Menuju konten utama

Hari Raya Waisak Dirayakan Agama Hindu atau Buddha?

Hari Raya Waisak dirayakan agama Hindu atau Buddha? Kapan perayaan Hari Raya Waisak 2025 dan apa saja rangkaiannya?

Hari Raya Waisak Dirayakan Agama Hindu atau Buddha?
Upacara Trisuci Waisak. ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/aww.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hari Raya Waisak dirayakan agama Hindu atau Buddha? Hari Raya Waisak merupakan salah satu hari besar keagamaan yang diperingati setiap tahun.

Waisak biasanya jatuh pada bulan Mei atau Juni. Hal ini menyesuaikan dengan kalender lunar, tepatnya saat bulan purnama.

Momen yang sama menjadi waktu penting bagi umat Buddha di seluruh dunia untuk memperingati tiga peristiwa besar dalam kehidupan Sang Buddha: kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya. Oleh karena itu, Waisak juga dikenal sebagai Hari Tri Suci Waisak.

Agama Hindu dan Buddha memang memiliki akar sejarah yang sama. Namun, keduanya berkembang menjadi ajaran yang berbeda dengan hari raya yang khas masing-masing.

Meski sebagian masyarakat masih kerap mempertanyakan apakah Waisak dirayakan oleh umat Hindu atau Buddha, perayaan ini secara khusus merupakan bagian dari tradisi keagamaan umat Buddha.

Hari Raya Waisak Dirayakan Agama Hindu atau Buddha?

Hari Raya Waisak juga dikenal sebagai Hari Tri Suci Waisak. Ini adalah hari besar keagamaan umat Buddha yang diperingati setiap tahun saat bulan purnama di bulan Waisak menurut kalender Buddhis.

Perayaan Waisak mengenang tiga peristiwa penting dalam kehidupan Siddharta Gautama: kelahirannya di Taman Lumbini pada 623 SM, pencapaian Penerangan Sempurna di Bodh Gaya pada 588 SM, serta wafatnya atau parinibbana di Kusinara.

Selain sebagai peringatan suci, Waisak menjadi momen refleksi spiritual untuk memperdalam pengamalan nilai-nilai Buddha. Misalnya seperti kedamaian, kasih sayang, dan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam rangka menyambut hari besar Waisak, umat Buddha biasanya menjalankan sejumlah ritual keagamaan. Di antaranya membersihkan vihara, berziarah ke makam leluhur dan pahlawan, serta mengikuti puja pada saat detik-detik bulan purnama.

Bagi umat Buddha, Waisak adalah momentum memperkuat nilai-nilai kedamaian, welas asih, dan kebijaksanaan sebagai inti ajaran Sang Buddha.

LILIN PERAYAAN TRI SUCI WAISAK DI ACEH

Perayaan Tri Suci Waisak. ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/tom.

Puncak perayaan sering ditandai dengan meditasi, pembacaan kitab suci, dan pelepasan lampion yang melambangkan harapan dan pencerahan. Tak jarang, masyarakat umum juga ikut berpartisipasi sebagai bentuk penghormatan terhadap ajaran Sang Buddha.

Waisak memiliki makna mendalam. Ajaran moralitas, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama ditekankan oleh Buddha dan menjadi pondasi penting dalam memperkuat kerukunan sosial.

Dengan semangat Waisak, umat Buddha dapat terus mengamalkan Dhamma sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Buddha dan jalan menuju kehidupan yang damai.

Kapan Hari Raya Waisak Tahun 2025 dan Apa Saja Rangkaiannya?

Hari Raya Waisak tahun 2025 atau dikenal sebagai Hari Tri Suci Waisak 2569 BE (Buddhist Era) diperingati pada Senin, 12 Mei 2025. Puncak perayaan atau "Detik-detik Waisak" diperkirakan berlangsung pada pukul 23.55.29 WIB.

Tanggal tersebut ditetapkan berdasarkan kalender Buddhis yang mengikuti fase purnama atau purnama siddhi. Perayaan ini menjadi momen sakral bagi umat Buddha.

Peringatan Waisak 2025 akan terpusat di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Lokasi yang sama menjadi pusat perayaan nasional dan tempat berkumpulnya umat Buddha.

Rangkaian kegiatan Waisak bermula sejak 4 Mei 2025 dan mencapai puncak pada 12 Mei 2025. Setiap tahapan acara sarat dengan makna spiritual.

Serangkaian kegiatan diawali pada Minggu, 4 Mei 2025, dengan Karya Bakti di Taman Makam Pahlawan di berbagai daerah. Pada 10–11 Mei 2025, umat Buddha menggelar bakti sosial berupa pengobatan gratis di Zona 2 Candi Borobudur.

Hari Sabtu, 10 Mei, dilakukan pengambilan Api Dharma dari Mrapen, Grobogan, disusul upacara pensakralan di Candi Mendut. Esok harinya dilaksanakan pengambilan Air Berkah dari Umbul Jumprit, Temanggung.

Puncak perayaan pada Senin, 12 Mei, diawali Kirab Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Acara diikuti pelepasan 2.569 lampion sebagai simbol harapan dan penyucian diri.

Pelepasan lampion menjadi momen yang paling dinantikan oleh umat maupun wisatawan. Umat kemudian melakukan Pradaksina. Mereka berjalan mengelilingi Candi Borobudur sambil merenungi ajaran Sang Buddha.

Waisak 2025 mengusung tema "Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan, Wujudkan Perdamaian Dunia". Hal ini menandai tak hanya menjadi perayaan spiritual, tetapi juga ruang bersama untuk menumbuhkan nilai-nilai perdamaian dan kebersamaan.

Baca juga artikel terkait WAISAK 2025 atau tulisan lainnya dari Astam Mulyana

tirto.id - Edusains
Kontributor: Astam Mulyana
Penulis: Astam Mulyana
Editor: Beni Jo