Menuju konten utama

Kompetisi Startup LKYGBPC 2025 Perkenalkan Deep Tech Global

Global Deep Tech Accelerator diperkenalkan di ajang kompetisi startup LKYGBPC 2025, hadirkan 60 startup generasi baru untuk dorong inovasi berkelanjutan.

Kompetisi Startup LKYGBPC 2025 Perkenalkan Deep Tech Global
(Dari kiri ke kanan) Professor Lim Sun Sun, Vice President of Partnerships and Engagement, Singapore Management University, Professor Alan K L Chan, Provost, SMU, Minister Chee Hong Tat, Minister of National Development, Ms. Beth Henderson, Lead, Startup Programmes, The GEAR by Kajima, Mr. Khoo Teng Lip, Head, ST Engineering Ventures, Mr. Jonathan Cheng, Chief Technology Officer, Building and Construction Authority (BCA). (FOTO/dok. LKYGPBC)

tirto.id - Singapore Management University, Institute of Innovation & Entrepreneurship (SMU IIE) resmi meluncurkan Urban SustaInnovator di ajang Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition (LKYGBPC) edisi ke-12, pada Senin (29/9/2025).

Sebagai inisiatif unggulan dari LKYGBPC edisi ke-12, peluncuran program ini disaksikan oleh Menteri Pembangunan Nasional Singapura, Chee Hong Tat, pada upacara pembukaan Pekan Babak Grand Final yang berlangsung dari 29 September hingga 2 Oktober 2025.

Urban SustaInnovator adalah sebuah program akselerator yang pertama dan difokuskan untuk mendorong pertumbuhan serta memperkuat terobosan di bidang solusi perkotaan dan keberlanjutan.

Didedikasikan untuk menghimpun dan membina startup inovatif terbaik, kehadiran Urban SustaInnovator (USI) menegaskan peran SMU yang kian berkembang sebagai pusat pengembangan deep tech sekaligus pintu gerbang penting menuju ekosistem inovasi dan kewirausahaan Asia yang terus berkembang.

Tim startup Oculab

Tim startup Oculab dari Universitas Indonesia (UI) di babak final 12th Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition (LKYGBPC) yang diselenggarakan oleh Singapore Management University (SMU). tirto.id/Yulaika Romadhani

LKYGBPC, kompetisi startup dua tahunan yang telah digelar SMU selama lebih dari dua dekade, akan menjadi saluran yang tepat dalam melahirkan talenta bagi USI.

Tahun ini, kompetisi mencatat rekor dengan 1.572 pendaftar dari 91 negara, naik hampir dua pertiga dibanding edisi sebelumnya. Sorotan tertuju pada 60 finalis global yang bersaing memperebutkan total hadiah senilai S$2,5 juta berupa uang tunai, dukungan non-tunai, serta mentorship dari mitra terkemuka seperti Antler, Indorama Ventures, dan mitra yang kembali mendukung seperti Sino Group dan The GEAR by Kajima.

Fokus Urban SustaInnovator: Menjawab Tantangan Perkotaan yang Mendesak

USI hadir di saat yang krusial ketika kota-kota di berbagai kawasan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dekarbonisasi, transisi energi, hingga pembangunan dan mobilitas berkelanjutan, ditambah meningkatnya biaya akibat minimnya aksi terhadap perubahan iklim.

Melalui Singapore Green Plan 2030 yang telah menetapkan prioritas nasional secara nyata, USI hadir di waktu yang tepat dan berada pada posisi strategis untuk mengarahkan inovasi dalam menjawab kebutuhan mendesak tersebut.

Program USI dinamakan demikian, karena menjadi akselerator global pertama di Singapura yang didedikasikan untuk mengembangkan sekaligus memperkuat solusi terobosan di bidang perkotaan dan keberlanjutan.

Diselenggarakan oleh SMU IIE, program ini berdurasi 12 bulan dengan format hybrid non-residential dan terbuka bagi startup yang memenuhi syarat dari seluruh dunia.

Program non-residential ini tidak mengambil ekuitas dan bebas biaya, didukung oleh kolaborasi kuat antara institusi publik dan swasta, termasuk A*STAR, Antler, Building Construction Authority, Energy Market Authority, ST Engineering, The GEAR by Kajima, TRIREC, dan Wavemaker Partners.

SMU konsisten mendukung pertumbuhan startup berbasis keberlanjutan. Hampir 40% startup dari inkubator SMU IIE, Business Innovations Generator, berfokus pada solusi yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) untuk mendorong inovasi berkelanjutan.

