Menuju konten utama

Kenapa Harga Plastik Naik & Apa Kaitannya dengan Perang Iran?

Beberapa alasan kenapa harga plastik naik imbas perang AS-Israel vs Iran. Perang akan sangat berdampak pada ekonomi.

Kenapa Harga Plastik Naik & Apa Kaitannya dengan Perang Iran?
Pedagang memasukkan bumbu dapur ke dalam kantong plastik di Pasar Anyar, Kota Tangerang, Banten, Kamis (2/4/2026). Harga kantong plastik di kalangan pedagang mengalami kenaikan sebesar Rp5.000 hingga Rp10.000 per pak tergantung ukurannya yang disebabkan terganggunya impor bahan baku pembuatan kantong plastik dari Timur Tengah. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga plastik di sejumlah kota besar di Indonesia mengalami kenaikan. Hal ini dilaporkan terjadi sebagai imbas Perang Iran yang pecah sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Teheran 28 Februari lalu. Mengapa demikian?

Kenaikan harga plastik di pasar-pasar tradisional di Indonesia terjadi dalam satu bulan terakhir. Per Senin (6/4/2026), kenaikan dilaporkan terjadi di Padang, Jakarta, hingga Makassar.

Seturut Antara, kenaikan harga plastik telah terjadi dalam sebulan terakhir. Menurut salah satu pedagang plastik di Kota Sampit, Kalimantan Tengah, kenaikan makin terasa setelah Lebaran.

"Kenaikan mulai terasa sejak pertengahan bulan puasa, tetapi saat itu belum terlalu signifikan. Setelah Lebaran, kenaikannya semakin terasa dan sampai sekarang sudah sekitar lima kali mengalami kenaikan," kata Iyan, seorang pedagang plastik di Pasar Keramat Sampit pada Kamis (2/4).

Kenaikan harga plastik juga membuat pemerintah tengah mengkaji opsi pemenuhan kebutuhan bahan baku plastik dari benua Afrika dan Amerika. Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso pada Kamis.

"Kita cari alternatif bahan baku pemasok nafta [bahan baku plastik] itu dari India, Afrika, dan Amerika. Kita sudah dapat itu, tapi kan proses," ucap Budi.

Kenapa Kenaikan Harga Plastik Naik terkait Perang Iran?

Perang Iran berdampak pada kenaikan harga plastik di Indonesia karena jalur distribusi dan produksi bahan baku plastik yang terganggu di Asia Barat.

Seturut Reuters, tekanan Iran pada Selat Hormuz tak hanya menghambat aliran minyak, tetapi juga aliran produksi industri petrokimia. Industri ini merupakan penghasil bahan baku plastik macam nafta.

Selat Hormuz sejauh ini merupakan jalur penting distribusi petrokimia. Sekitar USD20 miliar hingga USD25 miliar produk petrokimia didistribusikan melalui jalur ini.

Dengan adanya tekanan dari Iran pada selat tersebut, banyak negara yang kehilangan pasokan bahan baku plastik, seperti Indonesia.

Menurut Mendag Budi Santoso, produksi plastik Indonesia menggunakan bahan baku seperti nafta. Bahan kimia ini, kata Budi, didapat Indonesia melalui impor dari Asia Barat.

"Bahan bakunya [plastik] salah satunya impor, kita impor nafta dari Timur Tengah. Timur Tengah kan lagi berdampak," katanya.

Akan tetapi, nafta bukan satu-satunya bahan baku plastik. Perang Iran juga berdampak pada arus distribusi bahan baku plastik lainnya, misalnya, polietilen (polyethylene) dan polipropilen (polypropylene).

Kini, polietilen dan polipropilen juga mengalami lonjakan harga sejak AS dan Israel memulai perang di Iran. CEO Dow, Jim Fitterling, menurutkan pada Reuters bahwa sekitar 50 persen pasokan polietilen dunia terdampak perang.

"Sekitar 50 persen pasokan polietilen terhenti, terbatas, atau terpengaruh setelah peristiwa di Timur Tengah," katanya.

Situasi tersebut kemudian menyebabkan kenaikan ongkos produksi plastik di sejumlah kawasan, terutama Asia dan Eropa. Selama ini, produksi plastik dua benua tersebut mengandalkan bahan baku dari Asia Barat.

Kenaikan ongkos produksi itu kemudian menyebabkan para produsen memilih untuk meningkatkan harga jual ke pelanggan untuk menutupi anggaran produksi yang membengkak.

Melansir CNN, membengkaknya harga bahan baku plastik belakangan ini berisiko ikut meningkatkan harga komoditas lintas sektor lain. Hal ini, misalnya, tidak hanya berdampak pada produk kantong plastik, tetapi juga kemasan macam botol plastik hingga manufaktur.

"Dalam 25 tahun saya [di industri plastik], saya belum pernah melihat peningkatan [harga bulanan] polietilen sebesar ini sebelumnya," kata Michael Greenberg, CEO Plastics Exchange.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dipna Videlia Putsanra