Karel Doorman Memilih Tenggelam bersama De Ruyter di Laut Jawa

Oleh: Petrik Matanasi - 19 Januari 2018
Dibaca Normal 3 menit
Belanda marah karena tiga kapalnya yang karam di Laut Jawa hilang. Tiga kapal itu dulu dipecundangi Angkatan Laut Jepang pada PD II.
tirto.id - Lebih dari satu setengah abad silam, pemerintah kolonial Hindia Belanda marah besar kepada Raja Buleleng di Bali. Gara-garanya, mereka menganut Hukum Tawan Karang, yang mengatur bahwa semua kapal karam di perairan kerajaannya adalah milik raja. Pemerintah menolak, apalagi kapal-kapal Belanda sering melintasi perairan sekitar Bali.

Perampasan atas kapal Belanda yang karam oleh pihak Raja Bali pun memicu puputan (perang habis-habisan) di Jagaraga, sejak 1846 hingga 1849. Pasukan Bali yang dipimpin I Gusti Ketut Jelantik, yang kemudian ditahbiskan menjadi Pahlawan Nasional, dihabisi pelan-pelan oleh militer Belanda.


Kejadian hampir dua abad lalu itu sempat terulang lagi pada November 2016. Perdana Menteri Belanda Mark Rutte sewot karena kapal mereka hilang di Laut Jawa—tentu kali ini tak disertai ancaman perang. Republik Indonesia bukan penganut Hukum Tawan Karang seperti raja-raja Bali tempo dulu. Tapi fakta bahwa kapal-kapal itu hilang tak berjejak di perairan Indonesia membikin Amsterdam kebakaran jenggot.

Puing-puing yang lenyap itu adalah kapal-kapal perang Belanda yang hilang di sekitar Laut Jawa, yakni HNLMS De Ruyter, HNLMS Java, dan HNLMS Kortenaer. Ketiganya adalah korban armada Angkatan Laut Jepang. Bagi Mark Rutte, hilangnya puing-puing kapal itu adalah perkara yang sulit diterima.

"Fakta bahwa kuburan perang dijarah saja sudah merupakan masalah yang sangat serius, dengan implikasi jauh terhadap para penyintas dan kita semua,” kata Rutte, dikutip dari Voice of America, 22 November 2016.

"Penodaan kuburan perang adalah penghinaan serius," kata Menteri Pertahanan Belanda Jeanine Hennis-Plasschaert pada 2016. "Pertempuran Laut Jawa adalah bagian dari memori kolektif kami. Bangkai kapal itu saksi bisu peristiwa tragis dan panggung kisah-kisah tentang kengerian perang."

Aksi Penjarahan Kapal Bersejarah Memicu Perhatian Internasional

Kabar pencurian kapal-kapal bersejarah yang karam pada Perang Dunia II, tepatnya saat Pertempuran Laut Jawa, telah memicu perhatian internasional.

Selama ini aksi pengutilan besi rongsok dari kapal-kapal karam kerap dialamatkan kepada "orang Madura"—yang setengah stereotip tapi juga setengah benar. Namun, dengan melihat bobot kapal perang tersebut—misalnya De Ruyter yang seberat 6.650 ton—agaknya nyaris mustahil tenaga manusia mampu melenyapkan dalam waktu sekejap. Terlebih kapal ini tenggelam di dasar laut yang dalam—sekitar 60 meter.

Nia Laelul Hasanah Ridwan, periset arkeologi maritim dari Pusat Penelitian dan Pengembangan untuk Sumber Daya Laut dan Pesisir di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengatakan bahwa dugaan pemburu besi lokal sebagai pelaku pencurian hanya bagian kecil dari penjarahan kapal-kapal ini.

Media macam BBC (Inggris), ABC (Australia), dan The Guardian (Inggris) telah melaporkan mengenai pemain besar yang melenyapkan kapal-kapal tersebut hingga tak berwujud seperti semula. Bahkan sebuah konferensi mengenai arkeologi maritim yang digelar di Adelaide, Australia, pada September 2017, mengungkapkan ada 48 kapal karam, termasuk kapal-kapal Perang Dunia II, telah diangkat secara ilegal di perairan Asia Tenggara.

Penelusuran kami di lapangan, yakni di Pelabuhan Brondong, Lamongan, pada November 2017 pun mengarah pada perusahaan salvage (kegiatan bawah air) bernama PT Jatim Perkasa. Perusahaan ini mengoperasikan sebuah tongkang bercakar bernama Pioner 88 yang diduga meremukkan dan mengangkut ketiga kapal perang Belanda tersebut. Aktivitasnya diketahui oleh para pejabat dari Dirjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, tetapi pemerintah Indonesia seakan tutup mata.

Upaya Yayasan Karel Doorman Mengetahui Kapal Pahlawannya Dijarah

Amarah Perdana Menteri Mark Rutte bermula dari upaya yayasan bernama Karel Doorman Fonds menyelidiki kondisi bangkai kapal perang Belanda yang karam di Laut Jawa pada November 2016. Penyelidikan ini sebagai persiapan memperingati 75 tahun Pertempuran Laut Jawa.

