Kaleidoskop 2021: Daftar Bencana Alam di Indonesia Sepanjang 2021

Oleh: Ilham Choirul Anwar - 3 Januari 2022
Dibaca Normal 3 menit
Indonesia memiliki kejadian bencana alam sebanyak 3.034 kali selama 2021.
tirto.id - Sepanjang 2021 terjadi beberapa bencana alam yang menyambangi sejumlah wilayah di Indonesia.

Mulai dari bencana gempa bumi, erupsi gunung berapi, hingga banjir menjadi beberapa bencana yang terjadi di Indonesia sepanjang 2021. Musibah ini tidak bisa dielakkan mengingat pemicu utamanya berasal dari alam yang sering kali datangnya tidak bisa diduga.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam akun twitternya menyatakan, jumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia sepanjang 2021 sebanyak 3.034 kejadian.

Dari angka itu terdapat gempa bumi 31 kali, erupsi gunung 1 kali, kebakaran hutan dan lahan 15 kali, banjir 1.279 kali, tanah longsor 621 kali, cuaca ekstrem 779 kali, serta gelombang pasang dan abrasi 43 kali.

Berikut ini kaleidoskop bencana alam yang terjadi di Indonesia pada 2021:

1. Gempa Mamuju dan Majene

Wilayah Majene dan Mamuju mengalami goncangan gempa pada Jumat dini hari, 15 Januari 2021, sekira pukul 01:28:17 WIB.

Gempa tersebut memiliki pusat lokasi di darat dengan koordinat 2,98°LS dan 118,94°BT, magnitudo (M6,2) pada kedalaman 10 km. Jaraknya kurang lebih 6 kilometer Timur Laut Majene.

Gempa ini setidaknya menimbulkan korban tiga orang meninggal dunia dan 24 orang luka-luka. Sekira 2.000 warga telah mengungsi ke tempat aman. Kerugian material antara lain Hotel Maleo dan Kantor Gubernur Sulawesi Barat yang mengalami rusak berat, serta jaringan listrik lumpuh pasca-gempa.

BPBD Majene melaporkan adanya longsor akibat gempa di tiga titik pada sepanjang jalan poros Majene-Mamuju yang membuat akses terputus, 62 unit rumah rusak, 1 unit Puskesmas dan 1 Kantor Danramil Malunda rusak berat.

Gempa ini terjadi selama 5-7 detik. Lokasi gempa yang berpusat di darat menjadi goncangan cukup kuat dirasakan. Warga pun cukup panik hingga keluar rumah.

2. Banjir Sintang

Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, mengalami musibah banjir pada 21 Oktober 2021 yang telah merendam 12 kecamatan yaitu: Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Sintang, Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Sei Tebelian, dan Kelam Permai.

Pemicu banjir ini di antaranya adalah kerusakan hutan hingga hujan dengan intensitas tinggi yang membuat air Kapuas dan Melawi meluap, serta meninggikan rendaman air di kisaran 1-3 meter. Banjir melanda sampai dua pekan.

Wilayah yang terdampak parah pada banjir Sintang adalah kawasan pemukiman masyarakat yang ada di Jalan Lintas Melawi. Kendaraan kecil, terutama roda dua, tidak bisa lagi melintas.

Evakuasi dan pemberian bantuan dilakukan dengan memanfaatkan truk dari Kodim 1205/ Sintang untuk mengantar masyarakat dari Tugu Jam sampai Simpang-Lima.

Jumlah korban yang terdampak banjir mencapai 25.799 kepala keluarga. Sekira 1.906 jiwa di antaranya mengungsi. Banjir telah menyebabkan ribuan rumah dan akses jalan nasional dalam provinsi yang menautkan ke sejumlah kabupaten terendam air.

3. Siklon Tropis Seroja

Bibit siklon tropis Seroja terdeteksi di atas Laut Sawu pada 5 April 2021. Munculnya bibit ini telah berdampak pada tinggi potensi hujan intensitas sedang sampai lebat, disertai kilat/petir dan angin kencang, pada wilayah NTT, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Di samping itu, terjadi pula bencana hidrometeorologi di sebagian wilayah NTT.

