Menuju konten utama

Kemenkes Catat 50.891 Kasus ISPA Juli-Agustus Akibat Karhutla

Andi memerinci, sebanyak 12.600 kasus dari total 50.891 kasus tersebut dialami balita di bawah usia 5 tahun, sedangkan 38.291 kasus di atas 5 tahun.

Kemenkes Catat 50.891 Kasus ISPA Juli-Agustus Akibat Karhutla
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni. FOTO/kemkes.go.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 50.891 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Untuk mengantisipasi lonjakan kasus yang meluas di 63 kabupaten/kota, pemerintah menyiagakan 1.891 puskesmas dan 360 rumah sakit rujukan di wilayah terdampak.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menyampaikan bahwa lonjakan kasus tersebut terhimpun melalui sistem surveilans penyakit yang dipantau berkala sejak awal musim kemarau.

"Sampai saat ini, ISPA sejak kami pantau terutama bulan Juli dan Agustus setelah ada potensi terjadinya peningkatan kebakaran, ya, asap kebakaran daripada karhutla ini, ya, itu terkumpul total kumulatif kasus ISPA sejak bulan Juli, Agustus itu sebanyak 50.891 kasus," ujar Andi dalam konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Selasa (1/9/2026), sebagaimana ditayangkan di YouTube resmi BNPB.

Andi memerinci, sebanyak 12.600 kasus dari total 50.891 kasus tersebut dialami balita di bawah usia lima tahun, sedangkan 38.291 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun. Sementara itu, penambahan kasus harian per 1 September tercatat sebanyak 451 kasus.

Peningkatan kasus ISPA tidak hanya terjadi di daerah pusat titik api, melainkan juga meluas ke wilayah tetangga akibat asap yang terbawa angin, seperti di Kalimantan Utara.

"Dan kami catat bahwa jumlah kabupaten/kota yang meningkat kasus ISPA-nya di tahun 2026 ini ada sebanyak 63 kabupaten/kota," tutur Andi.

Merespons krisis kesehatan tersebut, Kemenkes memperkuat kesiapsiagaan fasilitas layanan kesehatan dengan menyiapkan pos pelayanan medis, tenaga cadangan, dan laboratorium penguji kualitas udara.

"Kami sudah menyiapkan pos pelayanan kesehatan termasuk obat-obatannya di seluruh Puskesmas di daerah kejadian yakni 1.891 Puskesmas," jelas Andi.

Selain menyiagakan fasilitas kesehatan, Kemenkes telah mendistribusikan sekitar 800 ribu masker, 170 unit konsentrator oksigen, serta obat-obatan penunjang ke tujuh provinsi prioritas terdampak, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatra Selatan.

Untuk menjaga rantai pasok medis, Kemenkes turut memastikan cadangan logistik pelindung pernapasan tetap tercukupi di tingkat daerah.

"Stok masker di provinsi, kabupaten/kota maupun Puskesmas terus kami pantau. Jadi ketersediaan masker sampai saat ini di tujuh provinsi utama, apakah itu di Dinas Kesehatan Provinsi, Kabupaten/Kota maupun Puskesmas, ada stok sebanyak 1.788.000 masker. Utamanya adalah masker N95," terang Andi.

Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak kabut asap untuk membatasi aktivitas luar ruangan, memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), memperbanyak konsumsi air putih, serta disiplin mengenakan masker standar guna melindungi kelompok rentan dari bahaya partikel halus PM 2,5.

"Kemudian kita juga menyiapkan rumah sakit rujukan sebanyak 360 rumah sakit rujukan, menyiapkan Labkesmas sebanyak 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat untuk pengujian kualitas udara terutama dan juga pemeriksaan-pemeriksaan terkait dengan keadaan kesehatan dari pasien," jelasnya.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Flash News
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Andrian Pratama Taher