Sayangnya, upaya penyelaman ke bangkai kapal De Ruyter dan Java itu tak kunjung diberikan oleh otoritas Indonesia. Nekat, yayasan meminta bantuan pihak swasta untuk menyelam ke titik koordinat di Laut Jawa tempat kedua kapal tersebut tenggelam.

Malang, para penyelam termasuk Pete Maisley tertegun tak percaya. Ketika sampai ke dekat dasar laut ia hanya melihat cerukan, menandakan dulu di sana pernah ada bangkai kapal raksasa.

"Tak ada kerangka yang tersisa," kata Maisley merujuk De Ruyter, sembari menarik napas kecewa.

Bukan tanpa alasan Karel Doorman Fond berusaha gigih mengetahui kondisi kapal De Ruyter. Nama yayasan ini diambil dari nama Laksamana Belanda yang memimpin kapal tersebut, Karel Willem Frederik Marie Doorman. Ketika memimpin De Ruyter pada 1942, Doorman sudah berdinas 36 tahun di Angkatan Laut Belanda.

Pada Pertempuran Laut Jawa, Doorman lebih memilih ikut tenggelam bersama De Ruyter. Kapal ini karam pada 28 Februari 1942 setelah dihajar torpedo dari kapal Jepang. Bagi publik Belanda, Doorman adalah pahlawan.

Kehilangan bangkai kapal tersebut, serta jasad serdadu dan sang laksamana yang ikut terangkut dalam aksi penjarahan, tentu sulit diterima oleh publik Belanda.

infografik HNLMS De Ruyter

Tenggelamnya Kapal De Ruyter

P.K. Ojong dalam dalam Perang Pasifik (2009) menulis bahwa Karel Doorman "telah berbuat kesalahan" karena menginstruksikan armadanya terlampau awal meninggalkan pangkalan di Surabaya, yaitu magrib tanggal 25 Februari 1942 "untuk mencari kontak dengan lawan."

Rupanya armada Angkatan Laut Jepang masih jauh. Akhirnya, anak buahnya terlalu lama menunggu dan mengalami keletihan luar biasa. Pagi pukul 09.30, 27 Februari 1942, Doorman memutuskan armada merapat kembali ke Surabaya untuk beristirahat.

Pukul 10.00, perintah datang dari Laksamana Helfrich di Bandung kepada Doorman: “Tuan harus menuju timur untuk mencari dan menyerang musuh.”

Kondisi letih armadanya membuat Doorman mengabaikan perintah hingga siang hari. Barulah pada pukul 15.00, ia menjalankan perintah Helfrich: menyerbu armada Jepang di timur Bawean.

Armada Karel Doorman, tanpa koordinasi yang baik, mengalami kekacauan sejak pukul 17.08 hingga 19.38. Akhirnya, mereka bertempur habis-habisan sampai De Ruyter ditenggelamkan di Laut Jawa.

Tenggelamnya kapal De Ruyter sangat membekas dalam ingatan Boenandir, mantan Kolonel Angkatan Darat Indonesia yang saat itu awak kapal De Ruyter. Laki-laki kelahiran Blitar tahun 1919 ini menjadi saksi tembakan-tembakan peluru artileri 280 mm dari mulut meriam kapal Jepang.

Beberapa peluru menghantam kapal yang diawakinya. Boenandir ingat awak kapal De Ruyter berusaha membalas semampunya, meski hanya dengan peluru artileri 150 mm yang daya jangkaunya tak sebanding peluru 280 mm.

“Armada laut mereka luar biasa besar dan banyak. Amunisi mereka pun juga banyak,” ingat Boenandir.

Setelah sehari semalam bertempur, pantat kapal De Ruyter kena tembak torpedo Jepang. Awak kapal panik dan berusaha menyelamatkan diri, termasuk Boenandir.

“Waktu itu saya masih di kamar mesin. Luar biasa takut dan panik saya. Kapal sudah mulai miring dan saya berjuang untuk mencapai dek. Begitu melihat sekoci penyelamat, saya langsung naik dan tak berapa lama kemudian kapal karam,” ujar Boenandir di Suara Surabaya (27/02/2008).


Sebanyak 915 pelaut Angkatan Laut Belanda tewas, termasuk Karel Doorman. Sekitar 475 awak lain berhasil selamat, termasuk Boenandir.

Mereka yang selamat terombang-ambing selama sehari semalam sampai sebuah kapal mendekat. Semula pelaut-pelaut malang ini sumringah karena mengira akan diselamatkan. Namun tidak setelah kapal itu mendekat.

Mereka memang akan diselamatkan oleh kapal yang datang, tapi untuk dijadikan tawanan. Sebab, kapal yang datang adalah kapal Jepang. Mereka hidup layaknya romusha sampai kekalahan Jepang pada 1945.

Pertempuran Laut Jawa itu diingat Laksamana Helfrich sebagai "pertempuran laut yang nahas." Para korban yang tewas dalam Pertempuran Laut Jawa itu dikebumikan di Makam Kehormatan Belanda Kembang Kuning, Surabaya.

===========

Artikel ini pernah ditayangkan pada 22 November 2016. Dengan pengeditan minor dan modifikasi judul, artikel ini dirilis kembali.

Baca juga artikel terkait PENJARAHAN KAPAL atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Artikel Lanjutan
DarkLight