Menuju konten utama

Impor Bisa Naik, BI Dalami Dampak Tarif Trump 19% ke Ekonomi

Secara garis besar, Perry menilai bahwa kesepakatan tersebut mendukung prospek ekonomi nasional.

Impor Bisa Naik, BI Dalami Dampak Tarif Trump 19% ke Ekonomi
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan keterangan pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (18/12/2024). Bank Indonesia kembali mempertahankan suku bunga acuan BI atau BI 7-Day Reverse Repo Rate di level 6 persen untuk mempertahankan stabilitas perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian pasar keuangan global akibat arah kebijakan Amerika Serikat (AS) dan eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai wilayah. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nym.

tirto.id - Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus mendalami dampak dari kesepakatan dagang terbaru antara Indonesia dan Amerika Serikat terkait tarif 19 persen yang dikenakan terhadap sejumlah produk.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut, meskipun kesepakatan itu disambut positif, pihaknya akan mengkaji secara rinci potensi implikasinya terhadap pertumbuhan ekonomi, neraca perdagangan, dan pasar keuangan nasional.

"Kami akan terus mendalami dampaknya secara rinci, baik terhadap pertumbuhan ekonomi, neraca perdagangan, maupun pasar secara keseluruhan," ujar Perry dalam pernyataan resmi, Rabu (16/7/2025).

Menurut Perry, kesepakatan tersebut berpotensi meningkatkan impor Indonesia dari Amerika Serikat, terutama impor yang bersifat produktif. Meski demikian, kenaikan impor ini diharapkan dapat memberikan dorongan tambahan terhadap sektor investasi dan aktivitas ekonomi domestik.

"Tentu saja, hasil perundingan ini akan meningkatkan impor, dan tentu saja kita lihat impornya yang produktif, dan tentu saja pada akhirnya akan juga mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan, baik investasi maupun sektor yang lainnya," kata Perry.

Ia juga menilai bahwa ekspor Indonesia, termasuk ke AS, tetap akan menunjukkan performa yang baik meskipun terdapat ketentuan tarif baru. Dari sisi pasar keuangan, Perry melihat adanya dampak positif dalam bentuk kepastian dan kepercayaan yang meningkat dari pelaku pasar, baik dalam maupun luar negeri.

"Ini juga akan memperbaiki ekspektasi para pengusaha dan juga para pelaku di sektor keuangan dan perbankan untuk membuat keputusan-keputusan bisnis ke depan," jelasnya.

BI memastikan akan merilis hasil asesmen komprehensif dalam waktu mendatang. Namun secara garis besar, Perry menilai bahwa kesepakatan tersebut mendukung prospek ekonomi nasional dari berbagai sisi, termasuk stabilitas moneter, nilai tukar, dan pertumbuhan jangka menengah.

"Secara terperincinya tentu saja, pada waktunya, kami akan menyampaikan hasil asesmen secara rinci. Secara keseluruhan kami dapat sampaikan bahwa kami menyambut baik dan akan berdampak positif terhadap prospek ekonomi, baik pertumbuhan ekonomi, maupun nanti juga terhadap pasar keuangan termasuk juga moneter dan nilai tukar ke depan," tutup Perry.

Baca juga artikel terkait BANK INDONESIA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dwi Aditya Putra