tirto.id - Tentara Israel Defense Forces (IDF) memasang spanduk propaganda di Rumah Sakit Indonesia yang terletak di wilayah Jabalia, Gaza. Spanduk besar dengan logo bendera Israel itu terpampang di atas bangunan rumah sakit yang sudah rusak parah akibat konflik.
Menurut Instagram @middleeasteye pada 22 April 2026, spanduk tersebut bertuliskan “Behold, a people rises like a lion, and as a lion lifts itself (Lihatlah, suatu kaum bangkit seperti singa, dan seperti singa ia meninggikan dirinya)” yang diyakini merujuk pada ayat dalam Torah atau Taurat, salah satu kitab kaum Yahudi.
Narasi “Rising Lion” sendiri juga dikaitkan dengan nama sandi operasi militer Israel terhadap Iran pada tahun 2025, sehingga penggunaan simbol ini dinilai memiliki makna ideologis sekaligus militer.
Gambar spanduk tersebut mulai beredar luas di kanal Telegram berbahasa Ibrani, bahkan disebut berkaitan dengan persiapan peringatan Yom HaZikaron dan Yom Ha'atzmaut, yang memperingati berdirinya negara Israel sejak 1948.
Yom Ha'atzmaut memperingati deklarasi berdirinya Israel pada 14 Mei 1948. Bagi masyarakat Israel, momen ini adalah simbol kelahiran negara dan kedaulatan nasional.
Namun, bagi rakyat Palestina, waktu yang sama justru dikenang sebagai Nakba, yaitu “malapetaka” ketika ratusan ribu warga Palestina kehilangan tanah air mereka akibat perang dan pengusiran.
Nakba merujuk pada peristiwa besar yang dialami rakyat Palestina antara 1947 hingga 1949, ketika mereka kehilangan tanah airnya di tengah pembentukan negara Israel dan pecahnya 1948 Perang Arab-Israel.
Periode ini ditandai dengan perpindahan paksa dan eksodus besar-besaran warga Palestina, sekitar 700.000 orang diperkirakan melarikan diri atau diusir dari rumah mereka.
Today, the Indonesian Hospital has become a military outpost for the Israeli occupation, after once being a refuge for the sick and the wounded. This hospital, which has been repeatedly targeted and put out of service more than once, has not been spared from the brutality of the… pic.twitter.com/49mEi8zX5X
— حسام شبات (@HossamShabat) April 21, 2026
Indonesia Kecam Pemasangan Spanduk di RS Gaza
Pemasangan spanduk tersebut menuai kecaman keras dari pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI), yang menilai tindakan itu sebagai provokatif dan tidak dapat dibenarkan.
“Indonesia mengutuk keras dan memprotes pemasangan spanduk 'Rising Lion' oleh pasukan Israel di atas reruntuhan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Penggunaan simbol dan propaganda militer di atas reruntuhan rumah sakit yang hancur, terutama jika dikaitkan dengan operasi militer tertentu, merupakan tindakan yang sangat provokatif dan tidak dapat dibenarkan,” tulis Kemlu di akun X @Kemlu_RI pada 22 April 2026.
Indonesia menegaskan bahwa Rumah Sakit Indonesia adalah simbol solidaritas rakyat Indonesia untuk Palestina.
“Rumah Sakit Indonesia adalah fasilitas sipil yang didedikasikan semata-mata untuk menyediakan layanan medis bagi masyarakat Gaza, bukan tempat untuk propaganda atau intimidasi militer. Tindakan ini merupakan penghinaan terhadap fasilitas kemanusiaan yang dibangun dari solidaritas rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina,” jelas Kemlu.
Selain itu, Indonesia juga mendesak Israel untuk menghentikan pelanggaran terhadap infrastruktur sipil dan memastikan adanya akuntabilitas atas serangan terhadap fasilitas kesehatan di Gaza.
“Indonesia menegaskan kembali bahwa rumah sakit dan semua fasilitas medis harus dihormati dan dilindungi berdasarkan hukum humaniter internasional. Indonesia menyerukan kepada Israel untuk menghentikan semua tindakan yang melanggar perlindungan infrastruktur sipil dan untuk memastikan pertanggungjawaban atas serangan terhadap fasilitas medis di Gaza,” tutup Kemlu.
Rumah Sakit Indonesia sebelumnya merupakan fasilitas medis sipil penting yang melayani warga Gaza utara. Sejak pecahnya konflik besar pada Oktober 2023, fasilitas ini beberapa kali menjadi sasaran operasi militer Israel, termasuk pengepungan pada November 2023 yang membuatnya tidak berfungsi selama berbulan-bulan.
Rumah sakit sempat dibuka kembali pada Juni 2024 sebagai satu-satunya layanan kesehatan utama di Gaza utara, namun kembali diserbu pada 2025 hingga akhirnya berhenti beroperasi.
Kondisi ini berdampak luas terhadap sektor kesehatan di Gaza, di mana keterbatasan alat medis, tenaga kesehatan, serta pembatasan akses akibat blokade memperparah krisis kemanusiaan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id
































