Menuju konten utama

Kesaksian Tetangga soal Pegawai KAI Terjerat Kasus Terorisme

DE, pegawai KAI yang diduga terlibat kasus terorisme pernah gabung MIB. Bagaimana kesaksian tetangganya terkait sosok DE ini?

Kesaksian Tetangga soal Pegawai KAI Terjerat Kasus Terorisme
Keadaan rumah DE, pegawai KAI yang ditangkap Densus 88 karena terlibat kasus tindak pidana terorisme di RT 07/RW27 Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Selasa (15/8/2023). tirto.id/Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - DE (28), warga Perumahan Pesona Anggrek Harapan, Kota Bekasi ditangkap Densus 88 Antiteror Polri pada Senin siang, 14 Agustus 2023. Pegawai PT KAI, perusahaan BUMN itu ditangkap polisi karena diduga berafiliasi dengan ISIS, salah satu organisasi yang dicap sebagai teroris.

Siang itu, di tengah terik matahari, DE memacu sepeda motornya menuju minimarket yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari kediamannya. DE berniat membeli kebutuhan rumah tangga di minimarket tersebut.

Namun, baru semenit memarkir kendaraannya, tiba-tiba sejumlah orang menyergapnya. Lima orang dari belakang dan lima lainnya dari depan. Tangan DE langsung diborgol seketika. Ia tak berkutik. Sejurus kemudian, DE dimasukkan ke dalam mobil bertuliskan polisi dengan tangan diborgol.

Adegan yang berlangsung sekitar lima menit itu memancing perhatian warga sekitar. Tempat itu mendadak ramai. Namun, warga sekitar urung merekam adegan itu. Mata mereka hanya membelalak menyaksikan DE diborgol oleh Densus 88.

Gugun (20), penjual gorengan di dekat lokasi, masih asyik menggoreng siang itu. Namun, ia mengalihkan perhatiannya pada penyergapan DE. Menurut Gugun, sekitar belasan orang sedari pagi duduk di depan Alfamart itu. Ia tak menyangka belasan orang itu merupakan petugas.

Saat pagi ia melakoni pekerjaan dan tak sedikit pun menyangka orang asing yang duduk sembari merokok di lokasi itu adalah aparat. Belasan anggota Densus 88 Antiteror Polri itu berjam-jam mengintai kedatangan DE yang memang kerap berbelanja di minimarket itu.

“Sekitar jam 6 pagi sudah pada ada [petugas]. Kirain orang-orang biasa,” kata Gugun saat ditemui reporter Tirto di lokasi, Bekasi Utara, Selasa (15/8/2023).

Menurut Gugun, saat kedua kaki DE baru turun dari motor, sejumlah petugas itu langsung menyergapnya. “Baru turun dari motor, nah langsung tangkap,” kata Gugun bercerita.

Cerita senada diungkapkan Iden (21), sejawat Gugun. Saat itu, ia seperti biasa menjalankan aktivitasnya melayani pembeli. Belasan petugas itu berpakaian biasa. Iden tak curiga sedikit pun. Para petugas itu asyik menyulut rokok layaknya warga sekitar yang rehat sejenak usai berbelanja.

“Pakaian biasa. Kayak anak nongkrong, jadinya enggak kelihatan polisi. Makanya saya juga kira anak-anak lagi pada nongkrong,” kata Iden.

Vanessa pun demikian. Ia masih memanjakan jemari di ponselnya sembari menunggu pembeli aneka jus yang dijajakannya. Ia mengaku kaget saat segerombolan orang menyergap seorang pria yang belakangan diketahuinya adalah DE. Vanessa menyaksikan betul proses penangkapan DE.

“Kan, pada nongkrong di sini. Terus pas datang [DE) langsung disigap gitu,” kata Vannesa kepada reporter Tirto, Selasa siang.

DE ditangkap tanpa perlawanan. Maklum, jumlah petugas jauh lebih banyak dari DE yang seorang diri. Banyak orang menyaksikan adegan penangkapan pegawai perusahaan pelat merah tersebut.

