Herman Wijaya
Penulis lepas

Hoaks Cut Zahara Fona, Ratna Sarumpaet, & Ceteknya Nalar Politikus

4 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
Pada dekade 1970-an, Indonesia pernah dihebohkan kebohongan besar. Seorang wanita bernama Cut Zahara Fona mengaku mengandung janin ajaib. Perempuan asal Aceh itu bilang janinnya bisa bicara, bahkan mampu melafalkan ayat-ayat suci Alquran. Barang siapa hendak mendengar suara si janin cukup menempelkan kuping ke perut wanita yang tengah “hamil” tersebut.

Masyarakat awam, ulama, pejabat tinggi, menteri, hingga wakil presiden percaya dengan keajaiban “janin” kandungan Cut Zahara Fona, yang bahkan sempat diundang ke Istana Wapres. Wakil Presiden Adam Malik ketika itu menempelkan kupingnya di perut Cut Zahara Fona untuk mendengar lantunan ayat suci Alquran.

Sekretaris Pengendalian Pembangunan Bardosono (kemudian dikenal Ketua Umum PSSI) akhirnya mempertemukan emak-emak ajaib itu dengan Presiden Soeharto dan Ibu Tien di Bandara Kemayoran. Namun, Ibu Tien rupanya curiga sehingga terbongkarlah aksi penipuan Cut Zahara Fona. Kisah petualangan penipuan perempuan tamatan SD itu pun berakhir. Ia tak pernah terdengar lagi kabarnya.


Cut Zahara Fona sebetulnya sekadar cari uang dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Ia menyimpan tape recorder yang dibungkus dan ditempelkan di perutnya. Pada 1970-an, tape recorder masih asing di Indonesia. Masyarakat Indonesia baru mengenal kotak ajaib yang mengeluarkan suara seperti radio atau televisi—itu pun belum banyak terlihat di rumah orang kebanyakan.

Kini, hampir 50 tahun setelah kasus penipuan Cut Zahara Fona, kita kembali dihebohkan oleh kasus "penganiayaan" terhadap aktivis Ratna Sarumpaet.

Tiba-tiba saja berita tentang penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet mencuat dan bikin heboh karena pengakuan Ratna diperkuat oleh tokoh-tokoh penting, dari kalangan aktivis, politikus, anggota legislatif, tokoh-tokoh terkenal hingga capres dan cawapres.

Ratna Sarumpaet mengaku dianiaya tiga orang tak dikenal di Bandara Husein Sasranegara, Bandung, pada 21 September 2018. Ketika itu, demikian klaim pabrika cerita ini, Ratna baru saja mengantar seorang tamu asing yang akan naik pesawat dari Bandung ke Jakarta.

Ketika pulang, taksi yang ditumpanginya distop orang tidak dikenal. Ratna dipukuli di dalam mobil. Foto-foto wajah Ratna Sarumpaet dengan wajah babak belur kemudian beredar secara cepat di media sosial dan media online.

Ratna Sarumpaet tidak melaporkan kasus itu kepada polisi. Ketua Dewan Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Habiburokhman mengatakan Ratna Sarumpaet merasa pesimis bila melaporkan dugaan penganiayaan yang menimpa dirinya ke pihak kepolisian.

Habiburokhman menyebutkan Ratna khawatir jika laporannya tak ditindaklanjuti, selain trauma seandainya kasus itu akan berlanjut di kemudian hari.


Kasus yang dialami Ratna Sarumpaet langsung menghebohkan jagat media sosial dan memancing berbagai reaksi.

Calon presiden bernomor urut 02 Prabowo Subianto menyebut penganiayaan yang menimpa aktivis Ratna Sarumpaet di luar perikemanusiaan dan telah melanggar hak asasi manusia.

Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional Koalisi Adil Makmur Amien Rais mengaku akan segera menemui Kapolri Jendral Tito Karnavian terkait aksi penganiayaan yang dialami oleh Ratna Sarumpaet.

Wakil Ketua DPR yang juga Wakil Umum Partai Gerindra Fadli Zon—yang sempat terlihat berfoto bersama Ratna Sarumpaet—menduga ada motif politik di balik penganiayaan terhadap Ratna.

Komentar para tokoh ini seperti ayunan tongkat dirigen di hadapan sebuah kelompok koor. Seperti gambaran watak pengguna sosial, tak hanya komentar-komentar yang objektif yang muncul; tak sedikit pula yang nyinyir, bahkan memaki.

Netizen yang kritis mencoba menganalisis gambar-gambar wajah wanita babak belur yang disebut-sebut sebagai wajah Ratna Sarumpet dan kronologi kejadian. Mereka ragu atas kebenaran berita tersebut.

Pihak kepolisian yang merasa disudutkan dengan berita penganiayaan Ratna Sarumpaet juga tak tinggal diam. Polda Jabar melakukan pengumpulan bukti-bukti untuk mencari kebenaran berita tersebut. Semua rumah sakit di Bandung yang berdekatan dengan Tempat Kejadian Perkara didatangi: 23 RS di Bandung menyatakan tidak pernah ada pasien bernama Ratna Sarumpaet yang datang pada tanggal 21 September 2018 atau sesudahnya.

