tirto.id - Harga minyak dunia diperkirakan bisa melonjak hingga 150 dolar Amerika Serikat (AS) per barel dalam waktu dua hingga tiga minggu, jika Selat Hormuz masih tetap ditutup bagi kapal tanker.
Perkiraan ini disampaikan Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi kepada Financial Times dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada Jumat (6/3/2026).
Proyeksi ini juga disampaikannya hanya beberapa jam sebelum laporan bahwa Kuwait - salah satu anggota pendiri OPEC - mulai menghentikan produksi minyak di beberapa ladang minyak karena tidak ada tempat untuk menyimpan minyak lagi saat Selat Hormuz masih ditutup.
Mengutip Oil Price, menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Kuwait juga sedang mempertimbangkan pemotongan produksi lebih jauh lagi dan juga menyempurnakan operasi ke tingkat yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan di dalam negeri.
Meski begitu, belum jelas berapa banyak produksi minyak yang bakal dipangkas pemerintah Kuwait.
Di sisi lain, menurut al-Kaabi, yang juga presiden dan CEO QatarEnergy, semua eksportir minyak dan gas utama di Timur Tengah akan menyatakan force majeure pada ekspor dalam beberapa hari jika Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran vital tetap tertutup untuk lalu lintas kapal tanker.
Langkah ini diperkirakan merupakan langkah lanjutan, setelah sebelumnya perusahaan energi negara Qatar mulai menghentikan produksi LNG di pusat Ras Laffan, kompleks LNG terbesar di dunia pada awal pekan. Setelah itu, perusahaan-perusahaan juga mengeluarkan pemberitahuan force majeure kepada pembeli, menyusul serangan drone di fasilitas tersebut dan semua lalu lintas kapal tanker yang terhenti melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, menurut laporan Pusat Informasi Maritim Bersama, lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz telah menurun dari rata-rata 138 kapal per hari menjadi hanya dua dalam 24 jam hingga Kamis. Namun, dari dua kapal tersebut, tidak satupun yang melewati Selat Hormuz adalah kapal tanker.
Sebaliknya, ada beberapa lusin kapal tanker yang terdampar di dekat Hormuz, beberapa telah menjadi sasaran serangan, dan perusahaan asuransi telah menarik asuransi perang. Hal itu lantas membuat perdagangan energi di wilayah penghasil minyak terbesar di dunia lumpuh.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id



































