Idulfitri 2022

Kisah Mereka yang Rela Tak Mudik Lebaran: Rindu Sungkem Keluarga

Reporter: Adi Briantika - 6 Mei 2022 07:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Edo dan tujuh rekan satu kompinya di Dinas Damkar Jaksel bersiaga selama 24 jam dan rela tidak mudik Lebaran tahun ini.
tirto.id - “Saya cari kepalanya, enggak ketemu. Cuma sisa badan saja, itu pun gosong. Rusuknya, dagingnya, terlihat jelas.” Lalu ia mencari lagi, mengais di sisa reruntuhan. “Nah, tengkoraknya berhasil saya temukan.”

Edo Novandanu, personel Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan, yang mengisahkannya kepada Tirto. Pencarian anggota tubuh itu adalah satu peristiwa yang ia alami selama empat tahun bertugas sebagai pemadam. Jumat malam, 30 April 2022, saya menemui Edo di Pos Pemadam Kebakaran Badan Diklat Kejaksaan Republik Indonesia, Jalan RM. Harsono, Pasar Minggu.

Edo dan tujuh rekan satu kompinya bersiaga selama 24 jam hingga pukul 8 pagi esok harinya. Jelang Lebaran, para pemadam ini tak semuanya mudik. Edo, pria 23 tahun berposisi sebagai ‘penyerang’, adalah salah satu personel yang mesti melek guna menyapu si jago merah jika diperlukan dan tak berkesempatan pulang kampung.

Lulus dari SMK Ma’arif 2 Gombong tahun 2017, ia kemudian menjejak Ibu Kota. Mendaftar sebagai petugas brandweer. Lantas tahun berikutnya ia mulai resmi berdinas usai mengikuti serangkaian pelatihan. Edo mengaku siap lahir batin untuk bersiaga jelang Idulfitri. “Sebenarnya, sih, keluarga menunggu di kampung. Tapi saya menikmati pekerjaan ini. Dibikin senang saja, lagipula di sini banyak teman.”

Keluarga Edo kerap memintanya mudik setahun sekali, berlebaran di tanah kelahiran. Namun, Edo merasa bertanggung jawab untuk bertugas. Bahkan ia belum tahu apakah seusai Lebaran kali ini bakal mudik atau tidak. Selama bertugas, dia hanya pulang kampung sekali, empat tahun lalu. Itu pun menggunakan satu hari liburnya, ia sempatkan bertemu keluarga sebelum lusa kembali mengecek unit kendaraan dan apel pagi-malam.

Kalau rindu sungkem dengan orang tua dan famili, Edo, pria 23 tahun berposisi sebagai ‘penyerang’ api langsung meraih gawainya. “Saya berlebaran via telepon atau panggilan video,” tutur dia. Namun, sebelum ia angkat pantat dari indekosnya di kawasan Pasar Minggu, ia mengabari kondisinya dan meminta restu ibu.

Awal Edo berdinas, ia kembali ke rumah sewa usai piket hari raya Lebaran. Ia menemukan hanya dirinya dan ruang tidurnya. “Saya sedih. Tapi saya yakin, setiap langkah saya ini adalah ibadah.”



Bukan Sekadar Piket


Bagi para pembasmi api ini, menunggu bisa jadi hal yang menjemukan. Apel, olahraga, korve, berdiskusi soal pemadaman, bertukar pengalaman pun mereka jalani ketika di markas. Semua upaya tersebut sebagai upaya membunuh waktu.

Keberadaan mereka di pos jaga pun sebagai bentuk kesiagaan ketika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan setiap saat.

“Kami pernah ambil penyuara telinga yang jatuh di selokan. Pernah juga menurunkan kucing di cakar ayam jembatan, kami lengkap dengan memakai sabuk tubuh,” ucap Stefan Hasudungan, rekan Edo. Bagi Stefan yang tidak merayakan Idulfitri, ia turut terharu ketika hari Lebaran tiba.

Dia menjabat tangan rekan-rekannya sambil mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri kepada kawannya yang tak bisa mudik. “Saya terenyuh,” kata dia yang telah berdinas lima tahun. “Kalau saya rayakan Natal, mereka juga berjaga. Di sini pluralisme terasa, penuh toleransi.”

Jaga markas bukan perkara giliran piket bergantian tergantung perayaan keagamaan semata, tapi rasa tanggung jawab terhadap profesi yang diutamakan. Saling menjaga satu sama lain ketika membahu menembakkan air ke titik api, bercengkerama ketika senggang, menjadi kekuatan mereka melewati kerinduan hari raya.

Ketika Ramadan biasanya ada saja bangunan yang dilumat api. Misalnya, kobaran yang melahap 400 bangunan rumah dan pertokoan di Pasar Gembrong, Jakarta Timur, Minggu, 24 April 2022. Korsleting listrik di salah satu rumah warga jadi penyebab, lantas api merembet ke bangunan lain. Imbasnya, 450 keluarga dengan 1.000 jiwa kehilangan tempat tinggal.

Pada 2018, selama Ramadan periode 17 Mei-14 Juni, frekuensi kebakaran di Jakarta mencapai 147 kejadian. Terdiri dari 25 kasus di Jakarta Pusat, 22 kasus di Jakarta Utara, 20 kejadian di Jakarta Barat, 35 peristiwa di Jakarta Selatan dan 40 peristiwa di Jakarta Timur. Dugaan penyebabnya didominasi oleh arus pendek listrik, lilin, dan gas.

Jadi, para pemadam ini tak makan gaji buta. Bukan berarti mereka duduk-duduk di poslantas tak bekerja. “Jika ada hal bersifat darurat, kami turun. Masalah sepele soal penyuara telinga jatuh ke selokan, buat orang lain itu sepele. Tapi buat si pelapor, itu hal besar dan mereka butuh bantuan kami. Kami tindaklanjuti,” terang Stefan.

Edo dan Stefan harus bersiaga hingga 1 Mei atau selama 24 jam kerja, mereka akan bergiliran tidur per dua-tiga jam. Kemudian mereka libur, lalu kembali berdinas pada 3 Mei. Bagaimana dengan hari H Lebaran? Tentu Edo dan rekan-rekannya yang tak bisa mudik bakal temu kangen keluarga via ponsel.


Rela Menunda Pulang


Wahyu Setia Utama dan 19 rekannya bergiliran mengatur arus lalu lintas di Simpang Pangkalan Jati, Jakarta Timur. Dengan seragam Pramuka kebanggaan, mereka menjadi mitra Polri selama rangkaian mudik Lebaran tahun 2022.

“Peran Pramuka, kami hanya mengatur lalu lintas supaya tidak terjadi kemacetan dan membantu polisi [mengevakuasi] jika ada kecelakaan, misalnya,” ucap Wahyu, Kamis (28/4/2022).

Tahun ini merupakan tahun keenam ia menjadi relawan. Biasanya per hari, ada lima anggota Pramuka yang bertugas. Mereka bekerja empat jam sejak pukul 16.00 WIB.

“Kecuali H-2 dan H-1, biasanya pukul 16.00-00.00 WIB. Kemungkinan lembur hanya untuk Dewan Saka, lembur hingga subuh sebelum salat Id,” kata dia yang merupakan Wakil Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Duren Sawit.

Artinya, Wahyu dan Ketua Dewan Saka yang bakal lembur, sedangkan anggotanya tetap membantu hingga tengah malam. Wahyu bilang tak ada paksaan bagi anggota Pramuka untuk berdinas dalam rangkaian mudik –biasa disebut Karya Bakti Lebaran--, bagi mereka yang ingin pulang kampung, silakan saja.

Namun, ketika saya sambangi Wahyu malam itu, saya melihat sekitar 20-an anggota Pramuka yang memenuhi pos dan sekitar persimpangan. Ya, bisa dibilang anak-anak muda inilah yang memilih untuk melayani publik sebelum --atau bahkan tidak-- mudik.

Mereka menyebar di beberapa titik persimpangan, membawa tongkat berlampu LED merah kelap-kelip, dan menertibkan para pengendara.

Wahyu akan mudik ke Purbalingga setelah hari raya, usai ia bertugas. “Orang-orang lebih dahulu, ini, takut terjadi kemacetan. Saya pilih setelah Lebaran saja,” sambung dia.

Bagi Wahyu, keikutsertaannya bukan perihal dapat sertifikat dari kepolisian jika kegiatan tersebut rampung, tapi menolong sesama. “Saya ingin bantu masyarakat dahulu supaya mereka aman dan nyaman saat pulang kampung.”


Baca juga artikel terkait LEBARAN 2022 atau tulisan menarik lainnya Adi Briantika
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Maya Saputri

DarkLight