Otoritas Banda Husein Sastranegara juga mengatakan tidak pernah ada kejadian penganiayaan pada malam 21 September tersebut.


Hasil penyelidikan Polda Metro Jaya menguatkan penyelidikan Polda Jabar. Pertama dari nomor telepon seluler Ratna yang dinyatakan aktif di Jakarta, bukan di Bandung, pada 20-24 September 2018.

Sementara dari pengecekan rekening Ratna dan anaknya, ada tiga kali dana keluar yang didebet di Rumah Sakit Khusus Bedah Bina Estetika, masing-masing Rp25 juta pada 20 September 2018, Rp25 juta pada 21 September, dan Rp40 juta pada 24 September 2018.

Polisi juga sudah meminta keterangan ke RS Bina Estetika dan memperoleh informasi bahwa Ratna Sarumpaet menjadi pasien di rumah sakit tersebut pada 20, 21 dan 24 September 2018. Hal ini diperkuat rekaman CCTV di klinik tersebut dan buku daftar pasien. Kesimpulan polisi, Ratna Sarumpaet bukan dianiaya, tapi operasi plastik.


Panggung buat Ratna?

Klaim penganiayaan oleh Ratna Sarumpaet terbukti sebagai hoaks.

Namun, beredarnya berita itu tetap menyisakan pertanyaan. Pertama, untuk apa kabar bohong disiarkan? Kedua, mengapa para tokoh nasional, orang-orang penting negeri ini, begitu mudah percaya—bahkan menyebarluaskan—suatu kabar yang belum dipastikan kebenarannya?

Jawabannya mungkin seperti ini. Bagi seorang Ratna Sarumpaet, aktivis yang kerap mengkritisi pemerintah, isu-isu baru perlu dilempar dan dibuat heboh untuk menyerang pemerintah. Dalam kehidupan demokrasi yang sehat, serang-menyerang bukanlah tabu. Namun, problemnya, apakah serangan itu punya substansi yang kuat dan berjangkar pada kenyataan?

Ratna pernah melempar rumor penjualan PT. Dirgantara Indonesia kepada RRC. Belakangan, ia minta maaf karena telah menyebar hoaks. Penjualan yang ia tuduhkan itu tak pernah ada.


Ratna juga pernah membuat tudingan bahwa pemerintah telah memblokir uang bantuan untuk Papua sebesar Rp23,9 triliun yang sebelumnya diklaim Ratna berada di rekening seseorang bernama Ruben PS Marey. Ia menuduh pemerintah telah memblokir rekening Marey sehingga dana dari Bank Dunia tidak masuk. Pemerintah membantah klaim itu seraya berargumen bahwa Kementerian Keuangan dan Bank Dunia tak punya kewenangan untuk menangani rekening perorangan.

Celakanya, gendang yang ditabuh Ratna telanjur membuat banyak orang menari.

Hoaks yang dilempar Ratna Sarumpaet kali ini lebih menarik perhatian ketimbang rumor tentang penjualan PT DI dan pemblokiran rekening untuk bantuan Papua. Pasalnya, masyarakat Indonesia mudah tersentuh hatinya bila melihat ada orang teraniaya.

Bagi lawan-lawan Jokowi, ini adalah amunisi bagus untuk diledakkan untuk memperkuat kesan bahwa pemerintah lemah dalam melindungi warga negara, bahkan bertindak represif terhadap lawan politiknya. Karena selama ini kuat pula tudingan bahwa aparat keamanan tidak independen, maka akan jadi tamparan hebat bagi polisi seandainya Ratna benar-benar dianiaya.

Namun, fakta akhirnya terungkap dari mulut Ratna sendiri. Ratna rupanya bukan korban penganiayaan. Lebam di wajahnya disebabkan oleh operasi plastik yang baru dijalaninya. Bukti-bukti yang dikumpulkan kepolisian pun menguatkan argumen itu.

Dampak dari hoaks ini tidak ringan, khususnya di tahun politik. Taruhannya adalah akal sehat dan proses demokrasi itu sendiri.


Hari ini, kebohongan Cut Zahara Fona mungkin terdengar konyol. Dua puluh tahun lagi, kelakukan Ratna Sarumpaet pun hanya akan jadi lelucon yang sama sekali tidak politis. Tapi, bobot kasus Ratna dan Cut Zahara Fona boleh jadi berbeda.

Di era Soeharto, efek kebohongan ala Cut Zahara Fona bisa dilokalisir dan mungkin sangat terbatas dampak politisnya, apalagi tak ada pemilu bebas di zaman itu. Tak demikian dengan hoaks Ratna Sarumpaet hari ini.

Kedua kasus juga mencerminkan betapa elite politik kita gampang teperdaya, mudah percaya kabar bohong, tapi enteng bicara. Celakanya, tingkah polah dan omongan mereka seringkali diikuti dan dipercaya tak sedikit orang, khususnya jelang pemilu.

Mudah-mudahan akrobat murahan ini tak mengalihkan perhatian dan kerja-kerja konkret untuk membantu para korban bencana di Lombok, Palu, dan Donggala.

*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.