Menuju konten utama

Keutamaan Bulan Dzulhijjah & Amalan Sunah: Puasa Arafah-Tarwiyah

Berikut keutamaan bulan Dzulhijjah dan sejumlah amalan sunah yang bisa dikerjakan umat Islam, termasuk puasa Arafah dan Tarwiyah.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah & Amalan Sunah: Puasa Arafah-Tarwiyah
Ilustrasi Islam. foto/Istockphoto

tirto.id - Keutamaan bulan Dzulhijjah bisa ditemukan penjelasannya di Al-Qur'an dan hadits. Bulan ini merupakan waktu ibadah haji, Idul Adha, dan qurban. Sejumlah amalan sunnah juga dianjurkan untuk dikerjakan pada bulan Dzulhijjah, terutama puasa.

Saat ini, umat Islam di dunia telah memasuki bulan Dzulhijjah 1444 H. Waktu selama 10 hari awal Dzulhijjah akan berarti istimewa bagi umat Islam, baik yang sedang berada di tanah suci maupun belum mendapat kesempatan beribadah haji.

Awal bulan Dzulhijjah 2023 (1444 H) di Indonesia jatuh pada tanggal 20 Juni 2023. Hal ini sesuai dengan hasil Sidang Isbat yang digelar oleh Kemenag RI pada Minggu (18/6) kemarin. Dengan demikian, Idul Adha 1444 H jatuh pada Kamis, 29 Juni mendatang.

Sebagian umat Islam di Indonesia, terutama warga Muhammadiyah, mungkin mengikuti keputusan yang berbeda. Sebab, Pimpinan Pusat Muhammadiyah memutuskan bahwa 1 Dzulhijjah 1444 H jatuh pada tanggal 19 Juni 2023, sementara Idul Adha pada tanggal 28 Juni mendatang.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

Dzulhijjah adalah bulan terakhir atau bulan ke-12 dalam kalender hijriyah. Dzulhijjah pun termasuk istimewa dalam Islam karena merupakan salah satu dari asyharul hurum, yakni bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT.

Keutamaan Dzulhijjah itu sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah At-Taubah ayat 36 yang terjemahannya sebagai berikut:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah 12 bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa," (QS. At-Taubah [9]: 36).

Empat bulan yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Muharram, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Rajab. Penjelasan ini sebagaimana diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA:

"Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan yang dihormati, tiga bulan berturut-turut: Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram, serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat di antara bulan Jumada Akhirah dan Sya'ban," (HR Bukhari dan Muslim).

Adapun waktu yang paling utama untuk memperbanyak ibadah di bulan Dzulhijjah adalah pada 10 hari awal. Keutamaan 10 hari awal bulan Dzulhijjah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam hadits dengan terjemahan berikut:

"Tidak ada hari di mana amal kebaikan saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini. Rasulullah menghendaki 10 hari (awal Dzulhijjah). Lantas para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah? Rasulullah Shallalâhu Alaihi Wasallam menjawab: Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar berjihad dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apa pun (mati syahid). (HR. Al-Bukhari). (An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, juz II, halaman: 77-78).

Dalam hadits tersebut di atas, Rasulullah SAW memotivasi para sahabat dan umatnya agar memanfaatkan waktu 10 hari awal bulan Dzulhijjah untuk memperbanyak ibadah. Keutamaannya bahkan sebanding dengan jihad di jalan Allah.

Di samping itu, bulan Dzulhijjah pun diyakini menjadi waktu kejadian sejumlah peristiwa istimewa dalam sejarah kenabian, yakni sebagai berikut:

  • 1 Zulhijah: Nabi Adam As diampuni Allah Swt. dari dosa-dosa di Arafah.
  • 2 Zulhijah: Allah Swt. mengabulkan doa dan mengeluarkan Nabi Yunus As. dari perut ikan nun.
  • 3 Zulhijah: Allah Swt. mengabulkan doa Nabi Zakaria.
  • 4 Zulhijah: Nabi Isa As. dilahirkan.
  • 5 Zulhijah: Nabi Musa As. dilahirkan.

Amalan Sunah Bulan Dzulhijjah: Puasa Arafah hingga Tarwiyah

Umat Islam dianjurkan mengisi bulan Dzulhijjah dengan berbagai amalan sunnah. Selain melaksanakan shalat Ied dan berkurban, amalan sunah lainnya yang dianjurkan di bulan Dzulhijjah adalah puasa.

Imam As-Syarwani seorang ulama dari Mazhab Syafi'i pernah menyampaikan keutamaan puasa di bulan Dzulhijjah sebagai berikut:

Bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah bulan Ramadan adalah Al-Asyhur al-Ḥurum. Dan, yang paling utama dari keempatnya adalah bulan Muharam, Rajab, Zulhijah, kemudian Zulkaidah”.

Banyak jenis puasa sunah yang dapat dikerjakan di bulan Dzulhijjah mulai dari Puasa Senin – Kamis, Puasa Ayyamul Bidh, Puasa Dzulhijjah, Puasa Arafah, Puasa Tarwiyah, hingga Puasa Daud.

Kendati demikian, terdapat hari-hari haram untuk berpuasa di bulan Dzulhijjah, yakni 10 Dzulhijjah (Hari Idul Adha) dan hari tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijah). Di waktu tersebut, umat Islam justru dianjurkan untuk memakan daging kurban.

Di antara sejumlah puasa sunah di atas, ibadah yang khas bulan Dzulhijjah adalah puasa Dzulhijjah, puasa Tarwiyah, dan puasa Arafah.

Puasa Dzulhijjah merupakan ibadah puasa sunnah yang dikerjakan selama tanggal 1-9 Dzulhijjah, dengan 2 yang terakhir disebut puasa Tarwiyah dan Arafah. Puasa di tanggal 1-7 Dzulhijjah diyakini sebagai amalan sunnah mengingat ada hadits berisi keterangan Rasulullah SAW tentang keutamaan amal kebaikan di 10 hari awal bulan Dzulhijjah.

Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Keutamaan Puasa Arafah dijelaskan dalam hadis sahih yang diriwayatkan Abu Qatadah Ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda sebagai berikut:

Puasa hari Arafah dapat menghapuskan dosa dua tahun yang telah lepas dan akan datang, dan puasa Asyura [10 Muharram] menghapuskan dosa setahun yang lepas,” (HR. Muslim).

Adapun puasa Tarwiyah adalah puasa sunah yang dikerjakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu An-Najjar dan Abdullah bin Abbas, Rasulullah Saw. pernah bersabda mengenai keutamaan Puasa Tarwiyah sebagai berikut:

"Puasa di hari Tarwiyah [8 Dzulhijjah] akan mengampuni dosa setahun yang lalu. Sedangkan puasa hari Arafah [9 Zulhijah] akan mengampuni dosa dua tahun," (HR. Tirmidzi).

Sejumlah ulama menilai hadits di atas kurang kuat atau daif. Kendati demikian, beberapa ulama tetap menganjurkan pelaksanaan puasa Tarwiyah dengan tujuan fadhailul a’mal (keutamaan amal).

Baca juga artikel terkait IDUL ADHA 2023 atau tulisan lainnya dari Syamsul Dwi Maarif

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Addi M Idhom