tirto.id - Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, menyoroti praktik manipulasi atau “goreng-menggoreng” saham di pasar modal Indonesia.
Ia mengaku terkejut menemukan saham-saham dengan price to earnings ratio (PER) yang tidak wajar, bahkan mencapai 4.000 kali.
"Jadi, rupanya ada saham-saham dengan kelipatan, kelipatan PE 167, yang lain 300, satu dengan 1.200 kali, dan satu 4.000 kali. Saya terkejut," kata Hashim di Hotel St Regis, Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Hashim mempertanyakan logika valuasi saham yang melambung tinggi tanpa didukung kinerja fundamental. Bahkan, perusahaan-perusahaan ini menurut tidak menghasilkan uang sama sekali.
"Bisakah Anda bayangkan perusahaan dengan kelipatan PE 4.000 dan tidak menghasilkan uang sama sekali? Dan free float 1 persen, 1,5 persen," ucapnya.
Ia kemudian membandingkannya dengan perusahaan global seperti NVIDIA yang memiliki PER 60 kali, namun menghasilkan arus kas puluhan miliar dolar.
PER sendiri merupakan rasio yang membandingkan harga saham perusahaan dengan laba bersih per saham. PER digunakan investor untuk menilai mahal atau murahnya valuasi saham, serta mengukur potensi imbal hasil.
Makin tinggi PER, makin tinggi harga saham dan biasanya mencerminkan minat yang makin besar dari investor, begitu pula sebaliknya.
"Jadi bagaimana Anda bisa membandingkan perusahaan seperti NVIDIA yang menghasilkan arus kas puluhan miliar dolar, dan kemudian perusahaan Indonesia, Anda tahu, perusahaan kecil, tidak menghasilkan uang, dengan rasio PE 4.000," papar Hashim.
Menurutnya, fenomena ini menunjukkan indikasi kuat adanya praktik tidak sehat di pasar modal. "Jelas ada tindakan keliru, ada indikasi saya pikir korupsi, dan perilaku buruk," tegasnya.
Meski mengkritik praktik tersebut, Hashim menyatakan optimisme terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Ia mengaku baru saja bertemu dengan tiga menteri yang juga sangat optimis.
"Sekarang hanya soal membersihkan telur-telur busuk, ya, dan saya pikir kita akan melakukannya," ujarnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id







































