Menuju konten utama

Perang Iran Terkini: Benarkah Israel Punya Senjata Nuklir?

Meski Israel tidak mendapatkan tekanan terkait fasilitas nuklir, namun negara Zionis tersebut diduga kuat memiliki tempat untuk memproduksi bom nuklir.

Perang Iran Terkini: Benarkah Israel Punya Senjata Nuklir?
Ilustrasi Bom Atom. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepemilikan senjata nuklir oleh Israel merupakan pertanyaan yang kerap dipertanyakan banyak pihak. Pemerintahan Zionis itu juga tampak tak transparan dengan program nuklir mereka. Lantas, benarkah mereka punya senjata nuklir, dan jika iya di mana lokasi fasilitasnya?

Sebelumnya, program nuklir menjadi pembenaran yang diungkap Amerika Serikat (AS) dan Israel ketika memecah peperangan dengan Iran pada 28 Februari lalu. Sejak itu, ekonomi dunia jadi kian tak menentu. Harga sejumlah barang di Indonesia turut naik karenanya.

AS dan Israel menuduh bahwa Iran hanya tinggal sejengkal lagi memiliki senjata nuklir. Alasan itu membuat kedua negara menyerang Teheran dan menewaskan pejabat senior Iran, termasuk Ali Khamenei.

Jika menilik tentang senjata nuklir, AS merupakan satu-satunya negara di dunia yang pernah menggunakan senjata nuklir dalam pertempuran. Hal ini dilakukan AS pada 1945 ketika membom Kota Hiroshima dan Nagasaki, menyebabkan lebih dari 200.000 orang terbunuh.

Akan tetapi, bagaimana dengan Israel? Kepemilikan senjata nuklir oleh pemerintahan Zionis itu rupanya telah lama disangkakan banyak pihak. Israel sendiri mengonfirmasi dengan cara tak menampik secara langsung keberadaan senjata nuklirnya.

Menukil Al Jazeera, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu sempat ditanya terkait kepemilikan senjata nuklir oleh eks pembawa berita CNN Chris Cuomo. Netanyahu lalu memberikan jawaban yang penuh ambiguitas.

"Kami selalu mengatakan bahwa kami tidak akan menjadi orang pertama yang memperkenalkannya, dan kami belum memperkenalkannya ... Ini adalah jawaban paling bagus yang bisa Anda dapat," katanya.

Pernyataan Netanyahu tak secara eksplisit menyatakan kepemilikan senjata nuklir, tetapi juga tak secara eksplisit menyatakan bahwa mereka tak memiliki senjata nuklir. Banyak pihak menilai ambiguitas itu sengaja dipertahankan Israel demi mencegah tekanan internasional memaksa mereka melakukan transparansi pada program nuklir mereka.

Terlebih, Israel merupakan negara yang menolak Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). NPT adalah perjanjian global yang dirancang untuk mengekang penyebaran dan berkomitmen terhadap perlucutan senjata nuklir; serta mendorong penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai.

Sebanyak 191 negara anggota PBB menandatangani perjanjian tersebut. Iran menandatangani pakta tersebut, sementara Israel tidak.

"Logikanya cukup jelas: Ambiguitas dimaksudkan untuk menjaga pencegahan sekaligus menghindari beberapa dampak diplomatik, hukum dan politik yang mungkin timbul dari deklarasi terbuka, terutama mengingat bahwa Israel bukan pihak dalam NPT dan terus berada di luar kerangka NPT," kata Shawn Rostker dari Constellation Research Center.

Lantas, jika Israel diduga telah memiliki senjata nuklir, di mana lokasi fasilitas nuklir pemerintah Zionis itu berdiri?

Fasilitas Nuklir Israel dan Lokasinya

Israel diduga telah memulai program nuklir mereka sejak era 1950-an. Program nuklir ini mulai dibangun di bawah masa pemerintahan PM David Ben-Gurion. Kala itu, Prancis menjadi mitra utama Israel dalam hal ini.

Fasilitas nuklir Israel ini terletak di Dimona, di gurun Negev, Israel selatan. Fasilitas ini memiliki nama resmi Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres Negev.

Seturut Anadolu, lokasi fasilitas nuklir Dimona ini ditempatkan jauh dari pusat populasi. Meskipun terletak di Dimona, namun fasilitas ini berjarak 13 kilometer dari Kota Dimona dan 90 kilometer dari Yerusalem.

Fasilitas ini disebut terdiri dari 10 bangunan yang tersebar di area seluas 36 kilometer persegi. Pagar listrik mengelilingi fasilitas ini. Patroli juga diterapkan dan baterai rudal anti-pesawat disiagakan.

Fasilitas nuklir Israel ini juga disebut mencakup delapan laboratorium bawah tanah. Sekitar 2.700 ilmuwan dan teknisi diyakini bekerja di sana.

Meskipun Israel tak pernah secara gamblang menyatakan kepemilikan senjata nuklir, namun Stockholm International Peace Research Institute memasukkan pemerintahan Zionis itu dalam daftar negara bersenjata nuklir pada Juni 2025.

Menurut lembaga riset itu, Israel dinilai memiliki lebih dari 80 hulu ledak nuklir. Dimona diduga terkait dengan hulu ledak tersebut.

Reaktor Dimona juga dilaporkan mampu memproduksi sekitar 9 kilogram plutonium setiap tahun. Itu adalah jumlah yang cukup untuk satu bom nuklir dengan kekuatan ledakan 20 kiloton.

Fasilitas nuklir Israel ini sebelumnya merupakan lokasi rahasia. Namun, pada 1986, keberadaan fasilitas nuklir Dimona bocor.

Kebocoran itu terjadi ketika Mordechai Vanunu, seorang teknisi di fasilitas Dimona, mengungkap informasi keberadaan fasilitas itu dan membagikan foto-foto dari reaktor tersebut ke surat kabar Sunday Times di Inggris.

Dunia lalu mengetahui keberadaan fasilitas nuklir Israel itu. Namun Vanunu lalu diculik agen Israel. Ia diadili secara rahasia dan menghabiskan waktu 18 tahun di penjara.

Sebelum informasi tentang Dimona bocor, terjadi peristiwa misterius pada 1979. Terdapat kilatan ganda yang terdeteksi di Atlantik Selatan. Kilatan itu diduga merupakan uji coba nuklir rahasia. Israel dan Afrika Selatan era apartheid, diduga terlibat dalam uji coba.

Israel kala itu tak mengonfirmasi keterlibatannya, tetapi juga tidak menyangkalnya. Sikap ambiguitas ini dipertahankan hingga kini.

Namun, ambiguitas tersebut tidak hanya dianggap berbahaya karena ketiadaan transparansi dan akuntabilitas dalam program nuklir Israel. Analis Palestina Ahmed Najar menyebut hal ini juga berbahaya karena dunia tak tahu doktrin nuklir Israel.

Menurut Najar, dunia tak mengetahui bagaimana mekanisme pertahanan Israel terkait penggunaan senjata nuklir. Padahal, hal itu jadi mekanisme akuntabilitas yang ada di negara lain.

"Ada ambiguitas tidak hanya seputar kemampuan, tetapi juga seputar ambang batas penggunaan – dan itu ada tanpa mekanisme akuntabilitas yang diterapkan di tempat lain," tambahnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar