tirto.id - Kala kembali dari Belanda ke tanah air pada 1972, Achmad Albar tak kelupaan memboyong serta gairah musiknya. Ludwig Lemans, gitarisnya di Clover Leaf, grup musik yang mematangkan pengalaman bermusik di Negeri Kincir Angin, juga ia bawa serta.
Setelah itu, ia mengajak Fuad Hassan, adik ipar tirinya. Mereka menjadi saudara sejak Fuad menikahi Camelia Malik, adik tiri Iyek dari pasangan Djamaludin Malik dan Farida Al-Hasni.
Secara pengalaman, Fuad Hassan sudah lama malang melintang tenar di panggung hiburan. Majalah Aktuil (Nomor 149 tahun 1974) mencatat, karier Fuad berpangkal sejak 1962, membersamai banyak grup musik, dari grup Pandawa, Zainal Combo, Dieselina, Madeness, hingga The Pros.
Fuad lantas mengajak Donny Fattah, basis Fancy Group Junior. Menurut perkiraan Donny, Fuad mengajaknya bergabung lantaran kepincut dengan kelihaian cabikan basnya.
Maka, terbentuklah grup musik berisi empat personel itu. Iyek mengisi vokal, Lemans masih setia dengan gitarnya, Fuad menabuh drum, sedangkan Donny membetot bas.
Mulanya, mereka belum menggunakan nama God Bless. Manajer mereka saat itu, Derek Madradi, memilih sebutan Crazy Wheels. Donny menyebut, nama itu dipakai boleh jadi karena latar belakang Derek sering berurusan dengan dunia balap.
“Ya udah, kita nurut aja, orang kita belum siap,” kelakar Achmad Albar, mengiyakan penuturan Donny, dikutip dari wawancara eksklusif bersama Denny MR.
Selain itu, mereka juga belum memiliki lagu sendiri. Saat mengisi di kafe atau panggung-panggung kecil, Crazy Wheels masih membawakan lagu Barat, macam The Beatles, Eagles, serta Sly and the Family Stone.
“... atas izin Fuad, memang kita bawa lagu-lagu Barat itu berdasarkan aransemen sendiri. Jadi kita bongkar-bongkar lagi,” kata Donny.
Usai mondar-mandir manggung beberapa kali, Iyek memikirkan nama yang pas. Tak mungkin menggunakan nama Crazy Wheels sebab aspal dan debu jalan bertabrakan dengan corak musik mereka yang cenderung pop rok.
“Pertama saya mengobrol sama Fuad. ‘Ad, gimana kalau kita kasih nama Gods? Dewa artinya, kan?'” jelas Iyek.
Usulan itu segera disela Fuad. Pertimbangannya, belum tentu orang Indonesia menerima Gods sebagai dewa, melainkan Tuhan. Namun, setelah mendapat imbuhan bless, barulah Fuad menerimanya. God bless 'rahmat Tuhan'.
Nama God Bless secara resmi baru dipakai ketika mereka manggung perdana di Taman Ismail Marzuki pada 5 Mei 1973, dengan tajuk “God Bless Show”. Saat itu, personelnya sudah terdiri atas lima orang.
Adalah Fuad yang mengusulkan perubahan format dari kuartet menuju kuintet, dengan tambahan pemain kibor. Setelah beberapa kali berganti personil kelima, posisi itu akhirnya diisi oleh Soman Lubis, mahasiswa aktif ITB yang sempat tergabung di band The Peels.
Maut di Pancoran
Syahdan, 9 Juli 1974, seluruh personel God Bless dan kolega hendak bertandang ke Pegangsaan, tempat biasa mereka kongko dan latihan bersama grup lain macam Gypsy.
Dua mobil sudah siaga mengantar mereka dari Kalibata. Namun, Fuad enggan. Dia ngotot naik motor barunya menuju lokasi.
Motor Yamaha itu dibeli belum lama dan dibersihkan hampir setiap hari olehnya. Karena itulah hasrat Fuad mengendarai motor sangat kuat.
“Ad, kan baru saja sembuh lebih baik naik mobil saja,” kata Camelia Malik, yang juga turut ikut rombongan.
Kunci motor Fuad bahkan sempat disembunyikan, siasat Iyek menimbang kondisi Fuad yang ketika itu belum fit setelah sempat sakit. Namun, Fuad mengancam akan membakar motornya jika kunci tak diberikan. Akhirnya orang-orang mengalah, dan Fuad bersiap dengan motornya.
Kebetulan waktu itu Soman Lubis baru saja tiba dari Bandung. Maksud kedatangannya ke Jakarta itu hendak berpamitan ke seluruh kolega God Bless sebab berencana mengundurkan diri.
Atas bujuk rayu Mia—sapaan akrab Camelia Malik—Soman diminta ikut dan membonceng Fuad dengan motor barunya itu. Dia berpesan seperti itu sebab masih khawatir dengan kondisi suaminya. Masing-masing Soman dan Fuad menyanggupi.
Namun mereka kecolongan. Saat lainnya sibuk bersiap hendak naik ke mobil, justru Soman yang dibonceng. Keduanya pun cabut mendahului rombongan.
Ketika rombongan mobil tiba di Pegangsaan, Fuad dan Soman tak kunjung datang. Tapi mereka hanya bisa menunggu.
Sekonyong-konyong, sebuah taksi tanpa penumpang menghampiri rombongan God Bless di Pegangsaan. Lalu, sopirnya turun dan menyampaikan kabar kecelakaan yang menimpa Fuad dan satu orang lain. Sopir itu mengaku tak mengenali orang satunya, Soman, sebab memang kibordis itu belum lama gabung God Bless.
“Fuad keadaannya kritis sekali,” ucap Iyek menirukan kata sopir taksi itu, “Kalau Soman masih bernapas.”
Tragedi nahas itu terjadi di kawasan Pancoran, dekat pom bensin, tak jauh dari Musika Studio.
Sontak semua yang ada di Pegangsaan kaget. Karena waktu itu saluran informasi sangat terbatas, satu-satunya langkah yang bisa ditempuh adalah mencari Fuad dan Soman di seluruh rumah sakit dekat tempat kejadian.
Kabar awalnya Fuad dan Somad dirujuk ke RS PELNI, tetapi ternyata keduanya tak ada di sana.
Pencarian bermuara di RS Cipto Mangunkusumo. Namun, yang ada di sana hanya Fuad, sedangkan Soman dibawa ke RS Fatmawati.
Majalah Aktuil edisi 149, Agustus 1974, dengan tajuk besar “Fuad ‘God Bless Tewas!”, menyebut, Fuad meninggal di tempat setelah tubuhnya terseret 23 meter oleh truk, sementara Soman terbanting ke belakang sejauh 12 meter.
Kendati masih sempat bernapas, Soman mengembuskan napas terakhir tiga jam setelahnya. Ia kehabisan banyak darah sehingga tubuhnya tak kuasa menahan. Iyek mengklaim penanganan yang lambat menjadi faktor nyawa kibordisnya tak tertolong.
Ketika berhasil menemukan Fuad di RS Cipto Mangunkusumo, Iyek sempat berkelahi dengan satpam penjaga pintu. Dia tersinggung karena satpam menjawab ketus, “Oh, [Fuad] sudah di kamar mayat.”
“Kenapa mereka harus langsung ngomong, gitu? Mestinya kan jangan di depan mereka yang lain-lainlah,” kata Iyek dengan nada kesal.
Lepas itu, Iyek menyuruh seluruh rombongan bubar. Mereka saling memisah karena beberapa juga ingin menilik kondisi Soman. Adapun Iyek tak sempat bertemu Soman. Kemungkinan besar jenazahnya langsung dibawa keluarga pulang ke Bandung.
“Ya itu kejadiannya, dan itu termasuk satu, waduh ... ya peristiwa yang paling berat buat God Bless,” tungkas Iyek.

Sering sekali Donny menyebut Fuad sebagai “orang terpenting” di God Bless. Mulai dari kecerdikannya merekrut anggota (termasuk dirinya), mengaransemen lagu sebelum tampil, sampai ikut mempertimbangkan pemilihan nama God Bless. Sebagian besar titian God Bless di bawah komando Fuad.
Awal 1970-an, Majalah Aktuil membaiat Fuad sebagai salah satu penggebuk drum terbaik. Karsa musik rok dan petualangannya di Eropa, serta naluri bermain bersama Black Bird dari Italia, menjadikannya penabuh drum yang diperhitungkan.
“Di sana [Eropa] gue nonton Grand Funk, Led Zeppelin, Black Sabbath. Semuanya satu aliran dan mereka mempunyai showmanship yang hebat dan merupakan musisi kelas satu,” kenang Fuad Hassan, dikutip dari Aktuil nomor 81 tahun 1971.
Bangkit dan Berevolusi
God Bless sempat vakum setelah tragedi yang merenggut Fuad dan Soman. Ditambah lagi, Ludwig Lemans memutuskan keluar, tak lama selepas tragedi itu. Dengan begitu, personel yang tersisa tinggal Iyek dan Donny.
Namun keduanya tak putus asa. Beberapa lama setelahnya, Iyek merangkul balik Jockie Surjoprajogo, yang sempat keluar sebelumnya, untuk mengisi kibor. Kemudian Ian Antono (gitar) menyusul, juga Teddy Sujaya (drum), tak lama setelahnya.
Beberapa bulan lepas masa berkabung, God Bless dipercaya mendampingi Deep Purple di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 5 Desember 1975. Padahal, saat itu mereka masih belum merilis album.
God Bless sempat mogok tampil saat set drum mereka ditendang oleh kru Deep Purple.
Suasana sempat ricuh setelah insiden tersebut. Beberapa personel God Bless geram dan menganggap mereka kelewat sombong. Bahkan, mereka, yang mestinya dijadwalkan tampil dua malam berturut-turut (5-6 Desember), sempat hanya mau main di hari terakhir.
“Setelah dibujuk-bujuk, tadinya sudah mau pulang. Terus ada negosiasi panitia waktu itu, Aktuil, sudah clear damai kita bisa nonton di panggung ... setelah insiden hari pertama begitu, hari kedua dari pagi boleh masang set, tas-tes-tas-tes,” kata Donny.
Namun, ada hikmah di balik cekcok mereka. Perjumpaan dengan Deep Purple merevolusi haluan God Bless selanjutnya.
Tentu lantaran baru berusia dua tahun, God Bless belum berpengalaman banyak. Bahkan semua peralatan tampilnya masih menyewa dari studio rental.
Donny mengaku, “Setelah sama Deep Purple itu baru semuanya kami terbuka. Oh, itu fungsi alat ini, sepiker, fungsi stage monitor, dry ice, kru, teknisi, operator, dan macam-macam. Jadi memang Deep Purple datang itu sebagai revolusi [industri musik] di Indonesia.”
Dari sana, hampir seluruh peranti panggung God Bless becermin Deep Purple. Mereka membeli sound system, bas, bahkan amplifier bermerek Marshall, seperti yang dikenakan legenda Ritchie Blackmore.
Boleh jadi revolusi semacam itu menjadi tonggak awal genre rok di Indonesia, “sebab barometernya Deep Purple, band dunia, sih, dan yang paling top pada era itu,” tutup Donny.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































