tirto.id - Iran menuntut agar lima negara Arab yakni Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Yordania untuk ikut bertanggung jawab dan membayar kompensasi atas kerugian yang dialami Iran akibat konflik bersenjata.
Pemerintah Iran memperkirakan total kerugian akibat konflik ini mencapai sekitar 270 miliar dolar AS atau sekitar 4,63 kuadriliun rupiah.
Dalam surat resmi kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan Presiden Dewan Keamanan PBB Jamal Fares Alrowaiei, Iran menuduh 5 negara Arab tersebut melanggar kewajiban hukum internasional karena diduga memfasilitasi atau memungkinkan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran.
Teheran menegaskan bahwa dukungan langsung maupun tidak langsung tersebut membuat negara-negara itu ikut bertanggung jawab atas kerugian perang, sehingga wajib memberikan ganti rugi atas dampak yang ditimbulkan.
“Perilaku negara-negara tersebut yang mengizinkan wilayah mereka digunakan oleh para agresor terhadap Republik Islam Iran memenuhi syarat sebagai tindakan agresi,” isi surat yang dikirim Duta Besar dan Perwakilan Tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani dikutip IRNA (14/4/2026).
“(Kelima negara itu) Harus memberikan ganti rugi penuh kepada Republik Islam Iran, termasuk kompensasi atas semua kerugian materiil dan moral yang diderita sebagai akibat dari tindakan-tindakan yang melanggar hukum internasional tersebut,” lanjutnya.
Kerugian Iran Akibat Perang Mencapai 270 Miliar Dolar AS
Pemerintah Iran melalui juru bicaranya, Fatemeh Mohajerani, dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Rusia RIA Novosti, dikutip Al Jazeera (15/4/2026) memperkirakan total kerugian akibat konflik ini mencapai sekitar 270 miliar dolar AS, mencakup kerusakan langsung maupun tidak langsung.
Kerusakan tersebut meliputi infrastruktur vital seperti fasilitas minyak dan gas, petrokimia, baja, dan aluminium, serta jaringan transportasi seperti jembatan, pelabuhan, dan rel kereta api.
Selain itu, institusi pendidikan, pusat penelitian, rumah sakit, sekolah, hingga rumah warga juga dilaporkan mengalami kerusakan berat atau hancur. Dampak ini diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pemulihan penuh karena skala kehancurannya yang luas.
Sektor penerbangan Iran juga terdampak signifikan, dengan puluhan pesawat sipil tidak lagi dapat digunakan, termasuk sebagian yang hancur total.
Industri ini semakin tertekan karena armada yang tersisa sebagian besar sudah tua dan sulit dirawat akibat keterbatasan suku cadang yang dipicu oleh sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
Sekretaris Asosiasi Maskapai Penerbangan Iran, Maghsoud Asadi Samani menyebut Iran hanya memiliki sekitar 160 pesawat penumpang yang masih beroperasi.
Akibatnya, maskapai Iran mengalami kerugian besar, termasuk hilangnya pendapatan dari periode libur Nowruz yang biasanya menjadi musim perjalanan tersibuk. Beberapa bandara utama, termasuk Teheran, Tabriz, Urmia, dan Khorramabad juga mengalami kerusakan pada landasan pacu, menara kontrol, dan hanggar akibat serangan berulang.
AS dan Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua minggu terhitung dari 7 April 2026. Kedua negara kemudian melanjutkan tahapannya dengan negosiasi damai yang digelar di Islamabad akhir pekan lalu.
Di negosiasi pertama itu, AS dan Iran tidak sepakat dengan klausul yang disampaikan oleh kedua negara. AS meminta Iran untuk stop mengembangkan nuklir, namun Iran menolaknya.
Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan jika perundingan damai AS-Iran akan berlanjut pada negosiasi kedua dalam minggu ini. Belum diketahui kapan dan di mana tepatnya negosiasi selanjutnya akan dilaksanakan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