Bibit siklon tropis telah memicu adanya bencana. Bencana lebih besar yang berdampak kuat akan jauh lebih berbahaya saat bibit tersebut benar-benar menjadi siklon tropis. Di samping itu, bibit siklon tropis Seroja turut mengakibatkan naiknya ketinggian air di berbagai area perairan dari 1,25 meter hingga lebih dari 6 meter.

Siklon tropis adalah badai dengan kekuatan besar. Radiusnya mencapai 150-200 kilometer dan terbentuk di atas lautan luas yang umumnya memiliki suhu permukaan air laut hangat lebih dari 26.5 °C. Angin akan berputar di dekat pusatnya dan punya kecepatan lebih dari 63 km/jam.

Akibat siklon tropis Seroja ini terjadi kerusakan cukup signifikan di sejumlah wilayah di NTT, mulai dari kerusakan rumah akibat banjir hingga angin kencang sampai sejumlah jembatan juga dilaporkan terputus.

Selain itu, bencana hidrometeorologi akibat siklon tropis Seroja juga menyebabkan lebih dari 40 orang meninggal.

4. Erupsi Gunung Semeru

Gunung Semeru mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang ditunjukkan dengan terjadinya guguran awan panas mengarah ke Besuk Kobokan, Desa Sapiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu (4/12/2021) pukul 15.20 WIB.

Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Gunung Semeru di Pos Gunung Sawur, Dusun Poncosumo, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, menginformasikan, saat itu getaran banjir lahar atau guguran awan panas tercatat mulai pukul 14.47 WIB dengan amplitudo maksimal 20 milimeter.

Pada pukul 15.10 WIB, PPGA Pos Gunung Sawur kemudian melaporkan visual abu vulkanik dari guguran awan panas sangat jelas teramati mengarah ke Besuk Kobokan dan beraroma belerang.

Selain itu, laporan visual dari beberapa titik lokasi juga mengalami kegelapan akibat kabut dari abu vulkanik. Catatan yang dihimpun Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), guguran lava pijar teramati dengan jarak luncur kurang lebih 500-800 meter dengan pusat guguran berada kurang lebih 500 meter di bawah kawah.


Mengutip laman Kominfo Jawa Timur, jumlah korban meninggal pasca-erupsi Gunung Semeru setidaknya 51 jiwa. Jumlah pengungsi tercatat 10.395 jiwa yang tersebar pada 410 titik pengungsian. Konsentrasi pengungsian ada di Kecamatan Pasirian sebanyak 1.746 jiwa (17 titik), Kecamatan Candipuro ada 4.645 jiwa (21 titik), dan Kecamatan Pronojiwo sebesar 1.077 jiwa (8 titik).

Pasca erupsi tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih cukup tinggi dan ancaman bahaya dari erupsi Gunung Semeru juga cukup signifikan berupa banjir lahar dingin hingga awan panas guguran. Saat ini status Gunung Semeru berada pada level III atau siaga.

5. Gempa NTT

Di pengujung tahun 2021 terjadi gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa terjadi pada Selasa, 14 Desember 2021, pukul 11.20 waktu setempat. Gempa berkekuatan 7,4 itu telah menghancurkan sebuah bangunan namun situasi tetap terkendali.

Asal gempa terdeteksi di 112 km barat laut Kota Larantuka, NTT, di kedalaman 10 km. Sementara menurut BMKG, peristiwa tersebut adalah gempa bumi dangkal karena aktivitas sesar aktif di Laut Flores. Hasil analisis mekanisme sumber menampakkan terjadi mekanisme pergerakan geser atau strike slip pada gempa.

Gempa ini turut terdeteksi di Ruteng, Labuan Bajo, Larantuka, Maumere, Adonara dan Lembata pada parameter III-IV MMI (modified mercally intensity). Lalu, di wilayah Tambolaka, Wakaibubas, dan Waingapu tercatat III MMI. Gempa susulan muncul hingga pukul 11.40 WIB dengan terjadinya 15 gempa susulan berkekuatan maksimal M5,6.


Baca juga artikel terkait BENCANA ALAM atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight