Menuju konten utama
GWS

Kompleksitas Obesitas, dari Evolusi sampai Soal Polusi

Obesitas bukanlah "kesalahan" pribadi. Faktor eksternal berpengaruh besar terhadap kegemukan seseorang, dari soal gen sampai urusan kebijakan.

Kompleksitas Obesitas, dari Evolusi sampai Soal Polusi
Header Mozaik Hari Obesitas Dunia

tirto.id - Selama ini, sebagian besar orang menganggap kenaikan berat badan adalah hasil dari makan terlalu banyak plus kurang gerak. Akan tetapi, realitasnya tidaklah sesederhana itu. Ada banyak sekali faktor yang membuat seseorang jadi cenderung lebih mudah mengalami kenaikan berat badan dibanding penurunan berat badan.

Secara sederhana, faktor-faktor ini bisa dibagi menjadi dua, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal mencakup kondisi biologis tubuh, sementara faktor eksternal adalah lingkungan yang memengaruhi seseorang, terutama dalam relasinya dengan makanan.

Bicara soal kondisi biologis, sebagai manusia, tubuh dan otak telah berevolusi sedemikian rupa untuk memproteksi diri dari penurunan berat badan. Ketika seseorang mulai kehilangan berat badan, tubuhnya bakal bereaksi seakan-akan dia sedang dalam bahaya. Hormon lapar melonjak, nafsu makan meronta-ronta, dan tubuh membakar lebih sedikit kalori dibanding biasanya. Respons alami ini berkembang dari manusia purba yang masih rentan terhadap kelaparan karena kelangkaan makanan. Lantaran lemak dianggap sebagai cara bertahan hidup, tubuh pun beradaptasi sedemikian rupa sehingga tidak kehilangan zat itu terlalu banyak.

Menariknya, atau bisa juga celakanya, otak manusia senantiasa mengingat berat badan tertinggi yang pernah kita capai. Otak menganggap, kenaikan berat badan merupakan suatu "new normal" yang terus-menerus diperbarui olehnya. Inilah alasan menurunkan berat badan itu sulit setengah mati, tetapi menjadi gemuk seperti sediakala sangat mudah dilakukan.

Saat berat badan turun melewati batas "new normal" tadi, otak bakal merespons dengan menaikkan nafsu makan serta menurunkan level penggunaan energi. Mekanisme ini bekerja melalui proses komunikasi yang kompleks antara otak, hormon, dan organ-organ, seperti usus, hati, pankreas, bahkan jaringan lemak.

Bicara soal komunikasi antara usus dan otak, ketika seseorang sedang makan, ada sejumlah hormon yang dilepaskan oleh tubuh, termasuk GLP-1 dan PYY. Hormon-hormon tersebut berfungsi mengirim sinyal yang mengatur kapan seseorang merasa kenyang, lapar, dan mulai mencerna makanan.

Itulah alasan belakangan ini muncul obat-obatan, seperti Wegovy dan Ozempic, yang disebut-sebut sangat ampuh menurunkan berat badan. Obat-obatan tersebut bekerja dengan cara meniru aktivitas hormon yang berasal dari usus tadi. Tanpa makan apa pun, ketika kita mengonsumsi obat-obatan tersebut, otak kita bakal tetap menerima sinyal kenyang sehingga nafsu makan pun menurun.

Akan tetapi, tidak semua orang merespons obat-obatan tersebut dengan cara sama. Karenanya, tidak semua yang mengonsumsinya mengalami penurunan berat badan. Dalam sebuah uji klinis, ditemukan bahwa berat badan satu kelompok partisipan hanya turun kurang 5 persen, sehingga tidak dianggap berarti secara klinis.

Salah satu alasannya adalah faktor genetik. Studi yang dilakukan Harvard Medical School mengungkap betapa kuatnya faktor genetik dalam menentukan berat badan seseorang. Baik BMI (Body Mass Index) maupun distribusi lemak sama-sama bisa diturunkan dengan persentase antara 30 sampai 80 persen.

Hal itu makin diperkuat dengan beberapa studi lainnya yang juga disebutkan dalam paper Harvard Medical. Misal, dalam studi yang melibatkan anak adopsi, ditemukan bahwa berat badan anak-anak itu tidak mengikuti berat badan orang tua asuhnya. Kemudian, pada eksperimen overfeeding (memberi makan terlalu banyak), berat badan anak kembar identik (monozigotik) bakal naik secara identik pula.

Itulah alasan ada orang-orang yang disebut "bakat gemuk" dan ada pula yang tidak. Orang yang tidak berbakat gemuk tidak akan mengalami penambahan berat badan signifikan kendati makan banyak. Sebaliknya, orang yang berbakat gemuk bakal sangat mudah naik berat badannya walaupun tidak makan sebanyak itu.

Selain itu, tentu saja, ada faktor evolusi seperti yang sebelumnya sudah disebutkan. Jika dulu, ketika makanan masih sulit dicari dan manusia masih rentan kelaparan, sinyal otak yang meningkatkan nafsu makan itu berguna untuk bertahan hidup, sekarang justru sebaliknya.

Kecuali di tempat-tempat tertentu, manusia modern tidak mengalami kelangkaan makanan seperti para moyangnya. Ketika otak memerintahkan untuk terus makan, kita akan dengan mudah mendapatkan itu semua dan berat badan pun dijamin bakal meroket.

Faktor Eksternal Obesitas

Adapun, selain faktor biologis, faktor lingkungan juga berperan besar dalam menciptakan masyarakat yang rentan mengalami obesitas. Lingkungan yang dimaksud sangatlah luas, mulai dari jenis makanan yang tersedia, tata kota, kebijakan pemerintah, bahkan cara kita dididik pada masa kecil.

Soal jenis makanan yang tersedia, saat ini kita bisa dengan mudah menemukan makanan ultra-processed tinggi kalori yang bisa dibeli dengan harga lebih murah dibanding makanan sehat. Itulah alasan, menurut riset National Library of Medicine, orang dari keluarga miskinlah yang lebih rentan mengalami obesitas. Setidaknya, begitulah yang terjadi di Amerika Serikat.

Celakanya lagi, makanan-makanan tidak sehat tadi dipromosikan secara masif oleh korporasi-korporasi yang berada di belakangnya. Anak-anak kecil biasanya menjadi korban, di mana mereka lantas menganggap makanan tidak sehat alias junk food itu lebih lezat dibanding makanan sehat yang mungkin sudah disiapkan orang tua mereka masing-masing di rumah.

Studi Cambridge University secara tegas menyatakan, eksposur pada pemasaran makanan membuat konsumsi makanan tersebut meningkat. Oleh karena itu, para peneliti pun menyarankan agar pemasaran makanan siap saji, khususnya kepada anak-anak, dibatasi.

Berikutnya, ada desain tata kota yang membuat orang jadi malas bergerak. Riset Stanford University menyebut Indonesia sebagai negara paling malas jalan kaki. Akan tetapi, riset itu gagal menjelaskan apa penyebabnya.

Tengok saja trotoar-trotoar yang tersedia. Layakkah trotoar-trotoar itu digunakan para pejalan kaki? Sistem transportasi umum yang kurang memadai dan terintegrasi juga membuat orang cenderung lebih suka menggunakan kendaraan pribadi dan, konsekuensinya, porsi jalan kaki pun jadi sangat minim. Minimnya ruang terbuka hijau (di DKI Jakarta hanya 5,2 persen dari total luas wilayah) juga membuat orang tidak memiliki ruang untuk beraktivitas fisik.

Tentu saja, persoalan tata kota itu tidak bisa dilepaskan dari kebijakan. Kendatipun upaya untuk terus meningkatkan jangkauan dan integrasi transportasi umum terus dilakukan, hasilnya belum cukup. Apalagi, inisiatif untuk membuat kota ramah pejalan kaki juga belum terlihat di mana pun di Indonesia, kecuali mungkin di distrik bisnis Jakarta.

Satu persoalan lain, yang juga berkaitan dengan kebijakan dan tidak boleh dilupakan adalah polusi. Studi BMC Public Healthmenyebut, polutan di udara bisa memengaruhi metabolisme tubuh. Selain itu, tentu saja, kualitas udara membuat orang cenderung memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam ruangan dan tidak banyak melakukan aktivitas fisik.

Apakah ini semua berarti seseorang tidak punya kendali atas tubuhnya? Tentu saja tidak begitu. Semua yang dituliskan di sini hanya berfungsi menjelaskan betapa kompleksnya perkara obesitas. Mulai dari otak warisan nenek moyang, lemak yang diwariskan orang tua, masifnya promosi makanan-makanan tidak sehat, sampai minimnya infrastruktur untuk beraktivitas fisik, semua berpengaruh pada kondisi tubuh seseorang.

Baca juga artikel terkait OBESITAS atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - GWS
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin