tirto.id - Departemen Keuangan Amerika Serikat, memperingatkan seluruh lembaga keuangan global bahwa Amerika Serikat (AS) siap menjatuhkan sanksi sekunder terhadap entitas yang dinilai mendukung aktivitas Iran di tengah kebuntuan perundingan langsung antara kedua negara, Selasa (14/4/2026).
Departemen tersebut menyatakan akan bersikap agresif dengan memberikan tekanan ekonomi maksimal sebagai tindak lanjut kebijakan tekanan terhadap Iran.
“Lembaga keuangan harus menyadari bahwa Departemen Keuangan AS akan memanfaatkan seluruh instrumen dan kewenangan yang tersedia serta siap menjatuhkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing yang terus mendukung aktivitas Iran,” demikian pernyataan yang diunggah melalui platform X, sebagaimana dikutip Antara, Rabu (15/4/2026).
AS juga menegaskan bahwa izin jangka pendek untuk penjualan minyak Iran yang tertahan di laut akan segera berakhir dan tidak akan diperpanjang dalam beberapa hari ke depan. Kebijakan itu merujuk pada pengecualian sementara selama 30 hari yang diterbitkan pada 20 Maret, yang memungkinkan penjualan minyak Iran yang telah berada di laut, dengan estimasi volume sekitar 140 juta barel.
Langkah terkait izin itu diambil untuk meredam lonjakan harga energi global yang dipicu oleh perang AS-Israel terhadap Iran. Perang AS-Israel terhadap Iran, serta respons Iran yang menutup Selat Hormuz dan menargetkan infrastruktur energi di wilayah sekutu Arab Teluk AS, memicu lonjakan tajam harga energi, terutama minyak. Pengecualian tersebut dijadwalkan berakhir pada 19 April.
Perundingan langsung intensif antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung maraton berakhir pada akhir pekan lalu tanpa kesepakatan untuk mengakhiri konflik secara permanen.
Pada Selasa (14/4/2026), Presiden AS, Donald Trump, menyebut pemerintah AS akan kembali melakukan perbincangan dengan Iran di Pakistan dalam dua hari ke depan, meskipun belum ada pengumuman resmi.
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id
































