tirto.id - Serangan udara yang menghantam Shahid Beheshti University di Teheran utara menggambarkan jika dalam serangannya Amerika Serikat dan Israel juga menargetkan institusi akademik dan penelitian sipil. Bagaimana kondisi saat ini?
Pusat Riset Laser dan Plasma di Universitas Shahid Beheshti dilaporkan hancur akibat pemboman oleh pesawat tempur pada Jumat (3/4/2026)
Meskipun tidak menimbulkan korban jiwa karena aktivitas kampus telah dihentikan dan dialihkan ke pembelajaran daring, namun, kerusakan fisik yang terjadi sangat besar. Asrama mahasiswa di sekitarnya juga mengalami dampak dengan kerusakan ringan.
Serangan ini dipandang sebagai bagian dari pola yang lebih luas. Fasilitas sipil termasuk universitas, pusat riset, dan institusi kesehatan menjadi sasaran dalam perang yang sedang berlangsung.
Hingga saat ini, tidak ada penjelasan resmi dari pihak AS dan Israel mengenai alasan spesifik penargetan tersebut.
Salah satu tokoh penting yang terkait adalah Mohammad Mehdi Tehranchi. Fisikawan teoretis dan ilmuwan nuklir yang sebelumnya memimpin laboratorium magneto-fotonik di universitas tersebut telah dilaporkan tewas. Ia menjadi korban dalam tahap awal konflik, yakni saat perang 12 hari Israel-Iran pertengahan 2025 lalu.
“Tindakan permusuhan ini tidak hanya menargetkan keamanan akademisi dan lingkungan ilmiah negara, tetapi juga merupakan serangan nyata terhadap akal sehat, penelitian, dan kebebasan berpikir,” bunyi pernyataan universitas tersebut seperti dilaporkan Al Jazeera (4/4/2026).
Pemerintah Iran mengecam keras serangan ini dengan menyebutnya bukan hanya sebagai ancaman terhadap keamanan fisik, namun juga terhadap dunia akademik dan kebebasan berpikir.
Menteri Sains Iran, Hossein Simaei Saraf menyatakan bahwa setidaknya 30 universitas telah terdampak sejak perang dimulai pada akhir Februari. Ini menandakan bahwa sektor pendidikan tinggi ikut menjadi sasaran.
Ia juga menyoroti bahwa para ilmuwan Iran telah lama menjadi target, termasuk pembunuhan sejumlah profesor selama konflik, yang memperkuat narasi bahwa perang ini juga menyasar kapasitas intelektual dan ilmiah negara.
“Menyerang universitas dan pusat penelitian berarti kembali ke Zaman Batu,” sindir Hossein Simaei Saraf.
Selain Shahid Beheshti University, serangan juga menghantam institusi penting lain seperti Iran University of Science and Technology, yang memiliki fasilitas pengembangan satelit domestik, serta Pasteur Institute of Iran, sebuah lembaga bersejarah yang berperan dalam penelitian penyakit menular dan produksi vaksin.
Menurut World Health Organization, kerusakan pada Institut Pasteur cukup parah hingga mengganggu layanan kesehatan dan diagnostik, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.
AS-Israel juga Serang Fasilitas Kesehatan
Selain menargetkan institusi akademik dan pusat penelitian, serangan AS-Israel ke Iran juga menyasar fasilitas-fasilitas kesehatan. Sebanyak lebih dari 20 fasilitas kesehatan di Iran dilaporkan terkena serangan sejak awal Maret, termasuk Rumah Sakit Jiwa Delaram Sina yang mengalami kerusakan signifikan.
Dampak serangan ini meluas ke sektor lain, termasuk industri farmasi, sekolah, perumahan, dan bisnis. Salah satu perusahaan farmasi besar di dekat Teheran juga diserang.
Iran menuduh bahwa tujuan serangan pihak lawan terhadap fasilitas kesehatan adalah untuk mengganggu rantai pasokan obat.
Menampik tudingan Iran, Israel menjelaskan jika serangan itu didasari dengan dugaan adanya kaitan antara fasilitas kesehatan dengan produksi senjata kimia.
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Iran per 3 April 2026, jumlah korban tewas di negara tersebut adalah 2.076 jiwa. Selain itu, sebanyak 26.500 orang dilaporkan luka-luka sejak perang pecah pada 28 Februari 2026.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































