22 November 1963

Kennedy Tak Sempat Menjalankan Siasat Politiknya kepada Indonesia

Ilustrasi Lee Harvey Oswald. tirto.id/Gery
Oleh: Irfan Satryo Wicaksono - 22 November 2017
Dibaca Normal 2 menit
Limo beratap
terbuka. Bayang gelap
melewatinya.
tirto.id - Parkland Memorial Hospital. Sebuah panggilan darurat bikin risau Malcolm Perry yang sedang duduk di kafetaria dan berdepan-depan dengan sepiring kroket isi salmon. Panggilan darurat itu ditujukan buat Tom Shires, kepala unit bedah rumah sakit sekaligus atasan Perry. Kebetulan Shires sedang bertugas ke luar kota. Perry memandang kroket isi salmonnya sebentar, menaruh garpu, dan bergegas menjawab panggilan itu.

Menyempal sejenak ke Dealey Plaza, sekitar 5 km sebelah selatan Parkland Memorial Hospital, beberapa saat sebelum panggilan darurat menggema di rumah sakit itu, John Fitzgerald Kennedy ambruk diterjang timah panas. Peluru berkaliber 6,5 milimeter menembus tenggorokan Kennedy dan bikin sang presiden meregang nyawa perlahan-lahan.

Kematian Kennedy sontak menggegerkan dunia dan menjadi salah satu pembunuhan politik terbesar di abad ke-20. Beberapa pekan setelah kematiannya, seorang pesakitan bernama Lee Harvey Oswald ditangkap atas tuduhan pembunuhan presiden.

Baca juga:
Tragedi berdarah ini hanya berselang dua hari, tepatnya 22 November 1963, setelah Kennedy mengumumkan rencananya buat berkunjung ke Jakarta—sebuah rencana yang melibatkan negosiasi panjang hingga memakan waktu berbulan-bulan.

Howard Jones, duta besar AS untuk Indonesia saat itu, sebagaimana ditulis Greg Poulgrain dalam Bayang-bayang Intervensi: Perang Siasat John F. Kennedy dan Allen Dulles atas Sukarno (2017), mengatakan bahwa kunjungan Kennedy ke Indonesia merupakan strategi untuk mengakhiri Konfrontasi Malaysia.

Baca juga:
Konfrontasi Malaysia merupakan sikap protes Indonesia atas format dekolonisasi Inggris di wilayah Asia Tenggara. Sukarno menilai format tersebut adalah kolonialisme dan imperialisme gaya baru. Sebab Inggris bisa dengan mudah memotong-motong kepemilikan kolonial yang berbeda di wilayah Asia Tenggara.

Sikap protes Indonesia mendapat reaksi dari Amerika Serikat. Paman Sam menghentikan bantuan dana buat Indonesia. Bantuan dana ini mula-mula digunakan untuk program-program pembangunan dan pengentasan kemiskinan buat melawan dominasi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Hal itu merupakan salah satu langkah Kennedy untuk merapatkan Indonesia ke Amerika Serikat.
Langkah yang ternyata disambut baik oleh Sukarno.

Pergerakan Kennedy yang mendekatkan diri kepada Indonesia membuatnya begitu akrab dengan Sukarno. Pertemuan perdana mereka terjadi pada 1961. Sejak perjumpaan itu, dua sosok karismatik ini menjadi sepasang karib. Dalam otobiografi yang dituturkan kepada Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2007), Sukarno merasa banyak memiliki kesamaan dengan Kennedy. “Kennedy memiliki pendekatan yang manusiawi,” katanya seperti dikutip Cindy.

Kennedy punya pandangan berbeda dengan CIA terkait Sukarno. Menurutnya, Sukarno bukanlah seorang komunis apalagi membawa Indonesia hanyut ke dalam kekuasaan komunis. Nasionalisme Sukarno adalah sebuah kewajaran dalam konteks cita-cita membangun persatuan dan kesatuan bangsa.

Baca juga:
Selain itu, kedua figur ini punya kesamaan visi. Kennedy dengan “The New Frontier” yang sangat idealistik dan kental semangat muda, sementara Sukarno mengusung gagasan “The New Emerging Forces” yang penuh semangat bergelora.

Sukarno sungguh terkesan dengan keramahan Kennedy. Ia dijamu dengan hangat ketika berkunjung ke Gedung Putih dan diajak berbicara dari hati ke hati di kamar tidur pribadi Kennedy yang ada di lantai dua. Meski demikian, keramahan dan kehangatan Kennedy tak serta merta muncul dari kekaguman atas pribadi Sukarno.

Kennedy tentu saja punya perhitungan politik sendiri yang realistis. Bangunan persahabatan dengan Sukarno merupakan upayanya untuk membawa hawa Perang Dingin ke kawasan Asia Tenggara. Dengan kata lain, Kennedy merayu Sukarno agar berpihak kepada Amerika Serikat. Upaya ini melahirkan siasat yang harus ditempuh Kennedy dalam menjalankan politik luar negerinya.


Siasat yang Tak Kesampaian

Siasat pertama adalah ikut campur dalam konflik Indonesia dengan Belanda terkait sengketa Irian Barat. Kennedy mengutus Elsworth Bunker untuk berperan sebagai mediator perundingan antara Indonesia dan Belanda. Kemudian, ia juga mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Belanda, Joseph Luns. Dalam pertemuan itu, Kennedy menyatakan tidak mau membantu Belanda bila sampai terjadi perang dengan Indonesia. Alasannya, Amerika Serikat tak ingin membuat palagan baru dengan Uni Soviet di kawasan Asia Tenggara.

Siasat kedua adalah pemberian bantuan dana. Proyek pendanaan ini disusun oleh Profesor Donald Humphrey dari Tuft University. Ia merekomendasikan bantuan dana untuk Indonesia dimulai pada 1963 dengan nominal 325-390 juta dolar. Namun, Konfrontasi Malaysia mengubah segalanya.

Sikap Amerika Serikat dalam Konfrontasi Malaysia lebih condong kepada Inggris. Negara Ratu Elizabeth II ini melatih Malaysia agar mampu menjadi negara mandiri setelah proses dekolonialisasi. Sebagai upaya menekan Sukarno, kongres Amerika Serikat menghentikan bantuan dana buat Indonesia.

Baca juga: Inggris Juga Tunggangi G30S untuk Gulingkan Sukarno

Tentu saja, keadaan ini mengancam langkah Kennedy yang ingin menarik Indonesia menjadi sekutunya selama Perang Dingin. Atas dasar ini lah Kennedy berencana melakukan lawatan ke Jakarta.

“Rencana kunjungan Kennedy ke Jakarta adalah langkah radikal untuk membuka kembali semua dana tersebut karena itu merupakan bagian penting dari 'tindak lanjut strategi' yang telah ia atur,” tulis Poulgrain.

Tapi rencana kunjungan Kennedy ke Jakarta dan bertemu Sukarno, sahabatnya, tak pernah terlaksana.

Di sebuah ruang gawat darurat, Kennedy terbaring dengan darah meraupi kepala, leher, hingga melumur ke lantai. Dr. Perry tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan nyawa presidennya.

Nun jauh di timur, sebuah wisma khusus sudah siap digunakan. Letaknya di halaman Istana. Wisma tersebut sengaja dibangun Sukarno buat menyambut kedatangan sahabatnya, yang rencananya bakal terjadi pada musim semi 1964.

“Aku sangat menyesal bahwa ia tidak pernah bisa datang,” kata Sukarno.

Baca juga artikel terkait PEMBUNUHAN KENNEDY atau tulisan menarik lainnya Irfan Satryo Wicaksono
(tirto.id - Politik)

Reporter: Irfan Satryo Wicaksono
Penulis: Irfan Satryo Wicaksono
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight