Juru Kunci Tan Malaka

Oleh: Petrik Matanasi - 20 Februari 2016
Dibaca Normal 3 menit
Tak ada manusia yang lebih mengenal Tan Malaka selain Harry Albert Poeze. Hidup dan karir akademiknya didedikasikan untuk meneliti Tan Malaka.
tirto.id - Jika pergi ke kampung halaman Tan Malaka di Suliki, Anda bisa temukan banyak nisan kuburan atas nama Tan Malaka. Selain rumah gadang keluarganya yang sederhana tapi masih tegak berdiri, puluhan meter dari rumah tersebut, terhampar kuburan-kuburan Tan Malaka. Lebih dari satu.

Tan Malaka bukan nama kecil. Tan Malaka adalah gelar adat di kampung tersebut. Tan Malaka yang kita kenal sebagai pejuang kemerdekaan yang revolusioner bernama kecil Sutan Ibrahim. Bocah cerdas lulusan Kweekschool Bukittinggi itu di kemudian hari mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan kemerdekaan dengan pelbagai cara, di pelbagai tempat, dengan pelbagai nama alias.

Tidak disukai Comintern, berseberangan pendapat dengan Stalin, dimusuhi PKI walaupun menjadi pendirinya, dikejar-kejar polisi dan intel kolonial Inggris maupun Belanda. Tapi yang paling tragis: ia dibunuh oleh orang sebangsanya sendiri, dibunuh justru di masa kemerdekaan yang ia ikut memperjuangkannya dengan penuh seluruh.

Tan Malaka tewas ditembak oleh pasukan militer Indonesia tanpa pengadilan di Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, pada 21 Februari 1949. Eksekustornya berasal dari Brigade Sikatan atas perintah petinggi militer Jawa Timur. Tan Malaka dibunuh karena perlawanannya yang konsisten terhadap pemerintah yang bersikap moderat dan penuh kompromi terhadap Belanda.

Tapi sebelum diketahui kuburannya, kisah kematian Tan Malaka masih diselubungi misteri. Bahkan lokasi kuburannya pun tidak diketahui persis. Titik terang mulai tampak berkat kegigihan Harry Albert Poeze, sejarawan Belanda yang mengabadikan seluruh karier akademisnya sampai sekarang untuk menulis hayat dan karya Tan Malaka.

Harry Poeze menemukan makam Sutan Ibrahim gelar Tan Malaka tersebut sekitar 2007. "Berdasarkan data sejarah, penelitian saya, dan pendapat ahli forensik antropologi sudah jelas bahwa Desa Selopanggung merupakan tempat peristirahatan terakhir Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka,” katanya.

Pihak keluarga besar Tan Malaka pun seyakin dengan Harry Albert Poeze jika jenazah Tan Malaka bersemayam di Selopanggung. Ketika penggalian, kerangkanya dalam keadaan duduk dan terikat.

“Itu terungkap waktu dibongkar pertama kali untuk tes forensik," kata Direktur Tan Malaka Institute Sumatera Barat, Yudilfan Habib Datuak Monti.

Menurut Yudilfan, pihak keluarga saat ini berupaya memindahkan jenazah dari Kediri ke Nagari Pandam Gadang, Suliki, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Itu sesuai adat di kampung halaman yang tak pernah lagi ditinggali Tan sejak sekolah di Bukittinggi.

Poeze sangat teliti memperhatikan detail sumber-sumber sejarah Tan Malaka. Poeze bahkan bisa menemukan Tan Malaka di antara ribuan orang yang hadir dalam Rapat Raksasa di Lapangan Ikada (Monas) pada 19 September 1945. Ia juga merekonstruksi lagu yang dinyanyikan orang-orang di sekitar Tan Malaka. Poeze menunjukan kedua hasil rekonstruksinya itu dalam sebuah diskusi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada 2009.

Lebih dari separuh hidup Poeze diabdikan untuk Sutan Ibrahim gelar Tan Malaka ini. Ketika Tan Malaka terbunuh pada 1949, sejarawan yang lahir di Loppersum pada 20 Oktober 1947 ini belum genap 2 tahun. Tak ada perjumpaan fisik yang pernah terjadi antara dirinya dan Tan Malaka.

Berbeda dengan Bob Hering yang menulis biografi Sukarno dan Husni Thamrin. Bob Hering yang masih bocah menyaksikan ramainya iringan jenazah Thamrin pada 1941. Bob Hering juga menjadi salah satu Pasukan Payung Tentara Belanda yang menduduki Yogyakarta dan menyaksikan penangkapan Sukarno pada 19 Desember 1948.

Tapi Tan Malaka tidak pernah dijumpai Poeze. Tan dikenalnya melalui arsip-arsip, terbitan-terbitan, juga kesaksian-kesaksian pelaku sejarah. Poeze mengenal Tan Malaka karena buku-buku sejarah perjuangan Indonesia sering menyebut namanya. Namun Poeze belum menemukan data lebih lengkap bagaimana riwayat Tan Malaka.

INFOGRAFIK Harry Poeze


“Dalam rangka studi saya untuk mencapai gelar doktoral ilmu sosial, saya mencoba pada paruh pertama tahun 1972 untuk mencari dan menggali keterangan-keterangan yang ada tentang kehidupan Tan Malaka sampai tahun 1922. Usaha saya itu, di luar dugaan, mencapai hasil yang baik sekali dan menelurkan (tulisan): Tan Malaka, Seorang Revolusioner Indonesia, Riwayat Hidup dari 1896 sampai 1922. Bagian pertama karya ini dengan sendirinya menimbulkan hasrat untuk sebanyak-banyaknya juga menjejaki apa yang terjadi selanjutnya dengan Tan Malaka,” tulis Harry Albert Poeze dalam prakata buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik Jilid I (1988).

Poeze tak hanya berkutat pada arsip-arsip kolonial di sekitar Leiden dan Amsterdam. Selain ke Indonesia, Poeze mendatangi negara-negara tempat Tan pernah disinggahi selain Belanda. Seperti Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, juga Filipina. Ia bahkan ke Rusia untuk melacak arsip Comintern soal Tan Malaka di Moskwa. Meski surat-menyurat Tan Malaka dengan sahabatnya kerap memakai kode untuk mengecoh sensor pihak kolonial, Poeze berhasil memecahkannya.

Ketika Poeze memulai riset tentang Tan, Indonesia sudah menjadi negara yang sangat anti-komunis. Jadi, meski masih boleh memasuki Indonesia, meneliti Tan yang sudah dicap komunis pastilah sulit. Jangankan mendapat informasi yang benar, mencapai rumah Tan Malaka dalam kunjungan pertamanya ke Suliki juga sempat dihalang-halangi polisi setempat.

Poeze sering mendapat informasi yang menurutnya palsu dari orang-orang eks-komunis soal Tan Malaka. Sebagai sejarawan, kritik sumber adalah mutlak. Ia bisa melihat keterkaitan si narasumberberlatar pelaku sejarah dengan Tan Malaka di masa lalu. Tak sedikit orang PKI setelah 1945 yang berseberangan dengan Tan Malaka dan kerap memberikan informasi yang bias tentang Tan.

Buku soal Tan Malaka yang ditulisnya juga tak lepas dari pencekalan. Padahal Tan Malaka dinyatakan negara sebagai pahlawan nasional pada 1963 oleh Presiden Sukarno.

Menurut catatan Asvi Warman Adam dalam Menguak Misteri Sejarah (2010), pemerintah Orde Baru pernah mencekal buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik Jilid I di tahun 1989. Menurut Asvi, sebagai pahlawan nasional, Tan Malaka juga telah diabaikan dalam pelajaran sejarah nasional Indonesia karena dianggap pemberontak.

Padahal, bagi Poeze, merekonstruksi kehidupan dan pemikiran Tan sama halnya merekonstruksi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jadi sungguh ironis jika akhirnya pelajaran sejarah nasional Indonesia tak menyebut nama Tan Malaka, pribadi yang sering dijuluki sebagai "Bapak Republik Indonesia" ini.

Sebelum mengabdi di lembaga penelitian Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) dan terkenal karena meneliti Tan Malaka, Poeze adalah anggota Partai Buruh Partij van de Arbeid (PvdA) dan pernah menjadi Gemeenteraad (Dewan Kota) Castricum.

Tan Malaka masih terhitung sosialis juga, seperti Poeze, meski bisa jadi sosialisme mereka agak beda mazhab. Sebagai sesama sosialis, Poeze setidaknya membantu keluarga besar Tan Malaka yang akan memulangkan si anak hilang bernama Sutan Ibrahim Tan Malaka itu.

Melihat dedikasinya yang gigih mencari, mengumpulkan, dan menulis segala hal tentang Tan Malaka inilah yang membuat Poeze tak ubahnya seorang "juru kunci Tan Malaka" atau bahkan seorang detektif Tan Malaka.

Baca juga artikel terkait TAN MALAKA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Pendidikan)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan