Menuju konten utama

KemenPPPA: Tragedi Anak di NTT Tak Sekadar Masalah Kemiskinan

Ada pula faktor akumulasi beban psikologis yang dipendam sendiri oleh korban dan hambatan budaya.

KemenPPPA: Tragedi Anak di NTT Tak Sekadar Masalah Kemiskinan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi di sela-sela peluncuran Hasil Analisis Mendalam Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 di Jakarta, Kamis (4/12/2025). ANTARA/Anita Permata Dewi

tirto.id - Kasus meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga akibat himpitan ekonomi menjadi sorotan publik. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengungkapkan bahwa tragedi ini bukan sekadar masalah kemiskinan, melainkan adanya akumulasi beban psikologis yang dipendam sendiri oleh korban.

Arifah menyoroti adanya hambatan budaya yang membuat anak laki-laki sulit mengekspresikan perasaan mereka. Konstruksi sosial yang menuntut laki-laki untuk selalu kuat dinilai menjadi penghalang bagi korban untuk mencari pertolongan.

Meskipun isu ekonomi mengenai ketidakmampuan membeli alat tulis mencuat sebagai pemicu, Arifah melihat adanya faktor yang lebih kompleks. Anak laki-laki di Indonesia, menurut Arifah, sering kali tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan ruang untuk berbagi kesedihan.

"Analisa sementara bahwa si anak ini tidak punya tempat untuk bercerita apa yang sebetulnya sedang dirasakan. Karena, masih ada di budaya kita laki-laki harus kuat, laki-laki tidak boleh cengeng, laki-laki tidak boleh nangis," ujar Arifah Fauzi saat ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (7/2/2026).

Dia menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi lintas kedinasan untuk memberikan penanganan khusus bagi keluarga yang ditinggalkan, termasuk nenek, ibu, dan dua saudara korban.

Beberapa langkah yang sedang dijalankan antara lain melakukan pendampingan psikologis kepada nenek dan ibu korban.

Mengingat keterbatasan tenaga ahli di lokasi, KemenPPPA mendatangkan psikolog klinis dari kabupaten terdekat untuk memulihkan trauma keluarga.

“Yang akan diutamakan adalah bagaimana penguatan kepada keluarga. Di situ ada nenek, ada ibu, dan dua saudaranya,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya memastikan agar dua kakak korban yang berusia 14 dan 17 tahun tetap mendapatkan hak pendidikan melalui koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial.

Lebih jauh, Arifah mengatakan bahwa meskipun pihaknya sudah mendapatkan analisa awal terkait motif utama di balik kejadian tersebut, KemenPPPA masih terus melakukan pendalaman. Pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan bahwa faktor ekonomi adalah satu-satunya pemicu.

"Kami sedang mencoba bersama berbagai dinas yang ada memberikan dampingan. Nanti kalau sudah ada analisa yang lebih kuat, kita akan sampaikan kembali," titur Arifah.

Baca juga artikel terkait KEMEN PPPA atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fadrik Aziz Firdausi