tirto.id - Sary Latief selaku kuasa hukum keluarga Zivan Radmanovic mengungkap kondisi psikologis Jazmyn Gourdeas. Sary bilang, istri dari korban penembakan di Vila Casa Santisya, Desa Munggu, itu mengalami trauma.
Sary membeberkan, Zivan baru saja membuat paspor pada Mei 2025 dengan tujuan berlibur bersama keluarga ke negara asal Zivan. Namun, beberapa minggu kemudian, Zivan mengganti tujuan tersebut ke Bali.
"Mau mengajak istrinya karena sejak menikah, mereka belum honeymoon. Mereka ke Bali karena berpikir tempatnya dekat dan enggak terlalu mahal, rencananya ambil waktu cuma lima hari. Kedua, karena mau merayakan ulang tahun istrinya di Bali," ungkap Sary, di Petitenget, Bali, pada Selasa (24/06/2025).
Zivan dan istrinya tiba di Bali pada tanggal 12 Juni 2025, mereka sempat makan malam bersama teman-temannya di tanggal 13 Juni 2025. Seusai makan malam, mereka kembali ke vila pada pukul 23.00 WITA untuk beristirahat. Tidak lama kemudian, orang tidak dikenal (OTK) merangsek masuk dan menembak dengan membabi buta.
Sary mengungkap, kejadian tersebut sontak membuat Jazmyn, menjadi syok. Padahal momen ini merupakan kali pertama Jazmyn menjejakkan kaki di Bali, bahkan pertama kali bepergian ke luar Australia. Hari ulang tahun Jazmyn pada 16 Juni 2025 pun tidak dapat dirayakan dengan bahagia karena kepergian Zivan.
"[Jazmyn] tidak bisa makan. Bukan tidak mau, tapi tidak bisa, bahkan jadi kurus, jadi cekung. Mereka [korban] tidak tahu mereka [pelaku] itu siapa, kenapa, bahkan istri korban sendiri bilang ingin mengetahui lebih lanjut," ucapnya.
Zivan merupakan tulang punggung keluarga yang bekerja sebagai pengusaha alat berat di Melbourne, sementara Jazmyn mengurus enam orang anaknya seorang diri. Dua orang anak kandung Zivan masing-masing masih berusia tiga tahun dan sembilan bulan, sementara empat orang anak lainnya merupakan anak angkatnya.
Menurut pengakuan Jazmyn, Zivan merupakan seorang suami yang penyayang dan ayah yang baik. Sosok Zivan dikenal sebagai pribadi yang supel dan mudah akrab dengan rekan-rekannya, komplementer dengan sifat Jazmyn yang cenderung pendiam. Namun, selama beberapa bulan terakhir, Zivan lebih banyak membantu istrinya dalam mengurus anak-anaknya.
"Karena mereka baru punya bayi, suaminya [Zivan] banyak membantu istri. Suaminya memang banyak membantu dalam hal pekerjaan rumah, apalagi istrinya sendiri," tambah Sary.
Sementara itu, pasangan dari korban Sanar Ghanim, Daniella, merupakan kakak dari Jazmyn. Berbeda dengan Zivan dan Jazmyn, Sanar lebih sering pergi ke Bali, sebab berencana mengembangkan bisnis propertinya di Pulau Dewata. Kuasa hukum juga menyebut bahwa vila yang menjadi lokasi penembakan tersebut merupakan salah satu properti Sanar yang dimiliki secara lease (sewa).
"Keluarga ini juga ada bisnis properti, salah satunya tempat ini (Vila Casa Santisya). (Propertinya) baru dibangun. Baru beberapa bulan, belum lama," ujar Pahrur Dalimunthe, salah satu dari kuasa hukum korban yang turut hadir pada kesempatan yang sama.
Korban Ingin Segera Kembali ke Australia

Kuasa hukum keluarga korban, Pahrur Dalimunthe, turut mengungkap bahwa Jazmyn sudah diperiksa empat kali oleh pihak kepolisian. Pada pemeriksaan yang terakhir, polisi berusaha mengidentifikasi pelaku yang tertangkap menurut keterangan Jazmyn. Proses pemeriksaan dibatasi dengan kaca agar psikologisnya tidak terganggu.
"Untuk hal-hal lainnya, secara pemenuhan penyidikan begitu, apa yang mereka tahu, apa yang mereka lihat, dan apa yang mereka rasakan, menurut kepolisian seharusnya sudah lengkap. Namun, memang baik istri korban [Jazmyn] maupun kakaknya [Daniella] itu tidak terlalu tahu banyak. Tiba-tiba ada orang tembak saja, tiba-tiba ada yang meninggal," jelas Pahrur.
Dalam beberapa hari, ungkap Pahrur, Jazmyn akan segera kembali ke Australia bersama jenazah Zivan. Namun, saat ini Jazmyn masih dilanda ketakutan karena keamanan dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan peristiwa tersebut kepada anak-anaknya sewaktu kembali ke Australia. Diketahui pula, Jazmyn, Daniella, dan Sanar mendapat perlindungan maksimal dari Polres Badung selama berada di Bali.
"Istri korban [Jazmyn] ini ingin segera kembali ke Australia dan membawa jenazah suami [Zivan]. Kalaupun nanti ada pemeriksaan lanjutan, semoga diberikan kemudahan sehingga tidak mempersulit. Misalnya, bisa sidang jarak jauh. Obrolan terakhir dengan penyidik, untuk hal ini bisa diakomodasi dari Kedutaan Indonesia di Australia," jelasnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





























