tirto.id - Perlucutan senjata Hamas yang dicanangkan Amerika Serikat (AS) akan dilakukan dengan skema "pembelian kembali" alias "buyback". Skema ini disebut akan didanai secara internasional, termasuk dari iuran anggota Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace).
Seturut Reuters, dalam pidatonya di hadapan anggota Dewan Keamanan PBB pada Rabu (28/1/2026), Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menyatakan bahwa AS dan negara anggota Dewan Perdamaian lainnya akan mulai mendesak Hamas untuk melaksanakan demiliterisasi Gaza.
Menurut Mike Waltz, demiliterisasi itu termasuk pula penghancuran semua fasilitas militer Hamas.
"Semua infrastruktur militer teror dan ofensif, termasuk terowongan dan fasilitas produksi senjata, akan dihancurkan dan tidak akan dibangun kembali," katanya.
Kemudian, Waltz menuturkan bahwa demiliterisasi ini akan diawasi secara "internasional dan independen". Perlucutan senjata juga akan melibatkan skema pembelian kembali dan reintegrasi untuk setiap penyerahan senjata.
"Pengawas internasional dan independen akan mengawasi proses demiliterisasi Gaza, termasuk menonaktifkan senjata secara permanen melalui proses penonaktifan yang disepakati dan didukung oleh program pembelian kembali dan reintegrasi yang didanai secara internasional," katanya.
Menukil Times of Israel, skema buyback yang dimaksud oleh Mike Waltz itu adalah pemberian kompensasi kepada setiap anggota Hamas yang menyerahkan senjatanya. Kompensasi ini dapat berupa amnesti, uang, maupun pekerjaan.
Dalam 20 poin rencana perdamaian Gaza oleh Donald Trump yang dicanangkan Trump pada 2025 lalu, perlucutan senjata Hamas merupakan bagian dari kesepakatan fase kedua dan jadi poin ke-13 dari keseluruhan poin kesepakatan.
Hamas Setuju Perlucutan Senjata
Hamas baru-baru ini disebut telah setuju untuk melakukan pembahasan perlucutan senjatanya. Tetapi, mereka baru mau membahasnya dengan faksi-faksi Palestina lain dan dengan mediator.
Terkait rencana demiliterisasi yang akan diinisiasi oleh AS, dua pejabat Hamas yang tak disebutkan identitasnya memberikan keterangan pada Reuters bahwa sejauh ini Washington maupun mediator lain belum memberikan proposal perlucutan senjata yang konkret.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, implementasi fase kedua rencana perdamaian Gaza, "termasuk demiliterisasi, sedang berlangsung".
Sementara itu, menurut Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon, Hamas hingga kini masih memiliki persenjataan yang lengkap. Persenjataan itu, termasuk senjata berat seperti roket dan rudal anti-tank.
"Total, Hamas masih memiliki sekitar 60.000 senapan serbu," kata Danon kepada anggota Dewan Keamanan PBB.
Dengan dilakukannya demiliterisasi, kendali militer di wilayah Gaza disebut akan menjadi tanggung jawab sementara dari Pasukan Stabilisasi Internasional.
Amerika belum mengumumkan negara mana saja yang turut serta dalam pasukan itu, namun Waltz menyatakan bahwa sejumlah negara "telah setuju berkontribusi pada Pasukan Stabilisasi Internasional".
Menurut Waltz, kehadiran Pasukan Stabilisasi Internasional itu akan membuat militer Israel mundur dari Gaza.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































