Menuju konten utama

Khutbah Jumat 30 Mei 2025 Menyambut Idul Adha & Bulan Dzulhijjah

Khutbah Jumat 30 Mei 2025, bertepatan dengan momen 10 hari pertama Dzulhijjah 1446 H. Simak contoh khutbah tentang keutamaan Dzulhijjah dan makna Idul Adha.

Khutbah Jumat 30 Mei 2025 Menyambut Idul Adha & Bulan Dzulhijjah
Umat Islam mendengarkan khotbah saat melaksanakan shalat Jumat di Masjid Baitul Faizin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (24/3/2023). ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/hp. (ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)

tirto.id - Khutbah Jumat pekan ini pada 30 Mei 2025, bertepatan dengan momentum menyambut Idul Adha 1446 Hijriah. Oleh karena itu, khutbah Jumat pekan ini bisa membahas terkait apa saja keutamaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan 1 Dzulhijjah 1446 H jatuh pada Rabu, 28 Mei 2025. Dengan demikian, maka pada Jumat pekan ini sudah masuk pada bulannya orang-orang berhaji.

Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu yang utama dalam kalender Hijriah. Sebab, pada bulan tersebut umat Muslim sedunia menyambut Hari Raya Idul Adha, yang menjadi momentum meningkatkan ketakwaan dengan berkurban. Idul Adha dirayakan pada 10 Dzulhijjah atau tahun ini bertepatan dengan Jumat, 6 Juni 2025.

Hari Raya Kurban bukan sekadar tentang penyembelihan hewan kurban. Namun, Idul Adha juga mengajarkan ketaatan Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, kepada Allah SWT. Berbagai teladan seperti semangat pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian sosial menjadi inti dari perayaan akbar ini.

Khutbah Jumat 30 Mei 2025: Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Khutbah Jumat, 30 Mei 2025, bertepatan dengan 3 Dzulhijjah 1446 H. Jumat pekan ini termasuk dalam 10 hari pertama Dzulhijjah, sekaligus sepekan jelang Idul Adha.

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki makna penting, dengan terbukanya pintu-pintu kebaika. Berikut ini teks Khutbah Jumat 30 Mei 2025 bertemakan 'Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah':

Khutbah I


الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا طَيِّبًا كَثِيرًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سيدنا محمد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.


أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَأَطِيعُوهُ، وَكَبِّرُوهُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَظِيمَةِ. قال الله تعالى ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia, kita saat ini sudah memasuki Dzulhijjah, bulan yang memiliki makna istimewa bagi umat Islam. Sebab, bulan ini termasuk asyhurul hurum atau 4 bulan mulia selain Ramadhan.

Keempat bulan asyhurul hurum itu di antaranya Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Kaum Muslimin dianjurkan untuk memperbanyak amalan dan kebaikan di dalamnya. Allah SWT berfirman dalam Surat Surat al-Taubah Ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ.

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

Allah melarang kita untuk berbuat kedhaliman pada bulan-bulan itu. Sehingga, kita harus waspada terhadap segala bentuk perbuatan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Perbuatan maksiat pada bulan-bulan tersebut akan mendapat balasan siksa lebih berat di banding bulan lain. Demikian pula dengan perbuatan baik, mendapat pahala lebih besar. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Al-Bukhari, Abu Daud, Ibnu Majah, al-Tirmidzi dan lainnya).

Ma’āsyiral Muslimin! Rahimakumullāh.

Salah satu kebaikan yang bisa kita amalkan di momentum ini ialah berbakti kepada orang tua, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana kisah pengorbanan, seperti yang ditunjukan seorang bapak bernama Ibrahim, seorang anak yang bernama Ismail, serta seorang ibu yang bernama Hajar.

Berawal dari mimpi Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih putra semata wayang hasil pernikannya dengan Hajar, maka beliau berkata kepada Ismail: "Wahai putraku! Bagaimana pendapatmu?"

{فلمّا بلغ معه السعي قال يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترى} الصافّات/ 102 .

Pertanyaan Nabi Ibrahim ini bukanlah dimaksudkan meminta pendapat Ismail. Sebab, mimpi ini merupakan wahyu Allah. Sementara kalau dianggap Nabi Ibrahim meminta pendapat Ismail berarti beliau meragukan wahyu. Sudah barang tentu mustahil seorang Nabi meragukan wahyu!

