John "Bonzo" Bonham, Terus Menggebuk Drum hingga Abadi

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 21 September 2018
Dibaca Normal 4 menit
Saking pentingnya Bonham dalam Led Zeppelin, band ini memilih bubar ketika si penggebuk drum itu meninggal.
tirto.id - September 1980. Keempat personel Led Zeppelin telah memulai latihan di Bray Studios jelang tur Amerika Utara. Rumah Jimmy Page di Windsor, Berkshire, Inggris, dijadikan tempat tinggal sementara.

Jadwalnya sudah disusun rapi. Pertama-tama mereka akan menyapa para penggemar di Montreal, Kanada, pada 17 Oktober, baru lanjut ke kota-kota lain. Tur terakhir Page dan kawan-kawan ke Negeri Paman Sam berselang pada 1977—era puncak popularitas band.

Pagi hari, 24 September, John Bonham dijemput asisten band Rex King. Dalam perjalanan menuju studio, Bonham minta berhenti cari sarapan. Menu pelengkapnya sungguh istimewa: 40 sloki vodka Screwdriver. Bonham mabuk sepanjang latihan, bahkan tetap sambil menenggak alkohol di sela-sela latihan. Page, Robert Plant, dan John Paul Jones tidak mempermasalahkannya. Itulah Bonham: tetap mampu menjaga performa di bawah pengaruh alkohol sekalipun.

Latihan selesai pada sore hari. Seluruh personel kemudian beristirahat ke rumah Page. Bonham, yang masih teler, tiduran di sofa. Jelang tengah malam ia dipindahkan ke ranjang oleh seorang asisten.

Keesokan harinya Jones merasa khawatir sebab hingga lewat tengah hari Bonham belum terlihat. Ia mengajak asisten band bernama Benje untuk membangunkannya. Bonham terlihat dalam kondisi yang buruk, kata Jones, dan setelah diperiksa ternyata sudah tak bernyawa.

“Buruk sekali. Aku segera mengabari Jimmy dan Robert. Aku sangat marah saat itu mengingat talentanya, sosoknya. Aku tak bilang ia sedang dalam kondisi terbaik, tapi ia menciptakan momen luar biasa saat latihan—sebelum vodka ia tenggak,” ujar Jones kepada Chris Welch dan Geoff Nichols dalam John Bonham: A Thunder of Drums (2001).

Bonham meninggal di usia 32 tahun pada 25 September 1980. Hasil otopsi menyatakan ia tercekik muntahannya sendiri. Tidak ada tanda-tanda bunuh diri atau pembunuhan terencana. Tidak pula ditemukan zat terlarang dalam tubuh Bonham.

Kesalahannya hanya minum melampaui standar kemampuan manusia menolerir kandungan alkohol yang terdapat dalam vodka—dan tidur sendirian.

Awal Mula Sang Legenda

John Henry Bonham lahir pada 31 Mei 1948 di Redditch, Worcestershire, Inggris. Welch dan Nichols mengisahkan proses kelahirannya cukup alot karena memakan waktu hingga 26 jam.

Jantungnya tak berdetak usai menyapa dunia. Dokter rumah sakit, yang membantu ibu Bonham bersalin, sudah pulang. Perawat memanggil dokter lain, yang berhasil menyelamatkan nyawa Bonham. Si perawat menyebutnya sebagai “sebuah keajaiban.”

Keluarga Bohman disokong oleh bisnis tukang kayu sang ayah, sedangkan si ibu menjajaki bisnis sebagai distributor koran lokal. Keduanya cukup untuk mendanai sekolah privat Bonham dan adik lelakinya.

Pada usia 11 tahun Bonham sudah bengal. Nilai sekolahnya sampai diberi catatan, “antara akan jadi tukang sampah atau jutawan,” tulis kepala sekolah.

Orang tua Bonham menerka potensi itu ada pada hobi yang dilakukan Bonham sejak usia lima tahun: memainkan drum. Sebelum dibelikan snare drum pada usia 10 tahun, ia pintar mengubah alat rumah tangga menjadi instrumen perkusi. Panci, wajan, sampai kaleng kopi. Tak ada drumstick pun tak mengapa, sebab pisau makan dan garpu bisa menggantikannya.

Bonham dibelikan satu set drum lengkap pada usia 15 tahun. “Seperti barang prasejarah. Kebanyakan sudah berkarat,” katanya. Satu tahun berikutnya ia mulai bermain drum untuk band-band amatir. Namanya pelan-pelan dikenal di skena musik lokal.

The Blue Star Trio, Terry Webb & The Spiders, The Senators, A Way of Life. Band-band itu sekaligus jadi kuil tempat ia memperkuat pondasi bermain, berlatih mengatur tempo, mengembangkan teknik pukulan dan, yang terpenting, belajar menekan ego sebagai anggota grup band.

Corbein Reif dari Rolling Stone mencatat jalan hidup Bonham kelak berubah saat berteman dengan Robert Plant, vokalis muda yang merekrut Bonham menjadi drumer Band of Joy.

Plant terlebih dulu direkrut oleh Jimmy Page saat The Yardbirds bubar. Plant punya suara blues mentah sebagaimana yang dicari Page. Plant merekomendasikan Bonham, dan Page setuju. Kemampuan multi talenta Jones melengkapi tim. Dan, jadilah Led Zeppelin.

Pemilihan Bonham, bagi Page, sebetulnya bak sebuah pertaruhan. Reputasi Bonham saat itu belum sebesar kandidat lain yang dipikirkan Page.

Ambil contoh B.J. Wilson, drumer band rock terkemuka Procol Harum. Atau Keith Moon, perkusionis kreatif di balik nama besar The Who. Atau Ginger Baker, pendiri kelompok musik legendaris Cream. Tapi Page saat itu lebih mempercayai intuisi Plant. Jurnalis lain yang juga mendalami Led Zeppelin membahasakannya begini: Plant berhasil meyakinkan Page untuk merekrut Bonham.

Terlepas dari mana yang akurat, satu hal yang pasti: Page telanjur terkesima dengan permainan Bonham yang bertenaga dan berapi-api.


Infografik HL Indepth Led Zeppelin


Page, Plant, dan Jones barangkali akan tetap menjadi sebuah band biarpun tidak memakai kekuatan Bonham. Tapi, mereka tidak akan menjadi Led Zeppelin yang hingga kini masih dianggap sebagai salah satu band terpenting dalam jagat rock n roll.

Merangkum analisis Mick Bonham dalam John Bonham: The Powerhouse Behind Led Zeppelin (2005), penyebabnya sederhana sekaligus kompleks: Bonham meletakkan pondasi band dalam meramu blues, folk, dan rock ala Led Zeppelin.

Gebukan Bonzo, julukan Bonham, adalah tulang punggung bagi proses kreatif band sejak album perdana, yang ditempa mulai September 1968—tepat 50 tahun lalu.

Bonham mendalami musik soul, terutama karya-karya James Brown. Ini yang membuat pukulannya terasa “groovy”. Sementara tenaga, kecepatan, hingga eksplorasi teknik ia dapatkan dari mengidolakan drumer-drumer jazz legendaris: Buddy Rich, Gene Krupa, dan Max Roach. Ada banyak drumer yang berlatar belakang jazz. Namun, Bonham-lah yang memelopori perkawinan jazz dengan rock, terutama blues rock. Ditambah nuansa psikedelik, lahir dan berkembanglah “hard rock” itu sendiri.

Bakar Bufthaim, mantan drumer band metal Rotor dan Sucker Head, berkata bahwa Bonham memberi kreasi warna yang unik pada lagu-lagu Led Zeppelin. Bonham dikenal suka memainkan triplet terutama pada bass drum dan menjadi karakter terutama pada album-album awal band.

“Good Times Bad Times, misalnya, di situ kelihatan banget. Pada tahun-tahun itu baru dia yang memakai teknik tersebut dalam konteks rock,” kata Bakar.

Bonham menjelma sumber inspirasi bagi drumer-drumer rock setelahnya. Bakar berkata warisan Bonham pada Led Zeppelin akan tetap relevan hingga beberapa puluh tahun ke depan. Hal ini dibuktikan dengan puluhan band yang memakai ketukan drum Bonham dalam lagu mereka.

“Imigrant Song, misalnya, dipakai oleh Dewa 19 di lagu Pangeran Cinta,” imbuh pria yang juga pernah jadi session player untuk Dewa 19.

Bonham menciptakan isian-isian yang justru mengikuti gitar Page, yang disadari Bonham atau tidak, kreasi ini turut membentuk pondasi heavy metal. Led Zeppelin disebut-sebut sebagai salah satu founding father genre tersebut bersama grup terhormat lain seperti Black Sabbath atau Deep Purple.

Bakar mencontohkan lagu Communication Breakdown dalam album pertama Led Zeppelin. Lagu itu bisa disebut melampaui zamannya sebab memiliki ketukan dan ritme metal, serta muncul dua tahun sebelum Black Sabbath menelurkan album legendarisnya, Paranoid.

Good Times Bad Times, Imigrant Song, atau When the Leeve Breaks masih dalam komposisi yang sederhana. Aransemen Bonham yang lebih kompleks bisa ditemukan dalam Kashmir, The Wanton Song, atau Black Dog. Bonham juga kerap mengambil inspirasi dari ketukan drum Samba, seperti dalam salah satu lagu led Zeppelin paling “groovy”: Fool in The Rain.

Tentu saja Bonham punya lagu khusus untuk sesi solonya: Moby Dick.

Bonham menghantam drum selama rata-rata 15 menit saat membawakan lagu tersebut di panggung, meski sering pula ia berimprovisasi hingga selama 30 menit.

Personel Led Zeppelin, musisi seangkatan maupun yang lebih muda, hingga para kritikus punya satu muara testimoni: Bonham adalah salah satu drumer terbaik sepanjang masa. Majalah Rolling Stone pernah membuat 100 Greatest Drummers of All Time, dan Bonham diletakkan di posisi puncak.

Bonham memberi pengaruh yang besar terhadap penggebuk drum selanjutnya pada era 1980-an hingga masa kini, merentang dari yang menyelami genre funk hingga progessive metal. Bagi mereka, Bonham tak pernah mati. Kreasinya akan terus hidup serta menginspirasi. Faktor-faktor itulah yang membuat umat rock bersedih sekaligus kehilangan atas kabar kematiannya yang serba mendadak.

Saking istimewa posisi Bonham membikin Page, Plant, dan Jones menilai tidak ada yang mampu menggantikan sang jenius dalam band. Led Zeppelin kemudian bubar, meski baru berpetualang sepanjang satu dekade. Menghasilkan 9 album studio yang tanpa Bonham takkan disebut Led Zeppelin yang kita kenal dan kita dengar.

Baca juga artikel terkait 50 TAHUN LED ZEPPELIN atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Musik)


Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan