tirto.id - Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menyatakan, hilangnya tutupan hutan atau deforestasi hingga triwulan ketiga 2025 mencapai 166.450 hektare. Pernyataan itu disampaikannya saat rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR RI di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Senin (19/1/2026).
Rohmat mencatat, angka deforestasi pada 2025 menurun jika dibandingkan dengan deforestasi pada 2024.
"Deforestasi tahun 2024 seluas 175.437 hektare, sampai dengan triwulan ketiga tahun 2025 sebesar 166.450 hektare," tuturnya.
Kendati demikian, Rohmat menyoroti masih ditemukannya praktik penanaman lahan sawit di dalam kawasan hutan. Tercatat, luas lahan sawit dalam hutan mencapai sekitar 3,32-4 juta hektare.
Jika diklasifikasikan, hutan yang masih tertanam sawit, yakni hutan konservasi seluas 0,68 juta hektare, hutan lindung 0,15 juta hektare, hutan produksi tetap 1,48 juta hektare, hutan produksi terbatas 0,5 juta hektare, dan hutan produksi yang dapat dikonversi 1,09 huta hektare.
"Satgas PKH sudah menguasai seluas 1,5 juta hektar dan kawasan konservasi yang diserahkan kembali ke Kementerian Kehutanan seluas 688.427 hektar untuk pemulihan ekosistem," ujarnya.
Menurut Rohmat, Kemenhut terus berupaya agar angka deforestasi menurun. Kini, Kemenhut disebut telah mencabut 40 izin perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH).
Akan tetapi, ia enggan mengungkapkan nama perusahaan yang izinnya dicabut. Sementara itu, Rohmat menyatakan, Kemenhut juga tengah mengaudit puluhan PBPH di Sumatra yang menjadi penyebab bencana banjir bandang hingga banjir.
"Serta saat ini sedang mengaudit 24 PBPH pada tiga provinsi terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat," katanya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






































