tirto.id - Di bawah rindangnya pohon depan Gedung DPR RI, riuh orasi Hari Buruh Internasional atau May Day, sejenak melenyap. Riuh orasi digantikan suara tawa kecil seorang balita, Lanin (5) di pangkuan ibunya, Titi Suhada.
Titi tak sekadar tengah beristirahat dan mengeringkan peluh dari sengatan matahari 1 Mei. Ia sedang mewariskan dan mengenalkan perlawanan dan perjuangan paling nyata untuk putrinya. Titi Suhada adalah massa dari Aliansi Gerakan Agraria (AGRA) yang bergerak mengorganisir petani, nelayan, hingga kelompok miskin perkotaan.
Trotoar yang panas, serta sesak dan riuhnya massa adalah ruang kelas terbaik mengenalkan arti perjuangan dan ketidakadilan yang harus dilawan sejak dini oleh Titi kepada Lanin.
Barangkali bagi Titi, pemahaman tentang keadilan tidak cukup diajarkan lewat kata-kata di dalam rumah. Itulah alasan, Titi memboyong putrinya, untuk merasakan langsung nuansa perjuangan di barisan Aliansi Gerakan Agraria (AGRA).
Di saat ribuan buruh menuntut kesejahteraan di bawah teriknya panas Jakarta, Lanin dan anak-anak lainnya menjadi pengingat bahwa beban berat regulasi yang dipersoalkan hari ini, adalah masa depan yang kelak akan mereka warisi.
“Jadi, saya ingin edukasi dia supaya melawan, supaya menjadi orang yang melek terhadap keadaan. Tidak hanya, "Oh, saya kasih tahu kamu harus begini," enggak,” kata Titi saat ditemui di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (1/5/2026).
Lewat aksi buruh, Titi ingin menjelaskan kepada anaknya tentang orang-orang yang digusur, petani yang kehilangan tanah, dan perjuangan yang mereka lakukan untuk bertahan.

Di mata Titi, wajar bila anak usia lima tahun seperti Lanin masih sering tak fokus dan banyak terdistraksi apabila diajaknya memperjuangkan nasib buruh. Terpenting, bagi Titi, soal bagaimana anaknya memercayainya dan merasa dekat baik secara fisik maupun nonfisik.
Langkah Titi didukung penuh oleh suaminya yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal AGRA. Baginya, membawa Lanin, hal yang lumrah karena di usia lima tahun, sang anak masih memiliki keterikatan kuat dengan ibunya, sehingga ia harus selalu mendampingi ke mana pun orang tuanya pergi.
“Justru karena dia usia 5 tahun itu, kan, dekat dengan Ibu ya, jadi ke mana pun orang tuanya, dia harus ikut,” kata dia.
Perempuan asal Nusa Tenggara Barat (NTB), itu memiliki pengalaman menjadi koordinator petani sayur di wilayah pegunungan. Hal itu membuatnya mengetahui persoalan agraria yang belum terselesaikan hingga saat ini.

“Sama kayak basis kami yang di Jawa Barat di Pangalengan, itu juga sayur-sayuran. Kalau yang Kalimantan kan lebih ke sawit, yang hutan gitu. Beda-beda,” katanya.
Tak berbeda dengan Titi, buruh perempuan asal Subang bernama Nia, tampak sesekali menyeka keringat di dahi putranya yang berusia delapan tahun. Nia membawa sang buah hati ke tengah riuhnya demo bukan karena kesengajaan. Alasannya sederhana: ketakutan ketika anak ditinggal sendiri.
Bagi Mia, keputusan membawa anaknya bukan tanpa pertimbangan. Ia tahu risiko kelelahan, sengatan panas, dan situasi yang tidak selalu nyaman bagi anak-anak. Namun, keinginan sang anak yang kuat membuatnya mengalah meski kekhawatiran tetap ada.
Namun, dia berharap anaknya kelak bisa menuai hasil perjuangannya terhadap nasib buruh. Menjadi pekerja yang sejahtera.
“Khawatir kalau ditinggal, anak sendirian. Mending diajak saja,” kata Nia saat ditemui.
Fenomena anak-anak yang ikut aksi bukan hal baru dalam peringatan May Day. Di sekitar Mia, cukup banyak buruh lain yang juga membawa anak mereka. Bahkan, beberapa di antaranya masih berusia lebih kecil.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