“Diborgol di sini, dibawa ke sana, mobil pada datang. Pakai baju biasa, kiraiin bukan polisi. Pada duduk, ngerokok," tutur Vanessa.

Tertutup dan Jarang Bersosialisasi

Tirto menyambangi kediaman DE pada Selasa (15/8/2023). Tampak kedua pintu rumahnya tertutup rapat. Rumah berkelir kuning itu sepi, tak terdengar sedikit pun suara manusia. Namun, dua anak DE yang masih berumur di bawah lima tahun serta istrinya yang sedang hamil disebut berada dalam rumah itu.

Dwi, tetangga DE yang hanya berjarak 100 meter dari rumahnya, mengaku tak mengenal persis pria yang bekerja di KAI itu. Sebab, DE hanya keluar rumah saat berangkat kerja. Kendati demikian, Dwi tak menampik bila DE pernah menghadiri rapat RT setempat.

“Tertutup. Paling saya lihat kalau berangkat pagi. Rapat hadir yang 17 Agustus-an,” kata Dwi.

Rapat terakhir yang dihadiri DE itu, kata Dwi, dua bulan lalu saat agenda pembersihan gorong-gorong. Sang istri juga kesehariannya serupa dengan DE, tertutup dan jarang bersosialisasi.

“Istrinya enggak pernah lihat,” tutur Dwi.

Cerita Dwi yang bilang DE adalah sosok pribadi yang tertutup juga diakui oleh istri Ketua RT 07/RW 27 Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Tri Widiarti. Saat ditemui Tirto, Tri mengatakan, DE dan istinya tidak pernah bersosialisasi dengan warga lain di lingkungan rumahnya.

“[Kepribadian] enggak tahu si saya. Baru melihat istrinya semalam. Enggak pernah keluar karena jarang ke sini juga," kata dia. Tri sempat menjenguk istri DE usai penangkapan terjadi. Kondisi anak dan istri DE dalam kondisi sehat.

“Alhamdulillah sehat, ya. Anaknya di bawah lima tahun (dua orang). Istrinya lagi hamil delapan bulan,” tutur Tri.

Hendrik, petugas keamanan yang berjaga di pos kemananan persis di depan rumah DE, menuturkan hal serupa ihwal kepribadian DE dan istrinya yang tertutup dan jarang bersosialisasi.

Menurut Hendrik, DE hanya keluar rumah saat berbelanja dan berangkat kerja pagi hari. Hendrik dan warga sekitar juga tak mencium gelagat yang mencurigakan seminggu dan sehari sebelum penangkapan DE. Warga sekitar masih melakoni rutinitas mereka sebagaimana biasanya.

“Dia mah jarang mondar-mandir. Rapat hadir biasa kek warga lain. Keluar pas mau pulang kerja saja," tutur Hendrik saat berbincang dengan reporter Tirto di lokasi.

Rumah DE

Suasana di depan rumah DE, pegawai KAI yang ditangkap Densus 88 karena terlibat kasus tindak pidana terorisme di RT 07/RW27 Kelurahan Harapan Jaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, Selasa (15/8/2023). (Tirto.id/Fransiskus Adryanto Pratama)

Pesanan Paket Datang Setiap Hari

Sementara itu, Nana (20), tetangga persis di samping rumah DE menuturkan, kerap melihat ada paketan masuk ke rumah DE. Ia menyebut paketan itu dikirim setiap hari. Namun, tak diketahui persis isi paketan yang masuk ke rumah DE. Nana juga tak mengetahui ekspedisi apa yang kerap mengantar paket ke rumah DE.

“Paket setiap hari. Karena orang mesan paket. Terakhir, seminggu belakangan,” kata Nana di lokasi.

Warga sekitar juga tidak mengira DE akan ditangkap karena diduga terlibat kasus terorisme. Nana mengatakan, dirinya tidak mengetahui ada gelagat penangkapan terhadap DE sehari sebelumnya.

“Enggak ada yang mencurigakan,” tutur Nana.