Lebih tepatnya Nabi Ibrahim ingin memastikan sikap dan tekad anaknya menjalankan perintah Allah SWT. Kemudian datanglah jawaban Ismail. {Dia berkata,

قال يا أبتِ افعل ما تؤمر ستجدني إن شاء الله من الصابرين

"Bapa, lakukan apa yang diperintahkan, dan engkau akan menemukan saya, insya Allah, termasuk dari orang-orang yang sabar" (Surat As- Saffat/102)

Ternyata cinta anak itu kepada Allah melebihi dari cintanya pada kehidupannya dan masa depannya.

Nabi Ibrahim kemudian membawa Ismail dengan penuh kasih tanpa sepengetahuan ibunya ke daerah sekitar Mina. Sesampainya mereka pada tempat yang dituju, Nabi Ibromin merebahkan dan meletakkan pipi Ismail di atas pangkuannya.

Ismail lalu berkata: Ayah! Lepaslah bajumu supaya tidak berbekas noda darah yang akan dipertanyakan ibuku! Cepatkan goresan pisaumu, agar cepat lepas nyawaku! Dan bergegaslah engkau kembali ke rumah untuk mengucapkan salam kedamaian kepada ibuku!

Mendengar perkataan Ismail maka Nabi Ibrahim memeluk erat tubuh putranya ini dengan berkata: "Wahai anakku! Engkau adalah anak yang patuh dan taat menjalankan perintah Allah.

Segera Nabi Ibrahim menghunus pisaunya dan diarahkan ke leher Ismail. Tetapi apa yang terjadi? Pisau yang tajam hakekatnya tetap benda yang tidak akan melukai. Yang mampu menjadikannya bisa melukai, memotong, dan menghilangkan nyawa pada hakekatnya adalah Allah Swt. Haqqul yaqiin!

Semakin kuat tenaga Ibrahim digunakan untuk menghunuskan pisau maka semakin keras pula kulit Ismail. Hingga malaikat Jibril kemudian datang dan menggantinya dengan seekor domba untuk disembelih.

{وفديناه بذبح عظيم} (سورة الصافّات 107)

Subhanallah! Allahu Akbar!

Kaum muslim yang berbahagia
Belajar dari kisah teladan ini, ada hikmah yang dapat dipetik untuk kita, anak manusia yang lahir dari orang tua. Jadilah penolong orang tua kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Kita tidak harus menjadi sosok luar biasa seperti anak yang bernama Ismail. Cukuplah kita menjadi anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua. Karena Bakti kita kepada kedua orang tua adalah kunci membahagiakan hati orang tua. Akan tetapi sebaliknya, durhaka kita kepada orang tua akan menjadi pisau yang menggores hati kedua orang tua kita.

Oleh karena itu di momentum jelang Idul Adha ini mari kita sama-sama buktikan bahwa kita adalah anak yang berbakti. Tunjukkan bahwa kita adalah generasi menjunjung budi pekerti. Perkuatlah tali silaturrahim dengan sanak famili dan sahabat-sahabat dari orang tua yang kita hormati. Mudah-mudahan orang tua kita, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, tersanjung dan bangga memiliki keturunan yang taat berbakti dan mengabdi.

اقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم انه هو الغفور الرحيم

Khutbah II


الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا طَيِّبًا كَثِيرًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى سيدنا محمد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُمْ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى وَأَطِيعُوهُ، وَكَبِّرُوهُ فِي هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَظِيمَةِ؛ فَإِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرٍ لِلَّهِ تَعَالَى كَمَا فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَعْظَمُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمُ النَّحْرِ»، فَعَظِّمُوهُ كَمَا عَظَّمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِالتَّكْبِيرِ وَالطَّاعَةِ، وَاجْتِنَابِ الْمَعَاصِي


أَعَادَهُ اللَّهُ عَلَيْنَا وَعَلَيْكُمْ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَتَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ صَالِحَ الْأَعْمَالِ.

قال الله تعالى: ان الله وملاؤكته يصلون على النبي يا ايها الذين امنوا صَلُّوا عليه وَسَلِّمُوا تسليما


اللهم صل وسلم على سيدنا محمد واله وصحبه وسلم


اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات الاحياء منهم والاموات


اللهم اجعل بلدتنا اندونيسيا وساءر بلاد المسلمين امنة


ربنا اتنا في الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار


وصلى الله على محمد والحمد لله رب العالمين

Baca juga artikel terkait KHUTBAH JUMAT atau tulisan lainnya dari Sunardi

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sunardi
Penulis: Sunardi
Editor: Dicky Setyawan