tirto.id - Sejumlah umat Buddha memperingati Waisak tahun ini dengan menggelar kirab patung Bodysattva Siddharta dari Rumah Dinas Wali Kota atau Loji Gandrung sampai Balai Kota Solo, Sabtu (10/5/2025) malam.
Kirab dimulai dari Loji Gandrung dengan menyusuri jalan utama Brigjen Slamet Riyadi menuju Balai Kota Solo yang berjarak sekitar 2,6 kilo meter.
Dari pantauan kontributor Tirto, sejumlah tokoh Kota Solo seperti Wali Kota Solo, Respati Ardi, Komandan Kodim (Dandim) 0735/Surakarta, Kol Inf Fictor Juradi Situmorang, serta Ketua FKUP Kota Solo, Mashuri, nampak mengikuti kirab tersebut bersama umat-umat Buddha.
Para umat Buddha dipimpin sejumlah Bhante (sebutan kehormatan untuk biksu), ikut mengarak patung Bodysattva Siddharta yang terbuat dari perak setinggi 0,5 meter menuju Balai Kota Solo.
Sesampainya di Balai Kota Solo, sejumlah umat Buddha tersebut melanjutkan kegiatan dengan ibadah serta memandikan patung yang telah diarak.
Ketua Panitia Penyelenggara, Sutrisno, menerangkan bahwa kegiatan kirab peringatan Waisak yang pertama kali digelar di Solo ini mengambil tema "Kebijaksanaan dasar Keluhuran bangsa".
"Kirab tadi kita membawa (Parung) Bodysatva Siddharta yang menjadi simbol pada pemandian hari ini yang menggambarkan ini satu rangkaian di Hari Trisuci Waisak. Yaitu kelahiran dari Pangeran Siddharta, kemudian Pangeran Siddharta mencapai pencerahan sempurna dan kemudian sang Budha mencapai kesempurnaan," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa ibadah yang digelar kali ini memiliki makna mendalam bagi umat Buddha. Salah satunya mengingatkan umat Buddha kepada sifat leluhurnya atau saat kelahiran Bodysatva Siddharta.
"Artinya itu sudah bebas dari penderitaan. Dan bahwa kita sebagai umat manusia mendapat motivasi bahwa hidup ini menderita, tapi ada jalan untuk lepas dari penderitaan," lanjut Sutrisno.
Sementara itu, Wali Kota Solo, Respati Ardi, menerangkan bahwa pihaknya sangat mendukung kegiatan-kegiatan serupa sebagai bentuk kerukunan umat beragama di Kota Bengawan.
"Jadi sebelumnya memang panitia audiensi di Loji Gandrung dan menyampaikan untuk acara Waisak gimana enaknya. Dan saya sampaikan harus ada kirab sebagai bentuk kerukunan umat beragama supaya kita tunjukkan kota Solo ramah untuk semuanya," ungkap Respati.
Respati juga menegaskan pihaknya akan memfasilitasi bagi umat lain yang ingin menggelar kegiatan serupa.
"Intinya kita memfasilitasi seluruhnya. Jadi bagi panitia upacara adat, upacara keagamaan, silahkan kami sangat terbuka di Loji untuk bisa mengadakan acara-acara serupa untuk agama apapun yang diakui oleh Undang-Undang Dasar," lanjut dia.
Ketua FKUB Kota Solo, Mashuri, menambahkan pihaknya juga turut mendukung digelarnya kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan keagamaan maupun adat yang didukung pemerintah maupun masyarakat sebagai cerminan Solo kota toleran.
"Kegiatan ini bagus sekali dan nanti semua agama akan kita beri ruang. Artinya dalam rangka tematiknya hari besar umat masing-masing agama," terangnya.
Mashuri juga melanjutkan bahwa DPRD Solo juga tengah menggodog terkait Peraturan Daerah (Perda) tentang Toleransi Masyarakat yang telah bergulir sejak tahun lalu. Hal itu menurut Mashuri merupakan bentuk keseriusan Kota Solo untuk menjadi Kota Toleransi kedepannya.
"Perda ini insya Allah tahun ini bisa digedog karena tahun lalu sudah jadi draft. Jadi Perda Toleransi Masyarakat sudah digedog maka Juklak dan Juklis-nya di Perwali. Ini menjadi regulasi yang menaungi toleransi jadi nanti biar tidak ada diskriminasi," pungkasnya.
Penulis: Febri Nugroho
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id


