Berbekal penuturan Nana, reporter Tirto sempat melihat tong sampah di depan rumah DE. Beberapa bekas plastik bungkusan paket berserakan di dalam tong sampah tersebut. Hanya tak diketahui persis, bekas bungkusan itu merupakan paket yang dipesan DE atau tidak.

Rumah DE

Tong sampah di depan rumah DE, terduga teroris yang terafiliasi dengan jaringan ISISI, di Perumahan Pesona Anggrek Harapan, Bekasi Utara, Bekasi. (Tirto.id/Fransiskus Adryanto Pratama)

DE Pernah Gabung dengan Mujahidin Indonesia Barat

Juru Bicara Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri, Kombes Polisi Aswin Siregar menjelaskan, DE, tersangka dugaan tindak pidana terorisme yang ditangkap di Bekasi Utara, pernah bergabung dengan kelompok teroris Mujahiddin Indonesia Barat (MIB) pimpinan WM sejak 2010. Saat bergabung menjadi anggota MIB di 2010, usia DE masih 19 tahun.

“Tadi seperti saya bilang, terpapar atau keterlibatan dia itu dimulai dari 2010 ketika dia menjadi jemaah di MIB,” kata Aswin dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (15/8/2023) seperti dikutip Antara.

Aswin menjelaskan, kelompok MIB telah bubar setelah pimpinannya, yaitu WM ditangkap Densus 88 Antiteror Polri. Kemudian, jemaah kelompok tersebut bubar dan menyebar, salah satunya adalah DE.

Setelah MIB bubar, DE lalu berselancar memanfaatkan ruang media sosial untuk aktif melakukan propaganda serta menyebarkan konten-konten jihad dan baiat. Pada 2014, DE pertama kali menyatakan baiat kepada Amir Islamic State Abu Al Husain. DE lalu bergabung sebagai pegawai BUMN pada 2016.

“Mulai dari situ, melakukan aktivitas-aktivitas, persiapan-persiapan. Jadi, yang bersangkutan melakukan pelatihan, kemudian melakukan pengumpulan peralatan yang dibutuhkan,” kata dia.

DE juga dikenal aktif di media sosial untuk menyebarkan propaganda aksi terorisme. Bahkan, beberapa akun miliknya pernah dilaporkan dan ditutup oleh Facebook dan YouTube. Namun, lanjut Aswin, seperti pelaku-pelaku lainnya, DE tidak kapok dengan penutupan akun tersebut dan justru membuat akun-akun baru dengan akses pribadi.

Puncaknya, ketidaksukaan DE muncul sekitar tiga pekan terakhir. Dia semakin tinggi menyebarkan ajakan atau imbauan untuk melakukan amaliyah (bunuh diri) atau melakukan aksi terorisme.

“Sehingga, pesan-pesan tersebut dilakukan secara private menggunakan timer message. Sehingga, setelah sampai kepada si penerima, lalu dibuka, dan langsung hilang dari server atau dari jaringan," jelas Aswin.

Saat ini, penyidik Densus 88 sedang mendalami unggahan pesan pribadi yang dikirimkan DE dari akun media sosial miliknya. Selain menangkap DE, penyidik menyita barang bukti, di antaranya 17 pucuk senjata api yang terdiri atas 11 laras pendek dan lima laras panjang.

Ada beberapa magasin dan amunisinya, komputer meja yang masih didalami, serta beberapa barang bukti lain. “Senjata api ini ada rakitan dan ada pabrikan," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Ahmad Ramadhan.

Penggeledahan rumah terduga teroris Bekasi

Sejumlah anggota Densus 88 menunjukkan barang bukti senjata api dan barang bukti lainnya milik terduga teroris berinisial DE yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat, Senin (14/8/2023). ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp.

Baca juga artikel terkait KASUS TERORISME atau tulisan lainnya dari Fransiskus Adryanto Pratama

tirto.id - Hukum
Reporter: Fransiskus Adryanto Pratama
Penulis: Fransiskus Adryanto Pratama
Editor: Abdul Aziz