tirto.id - Iran dilaporkan memiliki aset yang dibekukan dengan nilai lebih dari 100 miliar dolar AS. Di mana aset itu disimpan dan mengapa mencairkannya sekarang sangat penting bagi Teheran?
Teheran mendapatkan sanksi pembekuan aset sejak lama. Sanksi ini diberikan kepada Iran sejak 1979 lalu. Kala itu sanksi pembekuan dilakukan terkait penyanderaan warga AS di kedutaan Amerika di Teheran pasca revolusi Islam.
Tak hanya sekali, Teheran kembali mendapatkan sanksi serupa dalam tahun-tahun setelahnya. Sanksi pembekuan yang baru diberikan atas kaitannya dengan program nuklir Iran.
Kini, dalam kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, aset beku milik Teheran jadi salah satu topik yang diperbincangkan. Teheran ingin kembali mengakses aset yang dibekukan tersebut.
Pada 10 April lalu, sehari sebelum perundingan AS-Iran di Islamabad berlangsung, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membuat pernyataan di X bahwa aset beku Iran harus dilepaskan sebelum negosiasi dimulai.
Pada hari dimulainya perundingan, muncul laporan bahwa AS telah sepakat untuk mencairkan, setidaknya sebagian, aset beku Iran. Pemerintah AS lalu membantah laporan tersebut dan menyatakan bahwa aset-aset tersebut tetap dibekukan.
Namun, berapa banyak aset Iran yang dibekukan? Di mana aset ini disimpan sampai-sampai Iran tak bisa mengambilnya?
Nilai Aset Iran dan Lokasi Penyimpanan
Seturut Al Jazeera, nilai pasti dari aset Iran selama ini tak terkonfirmasi secara pasti. Namun, laporan resmi Iran dan para ahli memperkirakan total aset Iran yang dibekukan di luar negeri mencapai nilai lebih dari USD100 miliar.
Jumlah tersebut menjadi aset beku di banyak negara di dunia. Mulai dari negara Asia, Eropa hingga Amerika menyimpan sebagian nilai aset beku Iran tersebut.
Jumlah pasti aset Iran yang beku di negara lain tak jelas, tetapi media Iran sebelumnya melaporkan bahwa Jepang memegang sekitar USD1,5 miliar, Irak menyimpan sekitar USD6 miliar, Cina sekitar USD20 miliar, dan India sekitar USD7 miliar.
Selain itu, AS juga disebut menyimpan sekitar USD2 miliar aset beku Iran. Negara-negara Uni Eropa juga disebut menyimpan aset beku Iran, seperti Luksemburg sekitar USD1,6 miliar.
Qatar juga disebut memiliki sekitar USD6 miliar aset Iran. Aset di Qatar ini merupakan jumlah yang dipindahkan dari Korea Selatan untuk membayar Iran, namun terblokir oleh AS.
Pentingnya Pembukaan Aset Beku untuk Iran
Sejak lama Iran mencoba untuk mencairkan kembali aset beku mereka di luar negeri. Namun, hal tersebut tampaknya makin penting dilakukan kini.
Ekonomi Iran sedang dalam krisis. Sanksi selama beberapa dekade telah membatasi ekspor minyaknya, investasi asing juga tak dapat leluasa menanamkan modal di Iran.
Di tengah situasi itu, terjadi lonjakan inflasi dan penurunan nilai mata uang pada 2025 lalu, pasca Perang 12 Hari melawan Israel dan AS. Gelombang protes besar-besaran pun terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026.
Belum cukup sampai di sana, pada 28 Februari 2026, AS dan Israel menyerang Teheran, menewaskan pejabat senior Iran termasuk Ali Khamenei dan memecah perang.
Bagi Iran, pencairan aset beku di luar negeri merupakan alat yang dapat digunakan untuk keluar dari jeratan krisis ekonomi itu. Nilai sebesar USD100 miliar setara dengan seperempat PDB negara tersebut.
Menurut Roxane Farmanfarmaian, direktur akademik dan dosen politik internasional Universitas Cambridge, aset ini dapat digunakan Iran untuk menata kembali perekonomiannya.
“Ini berarti Iran dapat memulangkan dana yang diperoleh dalam mata uang asing dari penjualan minyak, misalnya, kembali ke perekonomiannya sendiri. Ini juga akan memberikan kendali atas fluktuasi mata uangnya, dan dengan demikian menghindari kerentanan terhadap perubahan mata uang yang, misalnya, memicu protes Desember 2025,” katanya.
Selain menata ulang ekonominya, aset beku Iran itu juga dapat digunakan Teheran untuk memulai proyek pembangunan ulang infrastruktur yang rusak karena perang. Menurut Farmanfarmaian, aset beku Iran bisa mempercepat proses itu.
“Jelas, Iran juga harus membangun kembali setelah perang, dan aset yang dibebaskan akan segera membuat proses itu lebih cepat dan lebih efisien,” katanya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































