Menuju konten utama

BNPB Catat Hotspot di Kalbar Capai 7.377 Titik, Naik 3.553 Titik

Hotspot meningkat di Kalbar, Kalteng, dan Sumsel di tengah karhutla. BNPB mengerahkan 53 armada udara untuk patroli, OMC, dan water bombing.

BNPB Catat Hotspot di Kalbar Capai 7.377 Titik, Naik 3.553 Titik
Personel Direktorat Samapta Polda Kalimantan Barat menarik selang pemadam menuju titik kebakaran lahan di Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rabu (15/7/2026). ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/kye
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan jumlah titik panas atau hotspot di Kalimantan Barat (Kalbar) mencapai 7.377 titik, atau bertambah 3.553 titik. Sementara itu, jumlah titik api atau fire spot bertambah 88 titik menjadi 104 titik.

Kenaikan titik panas tersebut terjadi di tengah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah melanda enam provinsi di Indonesia.

“Kita lihat bahwa di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah maupun Kalimantan Selatan, jumlah titik panas itu relatif bertambah,” kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal YouTube BNPB, Senin (31/8/2026).

Selain Kalbar, wilayah lain yang mengalami kenaikan hotspot adalah Sumatera Selatan (Sumsel) dengan total 1.013 titik. Sementara itu, di Kalimantan Tengah (Kalteng), fire spot bertambah 16 titik dan di Kalimantan Selatan (Kalsel) bertambah tiga titik. Namun, jumlah hotspot di Kalsel berkurang 405 titik.

Lebih lanjut, Berton mengatakan BNPB bersama tim gabungan terus melakukan penanganan karhutla, termasuk melalui patroli, pemadaman, dan pendinginan.

Untuk memperoleh air, kata Berton, petugas melakukan penyekatan area serta membuat sumur dan kanal baru agar sumber air lebih dekat dengan titik api maupun titik panas.

Petugas juga mulai melakukan penjagaan di beberapa daerah terdampak untuk memastikan tidak ada lagi penambahan titik akibat tindakan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Berton menjelaskan saat ini terdapat 53 unit armada udara. Sebanyak 19 unit di antaranya digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 unit lainnya digunakan untuk water bombing melalui helikopter.

Berton memastikan pihaknya akan terus menangani karhutla melalui operasi darat dan udara serta OMC. Menurut dia, OMC telah menghasilkan hujan di sejumlah wilayah dan membantu proses pemadaman serta pendinginan hutan dan lahan.

Lebih lanjut, Berton menjelaskan kendala dalam penanganan karhutla di Papua Barat. Operasi darat untuk sementara dihentikan karena vegetasi yang tinggi dan sejumlah alasan lainnya. Sebagai solusinya, BNPB akan melakukan pemetaan ulang lokasi terbakar menggunakan drone thermal.

Oleh karena itu, Berton mengimbau masyarakat terdampak untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah. Ia juga mengimbau masyarakat tidak membakar sampah, membuang puntung rokok, atau bermain dengan api yang dapat menyebabkan kebakaran.

Selain itu, masyarakat yang melakukan kegiatan berkemah diimbau memastikan api unggun telah benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Auliya Umayna Andani

tirto.id - Flash News
Reporter: Auliya Umayna Andani
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Alfitra Akbar