tirto.id - Di bawah terik matahari serta asap knalpot bus shalawat (salat lima waktu) di Terminal Syib Amir, ada sosok polisi berpangkat AKP yang sigap mengawasi pelayanan. Ia adalah Iswan Brandes, anggota kepolisian dari Polda Gorontalo.
Pada pelaksanaan haji tahun ini, pria kelahiran 5 Mei 1984 ini, dipercaya sebagai Kepala Pos (Kapos) Terminal Syib Amir. Terminal ini melayani jemaah haji dari sejumlah sektor di wilayah Syishah, Raudhah, dan Syishah-Raudhah.
Lokasinya hanya berjarak kurang lebih satu kilo meter dari Masjidil Haram. Namun, Brandes dan petugas transportasi yang berjaga di terminal ini tidak selalu berkesempatan salat berjamaah di Masjidil Haram. Sebab, di saat waktu salat lima waktu biasanya terminal akan penuh dengan jemaah yang berdatangan.
Brandes dan tim transportasi di terminal terbesar di sekitar Masjidil Haram ini bertugas mengatur pergerakan bus dan membantu melayani jemaah haji Indonesia. Tujuannya cuma satu: agar jemaah tidak kebingungan.
Meski saat ini baru sebagian jemaah yang tiba di Makkah, tapi Brandes dan tim transportasi tidak bisa leha-leha. Bahkan, mereka makan hingga tidur di terminal.
Brandes mengakui kesibukan saat ini masih belum apa-apa dibandingkan saat semua jemaah haji sudah tiba di Makkah.
"Ini belum ada apa-apanya. Nanti [sekitar] 100.000 jemaah haji Indonesia akan lewat terminal ini," kata Brandes, saat diwawancara Tim Media Center Haji (MCH) 2026.
Sebagai informasi, jemaah haji reguler Indonesia total berjumlah 203.320 jemaah dan mereka akan dilayani bus shalawat di tiga terminal, yaitu Syib Amir, Jabal Ka'bah, dan Ajyad. Bus shalawat ini beroperasi 24 jam yang mengangkut jemaah haji Indonesia pulang pergi dari hotel menuju Masjidil Haram.
Belajar Sabar di Terminal
Bertugas di terminal, bukan hanya panas-panasan di bawah terik matahari Makkah yang beberapa hari ini selalu di atas 40 derajat celcius, tapi juga menguras tenaga. Belum lagi harus berhadapan langsung dengan jemaah haji Indonesia yang keluhannya bermacam-macam. Karena itu, petugas di terminal harus ekstra sabar.

"Tapi saya menikmati, saya belajar sabar di terminal," kata Brandes dengan yakin.
Brandes meyakini bertugas di terminal sebagai replika Padang Arafah, sebab jutaan manusia melakukan wukuf saat puncak haji. Ia belajar sabar melayani di bawah terik matahari yang cukup menyengat.
"Replika padang pasir sebenarnya adalah di terminal karena panas yang sesungguhnya itu dapat di terminal. Kalau di Arafah panasnya dari atas, di sini dari bawah dan dari atas," kata Brandes.
Brandes bercerita, ini pengalaman kedua menjadi penanggung jawab terminal. Pada musim haji 2024, ia dipercayakan sebagai Kapos Terminal Ajyad yang biasanya melayani sejumlah sektor jemaah haji di wilayah Misfalah.
Tahun ini, Brandes mengaku ditawari untuk menjadi salah satu kepala sektor, tapi ia menolak dan memilih mengurus terminal. Lalu, apa alasannya?
“Saya sengaja berdoa minta kepada Allah untuk bisa melayani jemaah haji asal Sulawesi yang tahun ini hotelnya banyak di Syishah. Dan busnya di Syib Amir ini. Maka saya minta agar bisa menjadi kepala pos terminal Syib Amir,” kata perwira polisi bergelar doktor ini.
Brandes mengaku tertantang untuk meningkatkan kepuasan jemaah pada pelayanan haji pemerintah, khususnya di terminal bus shalawat.
Sebab, angka kepuasan jamaah haji atas transportasi tahun lalu mencapai 93 persen, maka ia tertantang meningkatkannya lagi bersama seluruh petugas yang lain.
Hari ini, Selasa, 5 Mei 2026, adalah hari ulang tahun Brandes. Ia sempat membagikan video pendek ke grup WhatsApp tim MCH.
Kata Brandes dalam videonya, mungkin orang menyangka dirinya merayakan ulang tahun di depan tumpeng, keluarga, dan sanak famili. Namun, ia meresapi hidupnya tanpa kue, tumpeng, dan lilin yang menyala.
“Tapi, hari ini saya merayakan ulang tahun di tengah terminal, terik panas matahari, beratap langit, dan aspal panas. Saya bersyukur mendapati umur yang sudah harus berpikir waktu kembali.
“Saya melayani tamu Allah, saya merayakan ulang tahun yang kedua kali di terminal, semoga berkurangnya umur menjadi berkah menjadi persiapan kehidupan di masa mendatang."
“Saya sedang marayakan ulang tahun kami hari ini di Terminal Syib Amir. Terima kasih doa bapak ibu semua, semoga saya diberi kesehatan bisa menyelesaikan melayani jamaah di Terminal Syib Amir,” kata dia.
Sebagai petugas, kita bisa melayani jemaah di manapun. Barangkali meski jarang berjamaah di Masjidil Haram, Brandes dan para petugas haji lainnya justru mendapatkan kemabruran dari keikhlasan dan ketulusan melayani dhuyufurrahman ini.
Saat diklat di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, kalimat yang sering saya dengar adalah "kita mesti melayani para jemaah ini dengan sungguh-sungguh, barangkali ini adalah perjalanan terakhir mereka ke Tanah Suci."
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id































