Menuju konten utama

IS2P Soroti Keberlanjutan Terjebak pada Karbon

Selama ini praktik keberlanjutan masih fokus pada emisi berisiko, dan kerap mengabaikan biodiversitas, kesehatan, dan aspek sosial.

IS2P Soroti Keberlanjutan Terjebak pada Karbon
Foto udara warga bermain di Sungai Batanghari yang mengalami penyusutan debit air di Penyengat Rendah, Jambi, Sabtu (19/7/2025). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Praktik keberlanjutan masih kerap terjebak pada satu indikator, yaitu karbon, di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim. Pendekatan yang terlalu sempit ini berisiko mengabaikan kompleksitas sistem kehidupan mulai dari biodiversitas, kesehatan hingga sosial.

"Karbon itu penting, tapi kesehatan manusia tidak ditentukan oleh emisi saja. Tanpabiodiversitas dan sistem lingkungan yang kuat, hanya akan menyelesaikan sebagian masalah, ” ujar Yuliasman Chaniago, Founder Center for Quality Resilience and Sustainability (CQRS) Indonesia yang menjadi pembicara dalam sesi webinar Ngulik ke - 9 Indonesian Society of Sustainability Professional (IS2P) bertajuk "Beyond Carbon: Lingkungan Lebih Dari Sekadar Emisi", Sabtu, 18 April.

Sementara itu, pembicara lainnya Rondang S.E. Siregar, M.Phil., Ph.D. researcher associate di RCCC-UI mengatakan: "Terlalu fokus bicara karbon, bisa lupa bahwa tanpa biodiversitas, tak ada sistem alam yang bisa menyerap karbon."

Forum ini menjadi ruang refleksi bagi para profesional untuk melihat kembali praktik keberlanjutan sebagai sistem yang utuh dari berbagai dimensi yang ada di bumi.

Kesehatan, Lingkungan, dan Sistem yang Belum Terhubung

Dari perspektif kesehatan, Yuliasman menyoroti bahwa Indonesia telah mencapai cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) lebih dari 98 persen, menjadikannya salah satu sistem single payer terbesar di dunia. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh integrasi aspek keberlanjutan, khususnya risiko lingkungan dan perubahan iklim ke dalam sistem kesehatan nasional.

Ia menekankan bahwa kerangka Universal Health Coverage (UHC) secara global telah berkembang melampaui aspek layanan kesehatan, dengan memasukkan dimensi ESG, risiko iklim, serta pendekatan One Health dan planetary health yang melihat kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan sistem.

Namun di Indonesia, integrasi tersebut masih menghadapi kesenjangan mendasar, mulai dari belum terintegrasinya risiko iklim dalam kebijakan kesehatan, hingga belum adanya kerangka formal One Health dalam regulasi nasional.

“Masalahnya bukan pada capaian, tapi pada kedalaman integrasi. Kesehatan tidak bisa lagi dipisahkan dari sistem lingkungan yang menopangnya,” ujar Yuliasman, yang juga Co-Founder dan Sekretaris Jendral Indonesian Continuity and Resilience Association ini.

Ia menambahkan bahwa tanpa integrasi tersebut, sistem kesehatan berisiko hanya menjadi responsif terhadap dampak, tanpa mampu mengantisipasi akar penyebab yang semakin dipengaruhi oleh perubahan lingkungan dan iklim.

Carbon Tunnel Vision dan Risiko Simplifikasi Keberlanjutan

Rondang mengangkat fenomena carbon tunnel vision, yaitu kecenderungan institusi dan perusahaan untuk terlalu berfokus pada pengurangan emisi karbon, sementara krisis lain seperti kehilangan biodiversitas, perubahan penggunaan lahan, dan ketimpangan sosial justru terabaikan.

Fenomena ini, menurutnya, tidak hanya berisiko secara ekologis, tetapi juga berpotensi menciptakan solusi semu.

“Masalahnya bukan kita kurang bicara karbon, tapi terlalu sempit memahaminya. Karbon bisa terserap, tapi tanpa biodiversitas, sistem kehidupan tetap rapuh,” tegas Rondang.

Ia menegaskan bahwa biodiversitas bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama stabilitas ekosistem, termasuk dalam kapasitas penyerapan karbon.

Pendekatan berbasis karbon yang mengabaikan kompleksitas ekosistem kerap mendorong praktik monokultur seperti penanaman akasia, pinus, atau sengon yang memang cepat menutup lahan dan mengurangi erosi, tetapi tidak memulihkan keanekaragaman hayati.

Sebagai strategi yang lebih efektif, penanaman pohon cepat tumbuh dapat menjadi tahap awal rehabilitasi lahan kritis, yang kemudian dilanjutkan dengan penanaman spesies lokal (native) untuk memulihkan ekosistem secara menyeluruh. Pendekatan ini membuka peluang kembalinya satwa dan memperkuat fungsi ekologis hutan.

Rondang juga menekankan pentingnya perlindungan hukum dan penegakan hukum yang tegas, karena lemahnya law enforcement turut memperparah kerusakan lingkungan.

Pada akhirnya, dengan menempatkan keanekaragaman hayati sebagai fokus utama, ekosistem yang sehat dapat pulih dan berfungsi sebagai penyerap karbon alami yang efektif, sekaligus menghindari dampak negatif seperti hilangnya biodiversitas, terganggunya siklus nutrien, fragmentasi habitat, dan ketidakadilan sosial

"Kalau karbon adalah tentang mitigasi, maka biodiversitas adalah tentang bertahan hidup. Tanpa itu, keberlanjutan kehilangan fondasinya,” tambahnya.

Menjaga Keberlanjutan sebagai Sistem Utuh

Diskusi dalam forum Ngulik ini menegaskan bahwa keberlanjutan tidak dapat direduksi menjadi satu indikator. Pendekatan yang terlalu sempit justru berpotensi mengabaikan keterkaitan antar sistem yang menentukan keberlanjutan jangka panjang.

IS2P mendorong para profesional untuk mengadopsi pendekatan yang lebih terintegrasi, dengan mempertimbangkan keterkaitan antara lingkungan, kesehatan, dan aspek sosial dalam setiap kebijakan dan praktik keberlanjutan.

Tanpa melihat keberlanjutan sebagai satu sistem utuh, upaya yang ada hari ini berisiko hanya menyelesaikan sebagian masalah dan meninggalkan krisis yang lebih besar di masa depan.

Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan lainnya dari Siaran Pers

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Siaran Pers
Editor: Siaran Pers