Dalam lima tahun terakhir, startup-startup tersebut berhasil menghimpun pendanaan lebih dari S$1,15 miliar.

Profesor Lim Sun, Vice President of Partnerships and Engagement SMU sekaligus Chair USI Programme Management Council, menyatakan, “Peluncuran Urban SustaInnovator mencerminkan komitmen SMU untuk menyalurkan riset dan inovasi menjadi dampak nyata, serta bekerja sama dengan para mitra strategis kami dalam menjawab tantangan global yang paling mendesak. Menghubungkan talenta startup global dengan ekosistem Singapura tidak hanya dapat memicu lahirnya solusi revolusioner untuk masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan, tetapi juga memperkuat pertukaran pengetahuan dan keterampilan bagi tenaga kerja lokal.”

Komitmen strategis Singapura terhadap inovasi juga tercermin dari peringkatnya yang menempati posisi ke-4 dunia dalam 2025 Global Startup Ecosystem Index oleh StartupBlink, naik signifikan 12 peringkat sejak 2020. Singapura juga menguasai hampir 60% arus pendanaan modal ventura di Asia Tenggara.

“USI melengkapi inisiatif nasional seperti National Graduate Research Innovation Programme (National GRIP) dengan membentuk lingkaran startup deep tech, berpotensi tinggi yang menghadirkan solusi pada titik temu keberlanjutan perkotaan, teknologi, dan bisnis dari universitas di seluruh dunia,” tambahnya.

Akselerator Baru untuk Menguatkan Talenta Global Deep Tech: Cara Kerja USI

Di USI, setiap startup mendapat pendampingan khusus secara personal dengan seorang mentor utama yang ditunjuk dari industri bisnis, sains, maupun pemerintah, guna memastikan kesinambungan serta arahan yang sesuai kebutuhan.

SMU IIE bekerja sama dengan mentor utama untuk menyusun sesi konsultasi yang menyesuaikan kebutuhan unik bagi setiap startup.

Startup juga mendapat manfaat dari pembelajaran kolektif (peer learning) melalui komunitas yang menghubungkan founder, mentor, dan mitra, sehingga mendorong berbagi pengetahuan serta kolaborasi.

Program ini memberikan dukungan praktis untuk pertumbuhan, mulai dari arahan penggalangan dana, perkenalan industri, bantuan rekrutmen, hingga akses validasi laboratorium dan akreditasi untuk percepatan komersialisasi.

Peserta juga dapat memperluas jaringan di Asia lewat Overseas Centres milik SMU serta berbagai acara, mulai dari membangun jejaring, pertemuan sosial, hingga agenda pertemuan tahunan, yang membuka peluang kolaborasi dan visibilitas yang lebih luas.

Mendorong Inovasi dan Kewirausahaan di Kalangan Mahasiswa Singapura

Tim startup Oculab

Tim startup Oculab dari Universitas Indonesia (UI) di babak final 12th Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition (LKYGBPC) yang diselenggarakan oleh Singapore Management University (SMU). tirto.id/Yulaika Romadhani

Selama empat hari, LKYGBPC akan menghubungkan mahasiswa perguruan tinggi di Singapura dengan jaringan penting, sekaligus memperkuat posisi Singapura sebagai pusat global bagi talenta dan inovasi.

Fokus acara ini mencakup LKYGBPC Talent Xchange, di mana mahasiswa berkesempatan mempresentasikan diri kepada para pendiri deep tech untuk peluang magang. Ada pula sesi yang sangat dinantikan, VC Office Hour, yang memberikan bimbingan langsung secara personal dari investor modal ventura kepada seluruh startup.

Untuk jadwal kompetisi, dapat dilihat melalui laman Grand Finals | Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition.

Kompetisi dan berbagai inisiatifnya selaras dengan visi Research, Innovation and Enterprise 2030 (RIE 2030) Singapura, yang menempatkan negara ini sebagai pusat global terpercaya untuk kolaborasi dalam menyelesaikan tantangan nyata dunia.

Heng Swee Keat, Chairman National Research Foundation Singapore, akan hadir menyaksikan Grand Final pada 2 Oktober 2025, saat delapan tim terbaik berkompetisi memperebutkan juara Chancellor’s Cup for Beta Innovation dan Chancellor’s Cup for Infinity Impact.

Informasi lebih lanjut mengenai hadiah kompetisi dapat dilihat melalui laman resmi Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition.

Baca juga artikel terkait STARTUP atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Edusains
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Iswara N Raditya