tirto.id - Belakangan ini banyak pelaku usaha maupun konsumen mengeluhkan harga plastik yang naik cukup tajam. Plastik sendiri masih menjadi kebutuhan penting dalam berbagai aktivitas, termasuk untuk tas belanja atau bungkus makanan. Lalu, kenapa harga plastik naik?
Harga plastik di Indonesia diketahui melonjak cukup tinggi hingga mencapai 100%. Dengan kenaikan ini, tak sedikit pelaku usaha yang terpaksa menaikkan harga dagangannya. Padahal, banyak UMKM yang sangat bergantung pada komoditas yang satu ini.
Dilansir dari situs Antaranews, industri kemasan plastik di Indonesia memang mendominasi pasar hingga 67,61% di tahun 2025 lalu. Namun, ketergantungan negara kita terhadap impor bahan baku plastik juga masih cukup besar, yakni mencapai 55%.
Ini menunjukkan bahwa pasokan dalam negeri belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan industri plastik dan Indonesia masih mengandalkan impor dari negara lain.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah sangat berpengaruh. Pasalnya, sebagian besar distribusi energi dan bahan baku melewati Selat Hormuz yang menjadi titik konflik. Inilah yang menjadi alasan utama kenapa harga plastik naik akhir-akhir ini.
Kenapa Harga Plastik Mahal Pasca Minyak Bumi Naik?

Perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran menyebabkan harga minyak bumi naik. Kenapa hal ini bisa terjadi? Secara umum, kawasan Timur Tengah dikenal sebagai pusat produksi sekaligus distribusi energi, termasuk minyak bumi.
Ketika terjadi perang, muncul kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak, terutama karena Iran adalah salah satu produsen minyak terbesar di dunia dan wilayahnya berdekatan dengan Selat Hormuz, yaitu jalur penting yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak mentah dunia.
Perang Iran dan gangguan pada jalur ini (seperti penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang terjadi akhir-akhir ini) otomatis akan menghambat distribusi minyak secara global sehingga pasokan berkurang dan harganya melonjak.
Hubungan Antara Plastik dan Minyak Bumi
Harga minyak yang naik menjadi salah satu alasan kenapa harga plastik naik. Namun, bagaimana harga minyak bumi bisa memengaruhi harga plastik?Dikutip dari laman British Plastics Federation (BPF), plastik saat ini terbagi dalam dua kategori utama berdasarkan sumber bahan bakunya, yakni varian sintetis dan berbasis hayati.
Plastik sintetis diproduksi melalui pengolahan sumber daya fosil yang tidak terbarukan seperti minyak bumi, gas alam, atau batu bara. Sementara plastik berbasis hayati memanfaatkan bahan-bahan alami seperti pati, lemak, minyak nabati, serta zat biologis lain.
Namun, BPF juga mengungkap bahwa sebagian besar plastik yang saat ini digunakan di dunia adalah jenis plastik sintetis. Alasannya karena proses produksinya relatif lebih mudah, terutama karena didukung oleh infrastruktur pengolahan minyak mentah yang sudah mapan.

Sementara itu, situs Hangzhou Rollmed menjelaskan bahwa bahan utama plastik adalah petrokimia yang berasal dari minyak mentah dan gas alam, termasuk etilen yang dihasilkan dari nafta (turunan minyak bumi) dan menjadi komponen penting dalam produksi plastik.
Kawasan Timur Tengah, termasuk Iran, dikenal sebagai pemasok nafta yang mampu menyuplai sebagian besar kebutuhan nafta di Asia. Oleh karena itu, perang akan secara signifikan mengganggu pasokan dan harga bahan baku plastik tersebut yang pada akhirnya turut membuat harga plastik di pasaran melonjak.
Selain itu, hubungan antara minyak dan plastik tidak hanya terjadi pada tahap bahan baku, tapi juga di sepanjang rantai produksi, termasuk distribusi. Proses produksi dan pengiriman plastik tentunya sangat bergantung pada energi dan bahan bakar yang tak sedikit.
Lonjakan harga minyak akibat perang akhirnya meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan. Kondisi inilah yang membuat harga akhir plastik semakin mahal karena produsen dan distributor harus menyesuaikan harga jual untuk menutup kenaikan biaya operasional.
Alternatif Pengganti Plastik untuk Berbagai Kebutuhan

Setelah mengetahui alasan kenapa harga plastik naik, masyarakat diharapkan bisa mencari dan beralih pada alternatif lain yang lebih murah, ramah lingkungan, dan tetap efektif untuk berbagai kebutuhan. Berikut beberapa alternatif pengganti plastik yang bisa dicoba:
1. Tas Kain (Reusable Bag)
Reusable bag dalam bentuk tas kain menjadi salah satu pengganti paling populer untuk kantong plastik sekali pakai. Selain lebih kuat dan tahan lama, tas ini bisa digunakan berulang kali sehingga lebih hemat. Bahan kain juga dianggap lebih ramah lingkungan dibanding plastik.2. Kertas dan Karton
Bahas kertas sering digunakan sebagai pengganti plastik untuk kemasan ringan, seperti bungkus makanan atau tas belanja. Bahan ini lebih mudah didaur ulang maupun terurai secara alami, tapi tetap perlu digunakan secara bijak untuk menghindari pemborosan sumber daya.3. Daun untuk Bungkus Makanan
Penggunaan daun seperti daun pisang dan daun jati sebagai pembungkus makanan sudah lama diterapkan secara tradisional, bahkan sebelum plastik marak di Indonesia.Selain ramah lingkungan, daun juga dapat memberikan aroma alami pada makanan. Alternatif ini juga cocok untuk usaha kuliner yang ingin mengurangi penggunaan plastik sekaligus menjadikan produknya jadi lebih unik.
4. Bioplastik
Bioplastik merupakan inovasi yang dibuat dari bahan alami dan terbarukan seperti pati tanaman sehingga tidak bergantung pada minyak bumi. Tampilannya mirip plastik konvensional, tapi lebih mudah terurai dan ramah lingkungan. Sayangnya bioplastik masih terbatas karena biaya produksi yang relatif lebih tinggi.5. Terapkan Minim Sampah Plastik (Zero Waste)
Selain mengganti, mengurangi penggunaan plastik juga bisa membantu di kondisi saat ini. Kita bisa mengubah kebiasaan seperti membawa wadah sendiri saat membeli makanan atau selalu menyiapkan reusable bag di dalam tas saat bepergian.Demikian penjelasan tentang kenapa harga plastik naik dan kaitannya dengan minyak bumi. Dengan memahami hal ini, masyarakat diharapkan bisa lebih bijak dalam menyikapi perubahan harga sekaligus mulai mempertimbangkan penggunaan alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Temukan berita terkini dan informasi menarik lain seputar plastik melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id







































