Menuju konten utama

Inggris Kukuh Tolak Gabung AS di Perang Iran Meski Ditekan Trump

PM Inggris Keir Starmer menegaskan kembali bahwa negaranya tidak akan ikut dalam Perang Iran. Ia tetap pada pendiriannya meski mendapatkan tekanan AS.

Inggris Kukuh Tolak Gabung AS di Perang Iran Meski Ditekan Trump
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer berbicara kepada awak media di Aula Besar Gedung Parlemen, tempat kedudukan Majelis Irlandia Utara, di Stormont, sebelah timur Belfast, pada 8 Juli 2024. (Foto oleh PAUL IMAN / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa ia kan tetap kukuh menolak bergabung dengan Amerika Serikat (AS) untuk terlibat dalam Perang Iran. Hal itu, katanya, akan ia tegakkan meskipun ada tekanan secara terus menerus dari Presiden AS Donald Trump.

Seturut BBC, pernyataan Starmer itu dikeluarkan setelah Trump mengungkapkan kekecewaannya pada Inggris atas Perang Iran di Sky News pada Selasa (14/4). Trump menyebut bahwa AS meminta bantuan Inggris, namun "mereka tidak ada di sana". Trump juga menyiratkan ancaman pembalasan melalui tarif impor.

Starmer kemudian membuat pernyataan tanggapan di depan Dewan Perwakilan Rakyat Inggris.

"Saya tidak akan mengubah pikiran saya, saya tidak akan menyerah. Bergabung dalam perang ini bukanlah kepentingan nasional kita dan kita tidak akan melakukannya," katanya pada Rabu (15/4/2026).

Pemimpin Partai Liberal Demokrat Inggris Ed Davey sempat bertanya kepada Starmer tentang komentar terbaru Trump. PM Inggris itu lalu menjawab bahwa Inggris "tidak akan terseret" dalam peperangan.

"Ini bukan perang kita, banyak tekanan telah diberikan kepada saya untuk mengambil jalan yang berbeda dan tekanan itu termasuk apa yang terjadi tadi malam," kata Starmer.

Peristiwa semalam yang disampaikan Starmer merujuk pada pernyataan Trump di Sky News tentang hubungan AS-Inggris. Trump telah berulang kali menekan Inggris supaya ikut terlibat dalam pemboman Iran.

Dalam komentar terbarunya, Trump masih menyebut bahwa Inggris tidak ada ketika AS membutuhkan mereka atau meminta bantuan mereka. Ia lalu mengingatkan tentang kesepakatan perdagangan.

"Kami memberi mereka kesepakatan perdagangan yang baik. Lebih baik daripada yang harus saya lakukan," katanya. "Yang selalu bisa diubah."

Ketegangan yang tersirat antara Starmer dan Trump tersebut terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Ketegangan ini tampaknya bermuara pada operasi militer AS di Iran.

Trump berulang kali mengkritik keputusan Inggris untuk tidak ikut serta dalam pemboman Iran. Di sisi lain, pemerintahan Starmer mulai terang-terangan mengkritik Perang Iran.

Perang Amerika-Iran Bukan Perangnya Inggris

Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves pada Rabu menyebut bahwa Perang Iran adalah "kesalahan". Berbicara di acara ekonomi di Washington DC, Reeves mengatakan bahwa ia "tidak yakin konflik ini telah membuat dunia menjadi tempat yang lebih aman".

Kritikan itu dilayangkan Reeves setelah pada Selasa, The Mirror merilis pernyataan Menteri Keuangan Inggris itu tentang Perang Iran.

"Ini adalah perang yang tidak kita mulai. Ini adalah perang yang tidak kita inginkan. Saya merasa sangat frustrasi dan marah karena AS memasuki perang ini tanpa rencana keluar yang jelas, tanpa gagasan yang jelas tentang apa yang ingin mereka capai," kata Reeves.

Meski begitu, juru bicara PM Inggris menegaskan bahwa ketegangan yang terjadi tidak berdampak pada "hubungan dekat" Inggris dengan AS.

"Hubungan khusus dengan AS ada di berbagai tingkatan, dan kami memiliki hubungan dekat dengan AS, yang mencakup perdagangan, diplomasi, keamanan nasional, budaya, dan seterusnya," kata juru bicara tersebut. "Ini jauh lebih besar daripada masalah individu mana pun."

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar