tirto.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan soal malaria knowlesi atau lebih dikenal dengan monkey malaria atau malaria monyet yang tengah menyerang Malaysia dengan satu kasus meninggal dunia. Sementara, ada 30 kasus penularan di Aceh.
Dokter Inke Nadia Diniyanti Lubis yang tergabung dalam Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, menjelaskan bahwa penyakit ini tidak dapat menular antar manusia melainkan menular melalui gigitan nyamuk.
"Penularannya harus melalui gigitan nyamuk yang membawa parasit, lalu digigit kembali masuk melalui darah, jadi bukan melalui makanan, bukan melalui udara, ataupun dengan kontak," kata Inke saat konferensi pers secara daring, Rabu (13/5/2026).
Dia menjelaskan malaria monyet ini hanya salah satu dari melonjaknya jenis penyakit yang ditularkan dari hewan. Kata Inke, malaria monyet ini adalah malaria zoonotik yang disebabkan oleh parasit plasmodium knowlesi yang alaminya menginfeksi monyet ekor panjang dan beruk, lalu menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Aanopheles tertentu.
Inke mengatakan penularan malaria monyet ini sama seperti penularan penyakit demam berdarah. Selain itu, tidak semua monyet dapat terinfeksi parasit ini.
Kata Inke, meski penularan bisa terjadi lewat gigitan monyet, namun monyet yang umumnya berada di hutan jarang turun ke perkebunan atau berinteraksi dengan manusia. Nyamuk menjadi perantara yang harus dihindari, karena lebih mudah berada di pemukiman masyarakat.
Inke menyebut kesehatan hewan sangat mempengaruhi kesehatan manusia. Sementara, kesehatan manusia bergantung pada kesehatan hewan dan lingkungan.
Lebih lanjut, Inke juga mengatakan bahwa lokasi yang rawan penularan malaria monyet adalah wilayah dekat hutan, dan wilayah yang mengalami alih fungsi lahan.
"Karena terjadi alih fungsi lahan, manusia masuk ke dalam habitat yang baru, sehingga berbagi ruang yang sama dengan monyet, yang memang merupakan habitat awalnya, dan juga dengan nyamuk yang dapat menularkan kuman tersebut," tutur Inke.
Oleh karena itu, Inke mengingatkan bahwa malaria monyet dapat berakibat fatal jika telat ditangani dan akan pulih dengan lengkap atas penanganan yang cepat.
Kata Inke, proses diagnosa dan pemantauan harus dikedepankan dibanding menakuti masyarakat atas malaria monyet ini.
Dia menyebut, harus dilakukan program one health untuk mengahadapi hal ini dengan adanya kerja sama antara Kemenkes, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, dan pemerintah daerah.
Selain itu, perlu juga dilakukan penguatan pada kader dan nakes dengan diadakan pelatihan curiga knowlesi di puskesmas pinggir hutan dan dilakukan algoritma rujukan PCR. Kemudian, perlu pula dilakukan pengurangan konflik antara manusia dan monyet dengan menjaga zona penyangga hutan.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































