Setengah Abad Jejak Led Zeppelin di Jagat Rock n Roll

Oleh: Nuran Wibisono - 21 September 2018
Dibaca Normal 5 menit
Led Zeppelin menginspirasi banyak band dan mewariskan gaya bermusik pada generasi setelah mereka.
tirto.id - Doddy Katamsi sudah tiga hari tidak enak badan. Setiap beberapa menit, dia terbatuk. Sore itu di Meruyung, Depok, hujan baru saja usai. Dari halaman belakang rumahnya, angin leluasa berembus. Di meja depan kursi Doddy, ada satu gelas teh hangat dan satu botol obat batuk.

“Ini batuk yang jahat, yang bikin enggak bisa nyanyi,” katanya.

Doddy lahir di Jakarta, 51 tahun lalu. Darah seni mengalir dalam dirinya. Ayahnya, Amoroso Katamsi, adalah dokter di Angkatan Laut sekaligus aktor terkenal yang memerankan Soeharto di film Penumpasan Pengkhianatan G30 S/PKI (1984). Sedangkan ibunya, Pranawengrum, adalah penyanyi seriosa yang kerap dijuluki "Ibu Seriosa Indonesia."

Meski lahir di Jakarta, Doddy beberapa kali pindah tempat tinggal. Selain di Surabaya, Doddy pernah menetap di Yogyakarta untuk sekolah di bangku SMP hingga kelas 2 SMA.

Awal 1980-an, Doddy kembali ke Jakarta dengan membawa semangat bermusik dari kota pelajar itu. Di era itu, musik heavy metal dan glam rock mulai muncul. Perkara kedatangan Doddy kembali ke Jakarta, Irfan Sembiring punya kisah menarik. Dalam kisah yang dituturkan oleh mantan gitaris band metal Rotor di beranda Facebook, suatu hari Irfan dan kawan-kawannya sedang kumpul dan nongkrong.

Lalu datanglah Doddy. Irfan ingat Doddy baru datang dari Yogyakarta, berbadan gemuk, memakai kacamata, berambut keriting, dan membawa gitar. Hebatnya, kenang Irfan, Doddy tidak merokok dan tidak pula ikut pesta. Akhirnya, Doddy disuruh main gitar.

“Led Zeppelin, Deep Purple dilahap sama dia, main gitar sambil nyanyi. Suaranya bagus banget, sama kayak di kaset. Robert Plant dan Ian Gillan saja belum tentu bisa main gitar sambil nyanyi, eh ini anak… Waktu itu gue anggap dialah musisi paling jago di dunia.”

Doddy sendiri sebenarnya saat itu lebih akrab dengan musisi seperti The Beatles dan Elvis Presley, yang dikenalkan oleh bapaknya. Namun, Led Zeppelin dan Deep Purple memang sudah jadi band penuntun jalan bagi anak-anak muda yang memutuskan menapak di jalan rock. Doddy mengakui tak begitu mengulik dalam Led Zeppelin hingga bertemu Elpamas.

Elpamas adalah band rock asal Pandaan, Jawa Timur. Nama band ini akronim dari Elektronik Payung Mas, nama toko elektronik yang menyediakan peralatan musik bagi mereka. Namun, Elpamas sering pula diplesetkan menjadi “Elek-elek, Pandaan, Mas!”. Grup band yang terbentuk pada 1983 ini menjuarai ajang Festival Rock se-Indonesia II pada 1985, dan gitarisnya, Toto Tewel menyabet gelar gitaris terbaik.

Pada 1989, Elpamas mengeluarkan album perdana, Dinding-Dinding Kota. Setahun kemudian, vokalis mereka, Baruna Priyotomo, harus bersiap untuk studi ke Sound Audio Engineering, Hamburg, Jerman. Dia memutuskan keluar, membuat Elpamas mengalami kekosongan vokalis. Wartawan musik Remy Soetansyah lantas merekomendasikan nama Doddy Katamsi.

Elpamas pun memberi “ujian” bagi Doddy yang kala itu baru lulus SMA: harus bisa menyanyikan lagu-lagu Led Zeppelin. Kala itu Elpamas masih sering manggung dengan membawakan repertoar dari album pertama mereka dan lagu-lagu Led Zeppelin.

“Dulu itu Elpamas sempat memposisikan diri sebagai band yang khusus kover Led Zep,” kata Doddy. Bahkan, katanya, mereka amat khusyuk jadi epigon band asal Inggris itu. “Sampai nada salahnya Jimmy Page pun juga ditiru sama Toto. Padahal itu salah, ya tetap ditiru.”


Saat digembleng sebagai vokalis baru Elpamas itulah Doddy baru benar-benar mengulik Led Zeppelin, terutama gaya bernyanyi Robert Plant. Menurutnya, Plant adalah vokalis unik. Suara pada nada rendah amat terpengaruh oleh Elvis, sedangkan nada tingginya punya cara bernyanyi sendiri. Ketika mengulik itu pula Doddy tahu bahwa Plant amat menyukai Umm Kulthum, alias Ummi Kaltsum, penyanyi terbesar Mesir.

“Waktu bapakku naik haji, aku nitip oleh-oleh kasetnya Ummi Kaltsum. Dibelikan 20-an kaset. Bapakku ngiranya aku tergila-gila Ummi, padahal ya karena aku ingin tahu kenapa Plant seneng Ummi,” ujar Doddy.

Mendobrak Batas 'Barat' dan 'Timur'

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Plant, juga Page, memang punya ketertarikan mendalam terhadap musik padang pasir. Pada 2007, ketika Robert Plant membuat album kolaborasi bareng Alison Krauss, salah satu referensi yang diberikan Robert pada Alison adalah musik orkestra Ummi Kaltsum.

“Dan dia langsung terperangah mendengar musik Ummi Kaltsum,” kata Plant.

Ketika ditodong The Guardian untuk membuat mixtape lagu-lagu favoritnya, Plant memasukkan “Leilet Hobb (Night of Love)” yang dirilis Umm Kulthum pada 1972. Plant menyebut musik Kulthum mewakili “keanggunan dan kemewahan musik Timur Tengah” dan “amat sangat indah”. Dalam kebudayaan Islam, tulis Plant, biasanya kamu hanya boleh bernyanyi (berzikir) bagi Allah SWT.

“Namun, Umm [Khultum] bernyanyi dengan amat lihai dan indah, sehingga dia amat dicintai,” ujar Plant.

Kecintaan Plant dan Page terhadap musik Timur Tengah memang menarik. Ini membuat musik Led Zeppelin mendobrak batas antara Barat dan Timur. Jika selama ini Beatles dianggap yang “memopulerkan” Timur di Barat melalui musik-musik raga rock yang mereka mainkan, Led Zeppelin menariknya lebih jauh hingga Timur Tengah, jazirah Arab yang bahkan hingga sekarang masih melahirkan fobia bagi sebagian orang Barat. Pengaruh itu amat kental terdengar pada lagu-lagu seperti “Friends”, “Achiless Last Stand”, “In the Light”, dan tentu saja tembang epik mereka, “Kashmir”.


Setelah Led Zeppelin bubar pun, Plant dan Page tetap terus mencari hakikat musik Timur Tengah. Pada 1994, dua orang duet dahsyat ini merilis album live No Quarter. Mereka turut mengajak sebelas musisi Arab yang tergabung dalam Egyptian Ensemble, dan sempat manggung di Maroko.

Salman Ahmed, gitaris Pakistan pendiri grup Junoon dan pengajar di Queens College, menyebut karena penyerapan itu pula Led Zeppelin terdengar beda dari keseluruhan band dalam jagat semesta rock n roll.

“Saat itu padahal ada semacam jarak antara Timur dan Barat, serta Eropa dan Islam,” tulis Ahmed yang pertama kali menonton Led Zep pada 1977. “Pesan yang mereka sampaikan adalah Barat dan Islam bisa bergandengan tangan, dan mereka bisa membuat musik yang kuat hingga bisa mendobrak barikade yang selama ini memisahkan dua kebudayaan."

Itu juga yang dirasakan oleh Budi Putra. Salah satu pendiri komunitas Glam Rock Community Indonesia ini menganggap bahwa aransemen musik Led Zeppelin lebih berkembang ketimbang dua band lain yang turut meletakkan pondasi heavy metal: Deep Purple dan Black Sabbath.

“Mereka mengeksplorasi ke ragam musik lain. Dari tradisional, blues, reggae, juga Timur Tengah,” kata Budi yang sewaktu SMP pernah membuat geng bernama LZ, singkatan dari Led Zeppelin, tentu saja.

Dari Robert Plant pula Doddy belajar bahwa seorang vokalis hendaknya tidak anti menyerap pelbagai pengaruh. Digembleng selama tiga bulan membawakan lagu-lagu Led Zeppelin, menumbuhkan kecintaan mendalam dalam diri Doddy. Dia belajar teknik bernyanyi ala Plant.

Menurut Doddy, musik Led Zeppelin cenderung sukar dinyanyikan karena gaya bernyanyi Plant yang tidak ajek, bahkan di dalam satu lagu sekalipun. Kadang Plant bernyanyi pada ketukan 5/8, lalu mendadak jadi 6/8. Ini juga diikuti oleh para personel lain yang bermain musik seolah semaunya, menabrak semua pakem hitungan ketukan.

“Ambil contoh lagu D’yer Mak’er atau Black Dog. Kalau nyanyi biasa ya mungkin bisa aja, tapi tidak akan bisa mirip Led Zep kalau enggak beneran mengulik. Ketukan mereka itu beda,” kata Doddy.


Di saat seperti itulah, John Paul Jones, sang pembetot bass, adalah pengikat tiga personel Led Zeppelin yang liar. Jones, sang personel paling tenang dan personanya tampak seperti pria kalem dan anteng dibandingkan tiga anggota lain yang amat flamboyan, adalah yang membuat musik mereka berjalan dalam pakem yang benar. Dalam istilah Ruth Blatt, Jones adalah "sutradara musikal" Led Zeppelin.

Infografik HL Indepth Led Zeppelin

Pengaruh Besar bagi Musik Dunia

Setelah keluar dari Elpamas usai merilis album Tato (1992) yang melejitkan tembang "Pak Tua", Doddy berkiprah pada banyak tempat. Dia pernah menjadi vokalis Kantata Takwa, juga menjadi pelatih vokal. Doddy lantas membentuk Seven Years Later, grup yang fokus menjadi band kover lagu-lagu rock klasik, termasuk Led Zep. Doddy juga nyaris selalu didapuk sebagai vokalis ketika ada band ingin menyanyikan lagu-lagu Led Zeppelin. Banyak pencinta musik di Indonesia juga mengakui bahwa belum ada lagi epigon Robert Plant sebaik Doddy.

Doddy juga kerap membuat acara Tribute to Led Zeppelin, atau Led Zeppelin Nights. Namun, sejak setahun belakangan, dia memilih libur memainkan lagu-lagu khusus Led Zeppelin. Pasalnya, dia kesulitan mengumpulkan para personel. Menurut Doddy, untuk menjadi band kover Led Zeppelin, mereka harus fokus, tak bisa setengah-setengah. Lagi-lagi, karena musik band yang terbentuk pada 1968 itu amat berbeda dari band rock lain.

“Paling tidak butuh sebulan latihan rutin, dua kali seminggu, untuk bisa membawakan lagu-lagu Led Zeppelin dengan baik. Itu bukan hanya lagu yang populer saja lho ya, tapi juga yang aneh-aneh dan jarang dimainkan orang. Band kami bahkan punya efek-efek seperti punya Jimmy Page, termasuk bow (penggesek) biolanya,” kata Doddy.

Pada usia setengah abad, tak terelakkan lagi, Led Zeppelin menorehkan pengaruh besar bagi musik dunia. Band yang memulai kehidupannya dari nama The New Yardbirds ini memengaruhi banyak band generasi berikutnya. Dari Whitesnake yang sering dituduh menjiplak Led Zeppelin, Kingdom Come yang sound-nya benar-benar mirip hingga bikin kesal Page, Foo Fighters bentukan Dave Grohl yang amat terinspirasi oleh John Bonham, hingga Greta Van Fleet, band rock generasi baru yang mencolok di antara gelombang musik elektronik.

“Kalau band Indonesia sekarang yang kentara terpengaruh Led Zeppelin itu ya The SIGIT. Sekali denger, pasti orang tahu kalau mereka terpengaruh Led Zep, walau mereka punya cara bermusiknya sendiri, ya,” kata Doddy.

Saat ditanya apa warisan terbesar Led Zeppelin bagi musik rock, Doddy menjawab warisan itu ada dua: Stairway to Heaven dan Kashmir.

Lagu yang disebut pertama dianggap mendobrak pakem lagu rock era 1960-an, yakni memainkan hanya gitar akustik dan synth pada bagian awal dan baru ramai gebukan drum serta gitar listrik pada bagian belakang. Sementara "Kashmir", selain perkara pengaruh Timur Tengah yang kental, mewariskan semacam patahan-patahan dalam musik rock yang kelak diadopsi banyak band lain, termasuk Deep Purple lewat "Perfect Strangers".

Baca juga artikel terkait 50 TAHUN LED ZEPPELIN atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Indepth)


Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan