masih ada, cuma sudah berkurang sih dari sebelumnya, sudah mulai berkurang," tutur dia saat ditemui di rumahnya.
Pemerintah Susun Penanganan Jangka Panjang
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) segera melakukan rehabilitasi tata kelola kawasan TPA Jatiwaringin, setelah optimalisasi pemadaman tim gabungan selesai dilakukan.
"Pasti akan kami lakukan (rehabilitasi). Upaya dilakukan sesuai pengaturan sampah ini dengan lebih baik lagi, tidak dengan menggunakan pendekatan open dumping," kata Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLH Rasio Ridho Sani di Tangerang, sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (6/7/2026).
Langkah rehabilitasi dinilai penting untuk mempercepat penanganan, dimana melalui penutupan TPA yang masih menggunakan sistem open dumping, sebagai upaya menekan risiko kebakaran hebat dan pencemaran lingkungan yang kerap melanda area pembuangan sampah.
"Langkah penting yang harus kami lakukan pertama adalah penutupan TPA open dumping. Praktik ini menimbulkan risiko pelepasan gas metana yang berbahaya bagi lingkungan dan memicu perubahan iklim, serta risiko ledakan atau kebakaran," ucap dia.
Selain memicu kebakaran, kata dia, sistem pembuangan terbuka juga berisiko tinggi menghasilkan cairan lindi saat memasuki musim hujan.
"Jika TPA dibiarkan terbuka, air hujan akan membawa zat pencemar tersebut dan menyebarkannya ke lingkungan sekitar," ungkap Rasio.
Sementara itu, mengenai kepastian hukum atas tata kelola TPA yang buruk, pihak KLH menekankan fokus utama pemerintah adalah memitigasi kebakaran yang sedang terjadi agar tidak meluas.
"Mengenai potensi sanksi bagi pengelola, dikoordinasikan lebih lanjut dengan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Ditjen Gakkum) KLH. Namun, evaluasi total terhadap tata kelola persampahan akan tetap berjalan pasca-pemadaman," ujar Rasio.

Dalam hal ini KLH terus membantu penanganan pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin melalui operasi gabungan yang dilakukan petugas dari berbagai unsur. Pengerahan drone thermal untuk mendeteksi radiasi panas untuk menganalisa sumber kebakaran, titik-titik apinya juga sudah dilakukan.
Selanjutnya, dengan mengerahkan dua sistem monitoring bergerak yang bertujuan memantau udara di lokasi kebakaran. Salah satunya memonitor seperti SO2 (Sulfurdioxide), NO2 (Nitrogen dioxide), dan juga PM 1.0 dan PM 2.5.
Dengan karakteristik yang sama seperti kebakaran lahan gambut, pemerintah melalui Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah menerjunkan 30 personel tim Manggala Agni dari wilayah Sulawesi dan Jawa Barat. Mereka juga sudah memiliki pengalaman cukup baik dengan dilengkapi peralatan high pressure yang khusus, melakukan pemadaman langsung ke titik api di bawah permukaan tumpukan sampah.
Selain itu melalui BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan skema operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) guna membantu percepatan pemadaman, sehingga situasi kedaruratan kebencanaan kebakaran yang mencapai kurang lebih 18 hektare bisa segera terkendali.
Penulis: Ayu Mumpuni
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































